Akhir Perang Menjauh, Trump Ancam Luluhlantakkan Infrastruktur Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan ancaman penghancuran total infrastruktur vital jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz sesuai tenggat waktu yang ditetapkan Selasa malam waktu AS. Ia juga mengancam menghancurkan Iran dalam semalam.
Pernyataan keras ini disampaikan Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih pada hari Senin (06/04/2026) waktu setempat, di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung namun minim kemajuan. Mengutip laporan The New York Times (6 April 2026), Trump menyatakan bahwa militer AS memiliki rencana untuk “menghancurkan setiap jembatan di Iran” serta melumpuhkan seluruh pembangkit listrik dalam waktu singkat. “Pada tengah malam besok, semua jembatan akan hancur, semua pembangkit listrik akan terbakar dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi,” ujar Trump.
Ia bahkan mengklaim bahwa jika serangan dilakukan, Iran akan membutuhkan hingga 100 tahun untuk memulihkan infrastrukturnya. Ia menyatakan bahwa negara tersebut “bisa dihabisi dalam satu malam”. Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (06/04/2026) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka jika Iran tidak memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan Washington, yakni membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
“Iran bisa dihabisi dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam,” ujar Trump dalam pernyataan yang disiarkan dan dikutip oleh CNN pada 6 April 2026 (updated 14:38 EDT). Namun di saat yang sama, Trump juga membuka kemungkinan solusi diplomatik. Ia menyebut Iran sebagai “partisipan aktif dan bersedia” dalam perundingan, meski menegaskan bahwa kesepakatan harus memenuhi tuntutan utama Washington, termasuk jaminan kebebasan lalu lintas minyak di Selat Hormuz.
Proposal damai terbaru dari Iran, yang terdiri dari 10 poin dan disampaikan melalui mediator Pakistan, telah ditolak oleh pihak AS. Isi lengkap proposal tersebut tidak dipublikasikan, namun pejabat Amerika menyebutnya tidak dapat diterima.
Dalam pada itu, di lapangan, eskalasi militer terus berlanjut. Pada Selasa dini hari, 7 April 2026, Israel menyatakan telah mendeteksi peluncuran rudal dari Iran. Pada saat yang sama, Bulan Sabit Merah Iran melaporkan bahwa serangan udara menghantam kawasan permukiman di Teheran.
Baca Juga
Iran Belum Buka Selat Hormuz meski Diancam Trump, Harga Minyak Naik
Laporan terpisah dari Al Jazeera yang terbit 7 April 2026 memperkuat situasi tersebut. Media itu menyebut Trump kembali menegaskan ancaman “penghancuran total” terhadap pembangkit listrik dan jembatan Iran dalam hitungan jam jika Selat Hormuz tidak dibuka. Trump juga menyebut respons Iran terhadap proposal gencatan senjata sebagai “signifikan, tetapi belum cukup”.
Di sisi lain, militer Iran merespons keras ancaman tersebut. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, pada Senin (6/4/2026) memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap target sipil akan dibalas dengan operasi yang “lebih menghancurkan dan luas”. Pernyataan ini dikutip The New York Times dan media Iran.
Serangan terhadap objek sipil juga mulai memicu kecaman internasional. Serangan udara dilaporkan menghantam Sharif University of Technology di Teheran, institusi sains dan teknologi terkemuka Iran—yang memicu kemarahan publik, termasuk dari kalangan oposisi domestik.
Di kawasan yang lebih luas, konflik telah meluas ke berbagai titik strategis. Israel dilaporkan membombardir kompleks petrokimia utama Iran, sementara Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk. Otoritas Israel melaporkan sedikitnya empat orang tewas akibat serangan rudal di Haifa.
Menurut Al Jazeera (7 April 2026), serangan gabungan AS-Israel di Iran pada Senin menyebabkan sedikitnya 34 korban jiwa, sementara serangan Israel di Gaza juga menewaskan sedikitnya 10 orang di dekat sekolah yang menampung pengungsi.
Di tengah eskalasi tersebut, Trump juga menyoroti keberhasilan operasi militer AS dalam menyelamatkan seorang pilot yang jatuh di wilayah Iran. Ia menyebut operasi tersebut melibatkan 155 pesawat dan ratusan personel, dengan taktik pengalihan untuk mengecoh pertahanan Iran. Pesawat yang ditembak jatuh disebut sebagai F-15E Strike Eagle yang terkena rudal bahu (shoulder-fired missile). Ia menyebut misi tersebut sebagai bukti bahwa militer AS tidak pernah meninggalkan tentaranya di medan perang.
Namun, analis menilai inkonsistensi tenggat waktu yang berulang kali diundur berpotensi melemahkan kredibilitas ancaman AS. Tanpa kemajuan nyata dalam negosiasi, risiko eskalasi terbuka semakin besar, terutama dengan Selat Hormuz—jalur vital sekitar 20% pasokan minyak global—menjadi titik krusial konflik.
Dengan situasi yang semakin tidak menentu, dunia kini menanti apakah tenggat waktu Trump akan benar-benar diikuti aksi militer besar, atau kembali menjadi bagian dari strategi tekanan dalam negosiasi yang masih buntu.

