Rupiah Kembali Dibuka Menguat Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (7/5/2026). Rupiah dibuka terapresiasi menguat 0,30% menjadi Rp 17.336 per US$ berdasarkan papan data Bloomberg.
Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga bergerak menguat. Yen Jepang menguat 0,15%, yuan China menguat 0,12%, ringgit Malaysia menguat 0,37%, peso Filipina menguat 0,96%, dan dolar Singapura menguat 0,09%. Sementara itu, baht Tailan melemah 0,15%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatay indeks dolar AS atau DXY turun ke level 97,9, kembali ke level sebelum perang. Ini karena seiring meningkatnya optimisme terhadap potensi penyelesaian konflik dengan Iran yang menekan mata uang tersebut.
"Harapan tercapainya kesepakatan memicu penurunan tajam harga minyak, sehingga membantu meredakan kekhawatiran inflasi,"ujar Andry.
Baca Juga
Andry juga mencatat imbal hasil UST tenor 10 tahun turun 7,52 bps ke 4,35%. Penurunan terjadi didorong oleh harapan bahwa AS dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Laporan menyebutkan kedua pihak semakin dekat pada nota kesepahaman satu halaman yang terdiri dari 14 poin untuk mengakhiri perang dan berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. Langkah kni sekaligus membentuk kerangka untuk pembicaraan nuklir yang lebih rinci.
Presiden AS Trump mengingatkan bahwa kesepakatan tersebut belum final dan menyebut tentang “asumsi besar” jika Iran menerima proposal tersebut, sambil mengancam akan melanjutkan serangan militer apabila Iran gagal mematuhinya.
Dari dalam negeri AS, data terbaru menunjukkan ekspor minyak AS naik ke rekor tertinggi pekan lalu. Kenaikan terjadi karena banyak negara mulai beralih ke pasokan dari AS di tengah kelangkaan yang terkait dengan konflik tersebut.
Kontrak berjangka minyak mentah WTI stabil di atas US$ 95 per barel pada Kamis pekan lalu setelah sebelumnya sempat anjlok hingga 13,3% ke US$ 88,66 pada sesi sebelumnya, seiring investor mempertimbangkan peluang tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.

