Harga Minyak Turun Setelah Trump Isyaratkan Akhiri Perang Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah melemah pada Rabu (1/4/2026). Pasar merespons sinyal Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan keluar dari konflik Iran dalam beberapa pekan ke depan, meskipun Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup.
Baca Juga
Trump: AS Segera Mundur dari Iran, Beban Hormuz Dilemparkan ke Sekutu
Dikutip dari CNBC, kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 1,24% atau $1,26 menjadi $100,12 per barel. Sementara itu, Brent untuk pengiriman Juni merosot 2,82% atau $2,93 ke sekitar $101,04 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah reli tajam bulan sebelumnya, di mana harga minyak global melonjak lebih dari 60%—kenaikan bulanan terbesar sejak 1988. Bahkan, kontrak Mei sempat ditutup naik sekitar 5% pada Selasa di level $118,35 per barel.
Sentimen berubah setelah Trump menyatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran kemungkinan akan dihentikan dalam “dua atau tiga minggu,” bahkan terkesan mengklaim kemenangan.
“Kami pergi karena tidak ada alasan untuk melanjutkan inikami akan segera keluar,” ujar Trump di Gedung Putih.
Trump juga menepis kebutuhan kesepakatan formal untuk mengakhiri perang, dengan menyebut Iran kini berada di bawah rezim baru yang “lebih mudah diakses,” serta mengeklaim telah menghentikan ambisi nuklir Teheran.
Meski demikian, ketegangan tetap tinggi. Iran secara efektif menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—jalur vital yang sebelumnya menyumbang sekitar 20% aliran minyak global.
Baca Juga
Minyak Brent Melonjak, Pasar Energi Global Masuk Fase Darurat
Pasar juga mencermati eskalasi lanjutan, setelah Garda Revolusi Iran mengancam akan menyerang perusahaan-perusahaan AS di kawasan, termasuk raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, Apple, Tesla, hingga Boeing.
Di lapangan, drone Iran dilaporkan menyerang tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait, memicu kebakaran besar.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa komunikasi dengan AS memang terjadi, namun bukan bentuk negosiasi resmi.

