Vance: "Bola di Tangan Teheran", AS Tekan Iran Lewat Blokade Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menegaskan kelanjutan perundingan damai sepenuhnya bergantung pada Iran, setelah upaya diplomasi terbaru antara kedua negara berakhir tanpa kesepakatan. Pernyataan ini disampaikan Vance pada Senin (13/04/2026), beberapa jam setelah Amerika Serikat resmi memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
Dalam laporan CNBC yang dipublikasikan pada 13 April 2026 pukul 19.46 EDT, Vance mengatakan “bola kini berada di tangan Iran” untuk menentukan apakah perundingan akan dilanjutkan atau tidak. Pernyataan itu muncul setelah ia kembali dari perundingan di Islamabad yang gagal mencapai kesepakatan mengakhiri konflik.
“Apakah akan ada pembicaraan lanjutan atau kesepakatan, itu sangat tergantung pada Iran, karena kami sudah menawarkan banyak hal di meja perundingan,” ujar Vance dalam wawancara dengan Fox News, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Perundingan Berakhir Tanpa Hasil, JD Vance Kembali ke Washington
Kegagalan diplomasi itu langsung diikuti eskalasi tekanan militer. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah mulai memblokir kapal-kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Langkah ini dimaksudkan untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan sekaligus membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang sempat terganggu selama konflik.
Trump menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk mencegah Iran “memeras dunia”, merujuk pada dampak besar gangguan Selat Hormuz terhadap pasokan energi global dan lonjakan harga minyak dunia.
Vance menambahkan bahwa salah satu syarat utama dalam gencatan senjata 14 hari yang dimulai sebelumnya adalah komitmen Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. Namun hingga kini, menurut Washington, pembukaan tersebut belum sepenuhnya terealisasi.
“Kami perlu melihat Selat Hormuz benar-benar terbuka. Jika tidak, itu akan secara fundamental mengubah arah negosiasi kami dengan Iran,” kata Vance. Ia juga menegaskan bahwa blokade ini merupakan bentuk “tekanan ekonomi tambahan” untuk mendorong Iran memenuhi komitmennya.
Lebih jauh, Vance menegaskan bahwa garis merah utama Amerika Serikat dalam perundingan adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir. Dua poin utama yang belum disepakati dalam perundingan di Islamabad adalah penghapusan uranium yang telah diperkaya dari Iran serta mekanisme verifikasi internasional untuk memastikan program nuklir Teheran tidak digunakan untuk tujuan militer.
Meski demikian, Vance mengklaim bahwa tim negosiasi AS—yang juga melibatkan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner—telah mencatat kemajuan dalam beberapa aspek pembicaraan, meskipun belum mencapai kesepakatan final.
Laporan senada juga disampaikan Reuters pada 14 April 2026, yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui blokade maritim setelah kegagalan perundingan di Islamabad. Reuters menegaskan bahwa langkah ini bertujuan memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz dan menahan eskalasi lebih lanjut dalam konflik.
Sementara itu, Al Jazeera pada 14 April 2026 juga melaporkan bahwa Washington masih membuka peluang kesepakatan meski blokade telah diberlakukan. Iran di sisi lain menilai langkah tersebut sebagai tindakan agresif yang melanggar hukum internasional, sekaligus meningkatkan ketegangan di kawasan.
Dengan diplomasi yang masih buntu dan tekanan militer yang terus meningkat, konflik AS-Iran kini memasuki fase baru: negosiasi tetap dibuka, tetapi dilakukan di bawah bayang-bayang kekuatan militer dan ancaman eskalasi yang lebih luas.
Dalam geopolitik modern, perdamaian bukan lagi sekadar hasil negosiasi—melainkan juga hasil dari siapa yang paling kuat menekan tanpa memicu perang terbuka.

