Rupiah Bergerak Melemah di Hadapan Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (31/8/2026). Dolar AS meredam penguatan rupiah, akibatnya Mata Uang Garuda melemah 0,34% ke posisi Rp 17.754 per dolar AS.
Pelemahan dolar AS terjadi di tengah menguatnya nilai tukar sejumlah mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang terpantau menguat 0,18%, yuan China dan won Korea Selatan menguat 0,08%, rupee India menguat 0,17%, dan dolar Singapura menguat 0,05%.
Sementara itu, baht Thailand dan ringgit Malaysia melemah masing-masing 0,16% dan 0,20%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencermati bahwa indeks dolar AS atay DXY menguat 0,55% menjadi 99,70. Ini terjadi karena pernyataan Ketua the Fed, Kevin Warsh yang memperkuat sinyal bahwa suku bunga AS dapat bertahan lebih tinggi atau bahkan kembali meningkat.
Baca Juga
Perhatian pasar kini beralih ke data ISM Manufacturing PMI AS pada Selasa, yang diperkirakan berada di 55,3 dibandingkan 55,6 sebelumnya, serta data lowongan kerja JOLTS. Fokus berikutnya adalah laporan ketenagakerjaan Agustus yang akan dirilis pada Jumat.
Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC September 2026 meningkat tajam menjadi sekitar 57%, dari sekitar 35% sebelum pidato Warsh. Warsh menegaskan bahwa target inflasi The Fed sebesar 2% tetap merupakan “target yang tegas dan tidak berubah”, serta mencatat bahwa inflasi yang mendasari belum menunjukkan perbaikan yang memadai.
Warsh mengatakan bahwa suku bunga jangka pendek tetap menjadi instrumen kebijakan utama The Fed. Oleh karena itu, laporan ketenagakerjaan Agustus akan menjadi sangat penting. Konsensus saat ini memperkirakan nonfarm payrolls (NFP) bertambah 45 ribu, setelah sebelumnya turun 23 ribu, sementara tingkat pengangguran diperkirakan naik menjadi 4,2% dari 4,1%.
Di sisi lain, risiko geopolitik kembali meningkat selama akhir pekan, mendorong harga minyak mentah Brent kembali menembus US$ 90 per barel.
Kondisi harga minyak yang terdongkrak terjadi karena pasukan AS menyerang dua peluncur Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz, pada Minggu. Serangan tersebut merupakan serangan AS pertama yang diketahui terhadap Iran sejak akhir Juli. Harga Brent melonjak 2,5% menjadi sekitar US$ 90,3 per barel pada perdagangan awal Senin di Asia, membalikkan sebagian penurunan pekan lalu dan kembali meningkatkan risiko kenaikan inflasi global.
