Bagikan

Rupiah Dibuka Melemah Terhadap Dolar AS, Bertengger di Posisi Rp 17.697 per US$

Poin Penting

Rupiah melemah ke Rp17.697/US$ karena investor menanti data neraca transaksi berjalan dan respons geopolitik Iran.
Sentimen The Fed yang hawkish dan penutupan Selat Hormuz menjaga harga minyak tetap tinggi, menekan mata uang global.
Kebijakan ekspor komoditas baru Presiden Prabowo dan kenaikan BI Rate memicu sikap hati-hati di pasar domestik.

JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (22/5/2026). Posisi dolar AS melemah 0,17% dan berada di posisi Rp 17.697 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial, Lukman Leong memperkirakan rupiah akan berkonsolidasi terhadap dolar AS.

“Investor wait and see rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I-2026 Indonesia. Investor juga masih mengantisipasi respon Iran terhadap proposal AS yg terbaru,” kata Lukman, Jumat (22/5/2026).

Sementara itu, pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan kondisi geopolitik Timur Tengah yang belum stabil, namun memasuki babak akhir. Presiden AS, Donald Trump menyebut bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan dengan baik.

Namun Trump juga memperingatkan bahwa ketidakmampuan untuk mencapai kesepakatan akan memicu lebih banyak aksi militer AS terhadap Iran, sehingga membatasi optimisme pasar secara luas. Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup, sehingga harga minyak relatif tetap tinggi meskipun terjadi penurunan tajam awal pekan ini.

Baca Juga

Jurus BI Balikkan Posisi Rupiah Terhadap Dolar AS: Naikkan BI Rate dan Ubah Struktur Bunga SRBI

Risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan April yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa mayoritas pejabat Federal Reserve (Fed) memperingatkan bahwa bank sentral kemungkinan perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi terus berada di atas target 2% mereka.

Di dalam negeri, investor menghindari risiko setelah Presiden Prabowo Subianto memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batubara, dan ferro alloy, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara.

“Kehati-hatian juga meningkat menjelang data neraca transaksi berjalan kuartal pertama yang akan dirilis Jumat, menyusul defisit kuartal keempat yang didorong oleh kesenjangan harga minyak yang lebih lebar,” ujar Ibrahim.

Di sisi lain, keputusan BI menaikkan BI Rate tentu telah ditimbang matang-matang, dan hal ini dilakukan sebagai langkah pre-emptive yang terukur untuk merespons dinamika ketidakpastian global. BI tentu berkepentingan untuk menjaga nilai tukar dan stabilitas rupiah.

Meskipun langkah ini akan menimbulkan beban tambahan pada biaya pinjaman, Keputusan ni diharapkan dapat melindungi rupiah dari proses pelemahan yang lebih dalam.

“Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan, tidak hanya bekerja sebagai instrumen teknis untuk mengendalikan permintaan dan arus keluar modal,” ujar dia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024