Rupiah Melemah 2,39% Sejak Awal 2026, BI Janji Optimalkan Instrumen Moneter 24 Jam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) melihat adanya depresiasi sejumlah mata uang terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Selama year to date, BI melihat rupiah terdepresi sebesar -2,39%. BI akan mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter yang dimiliki secara terukur, berlanjut, dan berkala.
“Jadi pergerakan nilai tukar ini, kita enggak sendirian. Beberapa negara mengalami yang sama,” kata Destry, saat menjadi pembicara kunci di Central Banking Forum 2026, di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Depresiasi yang dialami rupiah masih lebih baik dibandingkan won Korea Selatan sebesar 2,96% dan rupee India sebesar 3,08% secara tahun berjalan.
Baca Juga
Sementara itu, sejak perang di Timur Tengah pada Februari 2026, rupiah melemah 1,91% atau masih lebih baik dibandingkan beberapa negara emerging market. Sejak perang berkecamuk, dolar Taiwan terdepresiasi 1,62%, ringgit Malaysia terdepresiasi 1,84%, dan rupee India.
Destry mengatakan akan mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter yang dimiliki secara terukur, berlanjut, dan berkala. BI akan melihat momentum masuk ke pasar, termasuk pasar spot dalam negeri dan luar negeri. “Kita juga akan memperluas basis pelaku, untuk NDF (non-deliveriable forward] di luar,” kata dia.
Langkah memperluas basis pasar NDF ini untuk mengantisipasi lonjakan ketika perdagangan telah dimulai. Seperti pada hari ini, rupiah di pasar domestik sedang aman terlecut karena NDF melonjak di atas Rp 17.100 per dolar AS. “Itu NDF, belum ada transaksi riil. Jadi, kalau kita enggak bisa intervensi di sana, itu spot kita sudah langsung terbang,” kata dia.
Baca Juga
Cadangan Devisa Turun, Rupiah Tertekan, Surplus Perdagangan Terancam Menyusut
Untuk itu, BI akan berjaga-jaga selama 24 jam. Bahkan, BI akan mengoptimalkan keberadaan kantor perwakilannya di London dan New York untuk melakukan operasi pasar. “Jadi kita terus mengoptimalkan itu, tapi juga tetap kita menjaga likuiditas di pasar,” ujar dia.
Desty mengatakan target base money tidak akan di bawah 10%. Saat ini pertumbuhan base money, sudah tumbuh di atas sekitar 12%. “Ini menunjukkan bahwa bank sentral akan tetap melakukan ekspansi, tinggal nanti bagaimana diperbankan, kredit itu akan berjalan,” jelas dia.

