Paus Leo XIV Tegaskan Perdamaian, Baca Isi Lengkap Urbi et Orbi Paus Leo XIV
Poin Penting
|
KOTA VATIKAN, Investortrust.id - Urbi et Orbi merupakan berkat dan pesan resmi Paus yang disampaikan kepada Kota Roma dan kepada seluruh dunia. Tradisi Gereja Katolik ini bukan sekadar doa liturgis, melainkan juga refleksi dan seruan moral Paus kepada seluruh umat manusia, tanpa memandang agama.
Pesan Urbi et Orbi biasanya disampaikan pada momen-momen penting, seperti Hari Raya Natal, Paskah, terpilihnya Paus baru, serta dalam situasi luar biasa ketika dunia menghadapi krisis besar atau bencana kemanusiaan.
Dalam pesan Urbi et Orbi, Paus kerap menyoroti persoalan-persoalan global yang menyentuh martabat manusia, mulai dari perdamaian dan penghentian perang, keadilan sosial, hingga penderitaan akibat kemiskinan, krisis pengungsi, dan bencana alam. Pesan ini disampaikan dari Basilika Santo Petrus di Vatikan dan disiarkan ke seluruh dunia. Bagi umat Katolik, berkat Urbi et Orbi juga memiliki makna rohani khusus karena dapat disertai dengan indulgensi penuh dengan syarat-syarat tertentu yang ditetapkan Gereja.
Dalam pesan Natal pertamanya sejak terpilih sebagai Paus, Leo XIV memanfaatkan momen Urbi et Orbi untuk mengecam keras kesia-siaan perang. Paus asal Amerika Serikat yang terpilih pada Mei lalu menggantikan mendiang Paus Fransiskus ini menegaskan bahwa perang, dalam bentuk apa pun, hanya meninggalkan kehancuran, puing-puing, serta luka terbuka yang mendalam bagi umat manusia.
Ia menyampaikan seruan moral yang kuat agar konflik bersenjata di berbagai belahan dunia segera diakhiri melalui jalan dialog, rekonsiliasi, dan kemanusiaan.
Berbicara di hadapan sekitar 26.000 umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, pada Kamis (25/12/2025), Paus Leo XIV juga mengajak masyarakat internasional untuk menumbuhkan solidaritas dan sikap menerima terhadap mereka yang membutuhkan. Seruan tersebut dinilai sebagai pengingat di tengah menguatnya sentimen anti-imigran di sejumlah negara Eropa. Melalui Urbi et Orbi, Paus kembali menegaskan perannya sebagai suara moral dunia yang mengajak umat manusia untuk menempatkan perdamaian, solidaritas, dan martabat manusia sebagai nilai utama dalam kehidupan global.
Berikut ini adalah "Urbi et Orbi" yang disampaikan Paus Leo XIV seperti dikutip dari Vatican Media.
PESAN “URBI ET ORBI” PAUS LEO XIV
NATAL 2025
Loggia Tengah Basilika Santo Petrus
Kamis, 25 Desember 2025
Saudara-saudari terkasih,
“Marilah kita semua bersukacita di dalam Tuhan, sebab Juru Selamat kita telah lahir ke dunia. Hari ini, damai sejati telah turun kepada kita dari surga” (Antifon Pembuka, Misa Malam Natal). Demikianlah liturgi bernyanyi pada malam Natal, dan pewartaan dari Betlehem bergema di dalam Gereja: Anak yang lahir dari Perawan Maria adalah Kristus Tuhan, yang diutus oleh Bapa untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Sesungguhnya, Dialah damai kita; Ia telah mengalahkan kebencian dan permusuhan melalui kasih Allah yang penuh belas kasih. Karena itu, “kelahiran Tuhan adalah kelahiran damai” (Santo Leo Agung, Khotbah 26).
Yesus dilahirkan di sebuah kandang karena tidak ada tempat bagi-Nya di penginapan. Segera setelah Ia lahir, ibu-Nya Maria “membedung Dia dengan lampin dan membaringkan Dia di dalam palungan” (lih. Luk 2:7). Putra Allah, yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan, tidak disambut, dan sebuah palungan yang sederhana bagi hewan menjadi tempat tidur-Nya.
Sabda kekal Bapa, yang tidak dapat ditampung oleh langit, memilih untuk datang ke dunia dengan cara ini. Karena kasih, Ia ingin dilahirkan dari seorang perempuan dan dengan demikian berbagi kemanusiaan kita; karena kasih, Ia menerima kemiskinan dan penolakan, menyamakan diri-Nya dengan mereka yang disingkirkan dan dikecualikan.
Sejak kelahiran Yesus, kita telah melihat keputusan mendasar yang akan menuntun seluruh hidup Putra Allah, bahkan sampai wafat-Nya di kayu salib: keputusan untuk tidak membiarkan kita tetap memikul beban dosa, melainkan menanggungnya sendiri bagi kita, mengambilnya atas diri-Nya. Hanya Dia yang dapat melakukannya. Namun pada saat yang sama, Ia juga menunjukkan kepada kita apa yang dapat kita lakukan, yakni memikul bagian tanggung jawab kita sendiri. Allah, yang menciptakan kita tanpa kita, tidak akan menyelamatkan kita tanpa kita (lih. Santo Agustinus, Khotbah 169, 11, 13), yakni tanpa kehendak bebas kita untuk mengasihi. Mereka yang tidak mengasihi tidak diselamatkan; mereka tersesat. Dan mereka yang tidak mengasihi saudara atau saudari yang mereka lihat, tidak dapat mengasihi Allah yang tidak mereka lihat (lih. 1Yoh 4:20).
Saudara-saudari, tanggung jawab adalah jalan yang pasti menuju damai. Jika kita semua, di setiap tingkat, berhenti menyalahkan orang lain dan sebaliknya mengakui kesalahan kita sendiri, memohon pengampunan Allah, dan sungguh masuk ke dalam penderitaan sesama serta berdiri dalam solidaritas dengan yang lemah dan tertindas, maka dunia akan berubah.
Yesus Kristus adalah damai kita pertama-tama karena Ia membebaskan kita dari dosa, dan juga karena Ia menunjukkan kepada kita jalan untuk mengatasi konflik—semua konflik, baik antarpribadi maupun antarbangsa. Tanpa hati yang dibebaskan dari dosa, hati yang telah diampuni, kita tidak dapat menjadi pria dan wanita pembawa damai atau pembangun damai. Itulah sebabnya Yesus dilahirkan di Betlehem dan wafat di kayu salib: untuk membebaskan kita dari dosa. Dialah Sang Juru Selamat. Dengan rahmat-Nya, kita dapat dan harus masing-masing melakukan bagian kita untuk menolak kebencian, kekerasan, dan permusuhan, serta mempraktikkan dialog, damai, dan rekonsiliasi.
Pada hari perayaan ini, saya ingin menyampaikan salam hangat dan penuh kebapaan kepada semua orang Kristen, khususnya mereka yang tinggal di Timur Tengah, yang baru-baru ini saya kunjungi dalam Perjalanan Apostolik pertama saya. Saya mendengarkan mereka ketika mereka mengungkapkan ketakutan mereka dan mengetahui dengan baik rasa ketidakberdayaan mereka di hadapan dinamika kekuasaan yang menekan mereka. Anak yang lahir hari ini di Betlehem adalah Yesus yang sama yang berkata: “Dalam Aku kamu beroleh damai sejahtera. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).
Dari Allah marilah kita memohon keadilan, damai, dan stabilitas bagi Lebanon, Palestina, Israel, dan Suriah, dengan mempercayai sabda ilahi ini: “Hasil kebenaran ialah damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan keamanan untuk selama-lamanya” (Yes 32:17).
Baca Juga
Marilah kita mempercayakan seluruh benua Eropa kepada Sang Pangeran Damai, memohon agar Ia terus mengilhami semangat kebersamaan dan kerja sama, setia pada akar dan sejarah Kristiani, serta dalam solidaritas dan penerimaan terhadap mereka yang membutuhkan. Marilah kita berdoa secara khusus bagi rakyat Ukraina yang menderita: semoga deru senjata berhenti, dan semoga pihak-pihak yang terlibat, dengan dukungan dan komitmen komunitas internasional, menemukan keberanian untuk terlibat dalam dialog yang tulus, langsung, dan saling menghormati.
Dari Anak Betlehem, kita memohon damai dan penghiburan bagi para korban semua perang yang sedang berlangsung di dunia, terutama yang terlupakan, serta bagi mereka yang menderita akibat ketidakadilan, ketidakstabilan politik, penganiayaan agama, dan terorisme. Secara khusus saya mengenang saudara-saudari kita di Sudan, Sudan Selatan, Mali, Burkina Faso, dan Republik Demokratik Kongo.
Dalam hari-hari terakhir Yubileum Harapan ini, marilah kita berdoa kepada Allah yang menjadi manusia bagi bangsa Haiti yang terkasih, agar segala bentuk kekerasan di negara itu berhenti dan kemajuan dapat dicapai di jalan damai dan rekonsiliasi.
Semoga Anak Yesus mengilhami mereka yang memegang tanggung jawab politik di Amerika Latin, sehingga dalam menghadapi berbagai tantangan, ruang diberikan bagi dialog demi kebaikan bersama, dan bukan bagi prasangka ideologis dan partisan.
Marilah kita memohon kepada Sang Pangeran Damai agar menerangi Myanmar dengan cahaya masa depan rekonsiliasi, memulihkan harapan bagi generasi muda, membimbing seluruh rakyatnya di jalan damai, serta menyertai mereka yang hidup tanpa tempat tinggal, keamanan, atau keyakinan akan hari esok.
Kita juga mempercayakan kepada Allah bangsa-bangsa di Asia Selatan dan Oseania, yang telah mengalami cobaan berat akibat bencana alam dahsyat yang baru-baru ini melanda seluruh komunitas. Dalam menghadapi cobaan-cobaan ini, saya mengundang semua orang untuk memperbarui, dengan keyakinan yang tulus, komitmen bersama kita untuk membantu mereka yang menderita.
Saudara-saudari terkasih, dalam kegelapan malam, “terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yoh 1:9), namun “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11). Janganlah kita membiarkan diri kita dikalahkan oleh sikap acuh tak acuh terhadap mereka yang menderita, sebab Allah tidak acuh terhadap kesusahan kita.
Dengan menjadi manusia, Yesus memikul kerapuhan kita, menyamakan diri dengan setiap orang dari kita: dengan mereka yang tidak memiliki apa-apa lagi dan telah kehilangan segalanya, seperti para penduduk Gaza; dengan mereka yang menjadi mangsa kelaparan dan kemiskinan, seperti rakyat Yaman; dengan mereka yang melarikan diri dari tanah airnya untuk mencari masa depan di tempat lain, seperti banyak pengungsi dan migran yang menyeberangi Laut Mediterania atau melintasi benua Amerika; dengan mereka yang kehilangan pekerjaan dan mereka yang sedang mencari pekerjaan, seperti begitu banyak kaum muda yang berjuang menemukan lapangan kerja; dengan mereka yang dieksploitasi, seperti banyak pekerja yang dibayar rendah; dengan mereka yang berada di penjara, yang sering hidup dalam kondisi tidak manusiawi.
Seruan damai yang bangkit dari setiap penjuru bumi mencapai hati Allah, sebagaimana ditulis seorang penyair:
“Bukan damai dari gencatan senjata,
bahkan bukan gambaran serigala dan anak domba,
melainkan
seperti di dalam hati ketika kegelisahan telah berlalu
dan yang tersisa hanyalah kelelahan yang mendalam…
Biarlah ia datang
seperti bunga-bunga liar,
tiba-tiba, karena ladang
membutuhkannya: damai yang liar.”
Pada hari kudus ini, marilah kita membuka hati kita bagi saudara-saudari yang membutuhkan atau yang sedang menderita. Dengan demikian, kita membuka hati kita bagi Anak Yesus, yang menyambut kita dengan tangan terbuka dan menyatakan keilahian-Nya kepada kita: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya… diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah” (Yoh 1:12).
Dalam beberapa hari ke depan, Tahun Yubileum akan berakhir. Pintu-Pintu Suci akan ditutup, tetapi Kristus, pengharapan kita, tetap menyertai kita selalu. Dialah Pintu yang selalu terbuka, yang menuntun kita ke dalam kehidupan ilahi. Inilah pewartaan penuh sukacita pada hari ini: Anak yang lahir adalah Allah yang menjadi manusia; Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan; kehadiran-Nya bukanlah sementara, sebab Ia datang untuk tinggal dan memberikan diri-Nya. Di dalam Dia, setiap luka disembuhkan dan setiap hati menemukan ketenangan dan damai. “Kelahiran Tuhan adalah kelahiran damai.”
Kepada kalian semua, saya menyampaikan ucapan selamat yang tulus untuk Natal yang damai dan kudus.

