Rupiah Tertekan ke Rp 17.130 Meski Dolar Melemah, Ini Penyebabnya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Selasa (14/3/2026) pagi di tengah dinamika global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik dan pergeseran sentimen investor, sehingga menambah tekanan pada mata uang negara berkembang.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah terdepresiasi 0,15% ke level Rp 17.130 per dolar AS pada awal perdagangan pukul 09.02 WIB. Pergerakan ini terjadi di tengah fluktuasi pasar keuangan global yang dipicu perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga
Rupiah Melemah 2,39% Sejak Awal 2026, BI Janji Optimalkan Instrumen Moneter 24 Jam
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro mengatakan pelemahan rupiah terjadi ketika Indeks Dolar AS atau DXY justru melemah ke kisaran 98,3. Kondisi tersebut mencerminkan pergeseran preferensi investor ke aset berisiko. “Didorong oleh optimisme bahwa kesepakatan antara AS dan Iran pada akhirnya dapat tercapai,” kata Andry kepada Investortrust.id.
Pergerakan mata uang regional menunjukkan tren beragam. Dolar Hong Kong terkoreksi 0,04%, rupee India terdepresiasi 0,7%, dolar Singapura melemah 0,06%, dan won Korea Selatan turun 0,1%. Di sisi lain, yen Jepang, peso Filipina, baht Thailand, dan yuan China justru menguat terhadap dolar AS.
Sentimen global juga dipengaruhi kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengumumkan blokade terhadap pengiriman minyak Iran. Langkah tersebut diambil setelah negosiasi antara kedua negara gagal mencapai kesepakatan pada akhir pekan.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 2,37 basis poin menjadi 4,29%. Penurunan yield ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga
Dari sisi data ekonomi, penjualan rumah di Amerika Serikat tercatat turun 3,6% secara bulanan menjadi 3,98 juta unit pada Maret 2026. Angka tersebut menjadi level terendah dalam sembilan bulan terakhir, menandakan perlambatan di sektor properti.
Sementara itu, harga emas naik ke level US$ 4.760 per ons, mencerminkan pulihnya sentimen pasar seiring berlanjutnya negosiasi antara AS dan Iran. Kenaikan harga emas biasanya merepresentaikan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

