AS Ancam Aksi Militer Baru di Iran, Gencatan Senjata Sangat Rapuh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada di ambang kegagalan setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras jika Teheran tidak memenuhi tuntutan Washington. Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui media sosial pada Rabu (08/04/2026) waktu setempat, hanya sehari setelah kesepakatan jeda konflik selama dua pekan mulai berlaku.
Dalam laporan langsung Al Jazeera yang diterbitkan 9 April 2026, Trump menegaskan seluruh kekuatan militer AS —kapal perang, pesawat tempur, dan personel— akan tetap siaga di sekitar Iran hingga “kesepakatan nyata” benar-benar dipatuhi. Ia bahkan memperingatkan bahwa aksi militer yang lebih besar dapat terjadi jika Iran dianggap melanggar kesepakatan tersebut.
“Semua kapal, pesawat, dan personel militer AS akan tetap berada di posisi hingga kesepakatan benar-benar dipatuhi. Jika tidak, konflik akan dimulai kembali dengan kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya,” tulis Trump di platform Truth Social.
Baca Juga
Gencatan Senjata AS-Iran Diuji, Selat Hormuz Masih Diblokade dan Serangan Berlanjut
Pernyataan ini mempertegas rapuhnya gencatan senjata yang dimediasi Pakistan setelah enam pekan konflik bersenjata antara AS dan Iran yang sempat mengguncang pasar global, terutama karena ancaman terhadap jalur vital energi dunia di Selat Hormuz.
Namun di lapangan, situasi justru menunjukkan eskalasi. Serangan Israel ke Lebanon terus berlanjut, bahkan meningkat signifikan. Pemerintah Lebanon menetapkan hari berkabung nasional setelah serangan udara Israel pada Rabu (8/4/2026) menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 lainnya dalam satu hari.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan pemerintahnya tengah mengerahkan seluruh sumber daya politik dan diplomatik untuk menghentikan serangan tersebut. Sementara itu, Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine meminta bantuan internasional karena sistem kesehatan negara itu kewalahan menangani korban sipil dalam jumlah besar.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata antara AS dan Iran. Pernyataan ini diperkuat oleh Wakil Presiden AS JD Vance yang menyatakan bahwa Washington memang tidak pernah menjanjikan penghentian operasi militer Israel di Lebanon.
Baca Juga
OPEC+ Tambah Produksi, tapi Tak Mampu Redam Lonjakan Harga Minyak
Respons keras datang dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa posisi Iran jelas: Amerika Serikat harus memilih antara gencatan senjata yang utuh atau melanjutkan perang melalui Israel. “Tidak mungkin keduanya berjalan bersamaan,” ujarnya.
Ketegangan juga diperparah oleh laporan media Iran seperti ISNA dan Tasnim yang menyebut bahwa pasukan elit Islamic Revolutionary Guard Corps sempat menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz selama konflik berlangsung. Meski belum jelas apakah ranjau tersebut telah dibersihkan, temuan ini menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran global.
Di tingkat diplomasi, Iran dilaporkan berencana mengirim delegasi ke Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan pembicaraan dengan AS berdasarkan proposal 10 poin dari Teheran. Namun, proses ini dibayangi ketidakpercayaan yang tinggi, terutama akibat terus berlanjutnya serangan Israel di kawasan.
Sentimen publik di Iran pun mencerminkan skeptisisme mendalam terhadap efektivitas gencatan senjata. Warga mempertanyakan makna kesepakatan damai jika kekerasan masih terus terjadi di wilayah lain, khususnya Lebanon.
Baca Juga
IHSG Berbalik Menguat ke 7.307, Saham Prajogo Pangestu Jadi Motor Penggerak
Laporan senada juga disampaikan kantor berita Reuters dan Associated Press (AP) pada 9 April 2026, yang menyoroti bahwa ancaman terbaru Trump serta eskalasi serangan Israel berpotensi menggagalkan upaya diplomasi yang masih sangat rapuh. Reuters mencatat bahwa pasar global kembali diliputi kekhawatiran, terutama terkait potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Dengan kondisi ini, gencatan senjata AS-Iran tampak lebih sebagai jeda taktis daripada solusi permanen. Selama konflik proksi di kawasan —terutama melalui Lebanon— terus berlangsung, risiko pecahnya kembali perang skala penuh tetap sangat tinggi.

