Rupiah Menguat Tipis di Tengah Harapan Damai AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (16/4/2026) pagi didorong optimisme pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi menahan tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang.
Penguatan ini terjadi di tengah sentimen global yang dipengaruhi dinamika konflik Iran dan Amerika Serikat, serta ekspektasi kebijakan moneter global. Data Bloomberg mencatat rupiah menguat 0,01% ke level Rp 17.142 per dolar AS pada pukul 09.22 WIB.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh optimisme investor terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah. Menurutnya, pasar melihat peluang meredanya konflik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang yang melibatkan Iran mendekati akhir.
"Sinyal tersebut diperkuat dengan kedatangan kepala angkatan bersenjata Pakistan ke Teheran untuk mendukung upaya perpanjangan gencatan senjata," kata dia.
Meski demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Selat Hormuz masih secara efektif tertutup akibat blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran. Kondisi ini membuat pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Baca Juga
Iran juga memperingatkan kemungkinan pembalasan atas perpanjangan blokade tersebut, termasuk dengan menghentikan pengiriman energi melalui Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah.
Pasar kini mengalihkan perhatian pada potensi putaran kedua pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Negosiasi tersebut diperkirakan akan mencakup isu pembukaan kembali jalur pelayaran strategis serta aktivitas pengayaan nuklir Iran.
Di sisi lain, sentimen pasar juga ditopang oleh kinerja korporasi global. Saham Bank of America naik hingga 2,5% setelah melaporkan laba kuartal I yang lebih tinggi dari perkiraan. Sementara itu, Morgan Stanley melonjak lebih dari 5% setelah mencatat pendapatan pada level tertinggi.
Namun, sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pelemahan. Indeks Pasar Perumahan NAHB/Wells Fargo, indikator kepercayaan pengembang terhadap pasar rumah tapak baru, turun menjadi 34 pada April 2026 dari 38 pada Maret dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 37. Penurunan ini mencerminkan perlambatan aktivitas sektor properti.
Baca Juga
Rupiah Tertekan ke Rp 17.130 Meski Dolar Melemah, Ini Penyebabnya
Sementara itu, ekspor Amerika Serikat naik 1,6% secara bulanan pada Maret 2026, lebih rendah dibandingkan kenaikan yang telah direvisi sebesar 1,9% pada Februari, meski masih sedikit di atas proyeksi analis sebesar 1,5%. Kenaikan terutama ditopang oleh ekspor komoditas non-pertanian yang tumbuh 1,7%.
Di pasar komoditas, harga emas kembali naik ke atas US$ 4.800 per ons, pulih dari pelemahan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi seiring harapan investor terhadap kemungkinan kesepakatan damai jangka panjang antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat meredakan tekanan inflasi global.

