Bersedia ke Meja Perundingan, Trump Ancam Infrastruktur Iran Jika Hormuz Lumpuh Lagi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengemuka setelah Washington memastikan akan mengirim delegasi ke Pakistan untuk melanjutkan negosiasi, di tengah eskalasi militer dan lumpuhnya kembali pelayaran di Selat Hormuz. Berdasarkan laporan live BBC yang diperbarui Minggu (19/04/2026), Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa para negosiator Amerika akan kembali ke Islamabad guna melanjutkan pembicaraan dengan Iran. Namun, dalam pernyataan yang sama, Trump juga mengeluarkan ancaman keras: Washington siap menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika kesepakatan tidak segera tercapai.
Pernyataan tersebut muncul setelah insiden penembakan terhadap kapal di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Trump menuduh Iran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menembaki kapal, termasuk kapal Prancis dan kapal kargo asal Inggris. Ia bahkan menegaskan bahwa Amerika Serikat “tidak kehilangan apa pun” jika jalur pelayaran tersebut tetap ditutup—sebuah pernyataan yang mencerminkan eskalasi retorika sekaligus tekanan politik terhadap Teheran.
Baca Juga
Trump Umumkan Gencatan Senjata 10 Hari Israel-Lebanon di Tengah Negosiasi Iran-AS
Di lapangan, situasi semakin memburuk. Data dari platform pelacakan maritim menunjukkan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali terhenti pada Minggu, 19 April 2026, setelah Iran kembali memberlakukan blokade terhadap jalur tersebut sehari sebelumnya. Kapal-kapal yang mendekat dilaporkan berbalik arah, menandakan meningkatnya risiko keamanan di kawasan.
Dari pihak Iran, Ketua Parlemen Iran menyebut blokade AS terhadap pelabuhan Iran sebagai tindakan “bodoh”, namun mengakui bahwa pembicaraan dengan Washington masih menunjukkan kemajuan, meski kedua pihak tetap “jauh” dari kesepakatan damai. Hal ini mempertegas bahwa jalur diplomasi masih terbuka, tetapi belum menghasilkan terobosan signifikan.
Sejalan dengan itu, koresponden internasional utama BBC, Lyse Doucet, melaporkan dari Teheran bahwa meskipun belum ada tanda-tanda kesepakatan damai, para mediator masih aktif bertukar pesan, memberikan secercah harapan di tengah situasi yang gelap.
Baca Juga
Laporan ini konsisten dengan pemberitaan Al Jazeera pada 19 April 2026, yang menyebut bahwa Iran tetap bersikeras tidak akan membuka Selat Hormuz selama blokade AS terhadap pelabuhannya masih berlangsung. Sementara itu, Reuters dalam laporan periode 18–19 April 2026 juga mencatat bahwa ketidakpastian di Hormuz telah menyebabkan gangguan serius terhadap pelayaran global, dengan banyak kapal memilih menunda perjalanan atau menghindari kawasan tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan paradoks yang semakin tajam: di satu sisi, diplomasi terus berjalan melalui mediasi Pakistan; di sisi lain, eskalasi militer dan retorika keras justru meningkat. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia, kini berada dalam kondisi lumpuh berulang—menciptakan tekanan besar terhadap pasar energi global.
Di tengah negosiasi yang belum menemukan titik temu, setiap hari tanpa kepastian di Hormuz bukan hanya memperpanjang konflik, tetapi juga memperbesar risiko bagi ekonomi dunia.

