Mampukah Trump Melemahkan Dolar jika Jadi Presiden?
Oleh Tri Winarno,
Mantan Ekonom Senior Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID -- Jika mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada 2025 – dan sebagian besar pasar bertaruh masih memiliki peluang 60% atau lebih Trump menang – akankah ia mampu melemahkan dolar seperti yang sangat diinginkan? Keyakinan Trump adalah sesuatu harus dilakukan untuk mengembalikan sektor manufaktur Amerika ke kejayaannya, dan ia percaya cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut dengan mengenakan tarif impor tinggi dan mendevaluasi dolar.
JD Vance (cawapres pasangan Trump), dalam perjalanannya dari Never Trumper ke Forever Trumper, telah berulang kali berargumen bahwa penguatan dolar saat ini melemahkan daya saing tenaga kerja Amerika. Argumen itu tidak masuk akal bagi media, karena lebih terdengar seperti pembicaraan tentang olahraga dibandingkan ekonomi yang membosankan. Tanggapan para komentator pun sebagian besar terfokus pada betapa kecilnya pengaruh presiden AS terhadap pasar nilai tukar global.
Yang pasti, ada sejarah panjang presiden dan menteri keuangan yang mencoba, dan gagal, untuk menaikkan atau menurunkan dolar. Selain itu, banyak pihak memperkirakan momok pemotongan pajak dan tarif impor tinggi Trump pada kenyataannya akan menaikkan suku bunga dan memperkuat dolar.
Baca Juga
Kurs Rupiah Melesat Imbas Dolar Melemah, Tembus Rp 15.952/USD
Dengan penguatan dolar yang spektakuler akhir-akhir ini, maka para turis Amerika sangat gembira berjalan-jalan di Eropa dan Asia di musim panas. Mereka merasakan dolar memang kini sangat kuat, apalagi kalau diukur menggunakan nilai metrik dolar yang memperhitungkan daya beli berbagai mata uang.
Ukuran itu disebut sebagai nilai tukar dolar riil yang disesuaikan dengan inflasi relatif, terhadap mitra dagang utama Amerika. Nilai tersebut menunjukkan bahwa greenback jauh di atas tingkat normal dalam sejarah. Dan puncaknya terjadi seperti pada 1985 dan 2002, di mana dolar akhirnya turun tajam pada tahun-tahun berikutnya.
Nilai tukar memang terkenal sulit untuk dijelaskan, apalagi diprediksi. Namun, satu keteraturan empiris di berbagai pasangan mata uang dan keadaan historis adalah bahwa cenderung ada konvergensi kembali ke nilai tukar riil, setiap kali nilai tukar riil jauh di luar garis keseimbangannya.
Kecepatan penyesuaiannya tentu ada jeda, biasanya memakan waktu sekitar tiga tahun agar overvaluation nilai tukar riil berkurang setengahnya, namun hal ini cukup terlihat dalam data. Dan, penyesuaian riil tidak harus terjadi melalui nilai tukar itu sendiri, hal ini mungkin disebabkan oleh inflasi yang lebih tinggi di negara-negara mitra dagang AS.
Artinya, pernyataan bahwa dolar terlalu kuat ada benarnya. Selain itu, hal ini menyiratkan bahwa Trump kemungkinan besar akan beruntung dengan dolar, bahkan jika dia tidak melakukan apa pun. Hal yang sama juga berlaku jika Kamala Harris memenangkan kursi kepresidenan.
Kasus Jepang dan Dampaknya
Kasus Jepang yang masih merupakan negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia adalah contoh yang baik, meski ekstrem, mengenai dinamika ini. Selama tiga tahun terakhir, yen telah kehilangan sekitar sepertiga nilainya terhadap dolar, meskipun inflasi kumulatif di Amerika Serikat jauh lebih tinggi. Jepang telah berjuang untuk mempertahankan inflasi sebesar 2%, sementara inflasi AS selama masa kepresidenan Joe Biden telah mendekati angka 20%.
Sebelumnya, Jepang merupakan salah satu negara maju dengan biaya kunjungan termahal di dunia, namun kini menjadi salah satu negara dengan biaya termurah. Renminbi Tiongkok juga mengalami pelemahan yang signifikan terhadap dollar.
Kekuatan apa yang akan mendorong mata uang seperti yen dan renminbi kembali naik? Salah satu alasannya adalah Amerika berada pada titik yang berbeda dalam siklus suku bunganya. Suku bunga jangka panjang AS kemungkinan akan tetap jauh di atas tingkat sebelum pandemi, namun suku bunga jangka pendek diperkirakan akan turun, sementara suku bunga Jepang kemungkinan akan naik.
Selain itu, melemahnya yen memberikan tekanan pada harga-harga di Jepang, yang harus mengimpor sebagian besar komoditas (termasuk minyak yang dihargai dalam dolar). Di sisi lain membanjirnya impor berbiaya rendah dari Jepang membantu mengendalikan inflasi AS.
Sementara, negara-negara Asia sangat ingin mengekspor barang ke AS menjelang Trump menjadi presiden, sehingga biaya untuk mengamankan kapal kontainer di Asia Timur pun meroket.
Sulit Prediksi Waktunya
Memprediksi waktu yang tepat dari penurunan nilai riil dolar adalah permainan yang sulit. Dolar bisa saja naik lebih jauh sebelum mulai melemah, tidak peduli apa yang dikatakan Trump di situsnya. Sayangnya, bahkan jika dolar melemah dalam waktu dekat, hal ini tidak akan menyurutkan semangat pemerintahan Trump yang kedua untuk terus menerapkan kebijakan tarif impor tinggi, yang oleh Trump dan Vance dianggap sebagai solusi yang bijaksana dan efektif secara politik.
Selain menerapkan tarif impor yang tinggi, kita mungkin berekspektasi bahwa pemerintahan Trump tidak akan mencoba melakukan intervensi terhadap pasar valuta asing, misalnya dengan menggunakan kontrol modal yang ketat untuk menjaga agar dolar tetap lemah, atau dengan menekan Federal Reserve agar dolar semakin melemah. Namun, Trump dan Vance memang benar mengenai besarnya biaya yang harus ditanggung perekonomian AS karena kuatnya nilai tukar dolar, karena akan melemahkan daya saing perekonomian negaranya di pasar global.
Baca Juga
India Sumbang Surplus Perdagangan Indonesia Terbesar, Cina Penyebab Defisit Terdalam
Dengan demikian, sudah dapat dipastikan jika Trump kembali ke Gedung Putih di Januari 2025, mata uang dunia akan menguat terhadap dolar, dan itu tentu baik bagi perekonomian di negara emerging markets yang selama ini tertekan oleh apresiasi dolar sangat spektakuler. Sehingga, bagi para pejabat bank sentral di emerging markets, terpilihnya Trump akan membuat mereka bisa tidur lebih nyenyak. Dan, perkiraan saya, tidak sampai menunggu tahun depan, dolar akan melemah terhadap sebagian besar mata uang utama dunia jika Trump terpilih pada November 2024.
Banyuwangi, 8 Agustus 2024

