Rupiah Kembali Melemah, Ringgit dan Baht Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat. Rupiah melemah 0,08% dan bertengger di posisi Rp 17.141 per US$ pada Rabu (15/4/2026) pukul 09.26 WIB versi Bloomberg.
Dolar AS terpantau menekan sejumlah mata uang di kawasan. Yen Jepang melemah 0,11%. Tekanan dolar AS juga dihadapi yuan China sebesar 0,05%. Sementara itu, dolar Hong Kong terpantau melemah 0,04%, rupee India melemah 0,7%, dan dolar Singapura melemah 0,02%.
Dua mata uang di Asia Tenggara, baht Tailan dan ringgit Malaysia terpantau menguat terhadap dolar AS. Ringgit menguat 0,18% dan baht menguat 0,27%.
Baca Juga
Rupiah Tertekan ke Rp 17.130 Meski Dolar Melemah, Ini Penyebabnya
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menyebut indeks dolar AS atau DXY turun ke 98. Kondisi tersebut memperpanjang pelemahan menjadi tujuh sesi berturut-turut dan mencapai level terendah sejak akhir Februari sebelum konflik Iran dimulai.
Menurut Andry, pelaku pasar tetap berharap kesepakatan gencatan senjata permanen antara AS dan Iran dapat tercapai. Meskipun negosiasi akhir pekan gagal dan Presiden Donald Trump mengumumkan blokade atas pengiriman minyak Iran, ia kemudian mengindikasikan bahwa Teheran telah melakukan kontak dan terbuka untuk diskusi lebih lanjut.
Ekspektasi gencatan senjata dan potensi pembukaan kembali Selat Hormuz menekan harga minyak, sehingga mengurangi tekanan inflasi dan menurunkan ekspektasi pengetatan agresif oleh Federal Reserve.
Sentimen pasar juga terdorong imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang turun 4,54 basis poin (bps) ke 4,25%.
Baca Juga
BI Ingin Produk Instrumen Domestik dapat Jadi Penopang Stabilitas Rupiah
Di dalam negeri Paman Sam, data pekerja menunjukkan sisi positif. sementara data ADP menunjukkan ekonomi menambah 39.250 lapangan kerja pada pekan yang berakhir 28 Maret, menandai empat minggu berturut-turut pertumbuhan lapangan kerja yang solid.
Sementara itu, harga produsen AS meningkat 0,5% secara bulanan pada Maret 2026, sama dengan pertumbuhan periode sebelumnya dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,1%. Harga barang melonjak 1,6%, kenaikan terbesar sejak Agustus 2023, didorong lonjakan biaya energi sebesar 8,5% yang sebagian besar dipicu oleh konflik Iran yang masih berlangsung. Harga pangan permintaan akhir turun 0,3%. Dari sisi jasa, harga tidak berubah setelah meningkat 0,3% pada Februari.

