Trump: Satu Peradaban Akan Musnah Malam Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan peringatan ekstrem bahwa “satu peradaban akan musnah malam ini” jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Sejalan dengan ancaman tersebut, serangan militer terhadap infrastruktur Iran dilaporkan meningkat. AS menyerang target strategis di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform Truth Social pada Selasa (07/04/2026), Trump menegaskan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan berujung pada kehancuran besar yang tidak dapat dipulihkan. “A whole civilization will die tonight, never to be brought back again,” tulis Trump, sembari menyebut momen tersebut sebagai salah satu titik paling menentukan dalam sejarah dunia.
Pernyataan ini disampaikan menjelang tenggat waktu yang ia tetapkan pukul 20.00 waktu Timur AS (EDT), atau Rabu dini hari waktu GMT, bagi Iran untuk mengakhiri blokade efektif di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global.
Sejalan dengan ancaman tersebut, Amerika Serikat dilaporkan telah melancarkan serangan ke sejumlah target strategis di Iran, termasuk Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama negara tersebut. Laporan The New York Times (7 April 2026) menyebutkan bahwa tekanan militer ini merupakan bagian dari upaya memaksa Teheran membuka kembali jalur pelayaran global tersebut.
Trump sebelumnya juga mengancam akan menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik di Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi. Serangan terhadap infrastruktur sipil seperti itu berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, memperingatkan bahwa Teheran akan membalas secara “menghancurkan dan luas” jika fasilitas sipil diserang.
Di lapangan, eskalasi konflik terus meningkat. Pada Selasa (7/4/2026), pejabat Iran melaporkan kerusakan pada sedikitnya dua jembatan, jalur rel kereta, serta jalan raya utama akibat gelombang serangan udara AS–Israel yang menyasar infrastruktur. Menurut kantor berita negara IRNA, serangan terhadap jembatan rel di kota Kashan menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai tiga lainnya. Serangan lain juga menghantam jalur kereta di Karaj, dekat Teheran, serta jembatan di sekitar kota suci Qom.
Selain itu, laporan tambahan dari The New York Times menyebutkan serangan di kawasan Grand Bazaar Teheran menewaskan sedikitnya satu orang dan menghancurkan sejumlah toko, memperluas dampak konflik ke pusat ekonomi dan budaya. Kantor berita pemerintah Iran, IRNA (7/4/2026), melaporkan bahwa serangan udara menghantam sejumlah infrastruktur penting, termasuk jembatan di kota Kashan dan jalur rel di Karaj, dekat Teheran. Serangan di Kashan dilaporkan menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai tiga lainnya. Selain itu, jalan raya utama yang menghubungkan Tabriz dengan Teheran juga ditutup setelah mengalami kerusakan akibat serangan.
Baca Juga
Trump Ancam Luluhlantakkan Jembatan dan Pembangkit Listrik, Iran Siap Lawan
Di sisi lain, Iran juga meningkatkan serangan balasan. Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan bahwa puing rudal yang berhasil dicegat jatuh di dekat fasilitas energi di wilayah timur. Uni Emirat Arab juga mengonfirmasi adanya peluncuran rudal dan drone dari Iran.
Tekanan Global Meningkat
Meski terdapat upaya mediasi melalui Pakistan dan sekutu regional lainnya dengan usulan gencatan senjata 45 hari, kedua pihak tetap bertahan pada posisi keras. Trump menyebut proposal tersebut sebagai “langkah signifikan, tetapi belum cukup”, sementara Iran secara resmi menolaknya.
Di Eropa, tekanan politik juga meningkat. Laporan The Guardian (7 April 2026) mengungkap bahwa Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mendapat tekanan domestik terkait kemungkinan penggunaan pangkalan militer Inggris oleh AS untuk menyerang infrastruktur Iran. Pemerintah Inggris menegaskan bahwa penggunaan pangkalan hanya diperbolehkan untuk operasi defensif, namun menolak memberikan penjelasan rinci.
Pemimpin Partai Liberal Demokrat Inggris, Ed Davey, bahkan memperingatkan bahwa tanpa batasan tegas, Inggris berisiko “membiarkan wilayahnya digunakan untuk melakukan kejahatan perang”.
Ketegangan ini langsung tercermin di pasar energi. Harga minyak Brent sempat naik sekitar 1,5% ke level US$111 per barel sebelum terkoreksi tipis, seiring meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan dari Teluk.
Sementara itu, Inggris dijadwalkan memimpin pertemuan virtual lebih dari 40 negara untuk membahas pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz pascakonflik.
Dengan ancaman militer yang semakin eksplisit dan diplomasi yang belum menunjukkan terobosan, konflik ini kini memasuki fase kritis yang tidak hanya menentukan masa depan Iran, tetapi juga stabilitas energi dan ekonomi global.

