Rupiah dan Mata Uang di Dunia Kompak Bergerak Menguat Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dan hampir seluruh mata uang di dunia kompak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah menguat 0,72% ke posisi Rp 17.732 per dolar AS pada Senin (15/6/2026) pukul 09.22 WIB.
Tak hanya rupiah, hampir seluruh mata uang dunia kompak menguat terhadap dolar AS. Dua mata uang acuan lain yaitu euro dan poundsterling Inggris Raya menguat masing-masing 0,23% dan 0,20%.
Di kawasan Asia, yen Jepang terpantau menguat 0,03% terhadap dolar AS. Disusul yuan China yang menguat 0,06%, rupee India menguat 0,67%, ringgit Malaysia menguat 0,18%, peso Filipina menguat 0,3%, dolar Singapura menguat 0,16%, dan baht Tailan yang menguat 0,51%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan investor menyambut baik tercapainya kesepakatan penting untuk mengakhiri konflik antara AS dan Iran, yang membuka jalan bagi kembali beroperasinya Selat Hormuz. Kesepakatan yang dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni 2026 dilaporkan mencakup pencabutan blokade, pelonggaran sanksi terhadap Iran, serta dibongkarnya program nuklir Teheran.
Baca Juga
IHSG dan Rupiah Menguat, Danantara: Bukti Investor Percaya Fundamental Ekonomi RI
“Harga minyak turun ke level terendah dalam dua bulan setelah pengumuman tersebut, sehingga meredakan kekhawatiran mengenai peningkatan inflasi dan risiko kenaikan suku bunga,” kata Andry.
Sinyal bahwa AS dan Iran semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri konflik mereka akan membuat prospek pasokan energi dari Timur Tengah tetap menjadi perhatian utama pasar global.
Pekan ini, Federal Reserve (The Fed) akan memutuskan tingkat suku bunga kebijakannya dalam rapat pertama yang dipimpin Ketua Jerome Warsh. Dari sisi kebijakan moneter global, Bank of England (BoE), Bank of Japan (BoJ), Reserve Bank of Australia (RBA), Swiss National Bank (SNB), dan Bank Indonesia juga akan mengumumkan keputusan suku bunga masing-masing.
Indeks Dolar AS (DXY) naik ke sekitar 99,8, namun tetap tertekan oleh berkurangnya permintaan aset safe haven, setelah Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa perjanjian damai dengan Iran dapat ditandatangani paling cepat akhir pekan ini di Eropa.
