Trump Isyaratkan Kemungkinan Pergantian Rezim di Iran Setelah Serangan AS
WASHINGTON, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan terjadinya pergantian rezim di Iran, beberapa jam setelah AS melancarkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir utama di Iran.
Lewat unggahan di platform media sosial miliknya, Trump menyampaikan pernyataan yang menimbulkan spekulasi luas terkait arah kebijakan luar negeri AS terhadap Teheran. “It’s not politically correct to use the term, ‘Regime Change,’ but if the current Iranian Regime is unable to MAKE IRAN GREAT AGAIN, why wouldn’t there be a Regime change??? MIGA [Make Iran Great Again]!!!” tulis Trump. (Tidaklah benar secara politik untuk menggunakan kalimat ‘Pergantian Rezim’, tapi jika rezim Iran saat ini tak mampu membuat Iran kembali hebat, kena tidak mungkin ada pergantian rezim??? MIGA [Make Iran Great Again]).
Pernyataan tersebut kontras dengan pernyataan resmi Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, yang sebelumnya menegaskan bahwa serangan militer itu tidak ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran.
Dalam konferensi pers di Pentagon, Hegseth menyebutkan bahwa tujuan operasi adalah untuk “menetralkan ancaman terhadap kepentingan nasional AS yang ditimbulkan oleh program nuklir Iran, serta sebagai bagian dari pertahanan kolektif terhadap pasukan kami dan sekutu kami, Israel.”
Sementara itu Trump dalam keterangannya mengatakan bahwa AS telah melakukan “serangan yang sangat sukses” terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Langkah AS ini dilakukan setelah lebih dari sepekan Israel menggempur sejumlah lokasi yang diklaim sebagai situs nuklir dan militer di Iran, sebagai upaya menghentikan laju program nuklir Teheran.
Baca Juga
Iran Kecam Keras Serangan AS, Tegaskan Tolak Tekanan Militer
Iran pun membalas dengan serangkaian serangan rudal ke wilayah Israel, memicu kekhawatiran konflik kawasan yang lebih luas. CNBC melaporkan bahwa Iran telah meluncurkan gelombang ke-20 serangan rudal dan drone terhadap sasaran militer Israel, dan Kementerian Kesehatan Israel menyebutkan 86 orang terluka akibat serangan terbaru tersebut.
Di tengah memanasnya situasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengutuk serangan AS sebagai “pelanggaran serius terhadap Piagam PBB, hukum internasional, dan Traktat Non-Proliferasi Nuklir.”
Ia menyebut tindakan tersebut sebagai "perilaku kriminal yang tidak sah dan sangat berbahaya", serta memperingatkan bahwa Iran “menyimpan semua opsi untuk mempertahankan kedaulatan, kepentingan, dan rakyatnya.”
Dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB pada Minggu malam, Duta Besar Iran untuk PBB Ali Bahreini menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan konsekuensi dari “tindakan bermotif politik” yang dilakukan AS dan mitra-mitranya di Eropa.
Ia juga menyatakan bahwa Israel telah memilih untuk “menghancurkan diplomasi” dengan menyerang Iran hanya dua hari sebelum pembicaraan nuklir antara Teheran dan Washington dijadwalkan berlangsung.
Serangan ini semakin menegaskan jurang perbedaan antara pendekatan diplomatik yang sempat ditawarkan dan kecenderungan militeristik yang kembali mencuat di bawah kepemimpinan Trump.
Meskipun Menteri Pertahanan menekankan bahwa Trump masih berkomitmen pada jalur damai dan telah memberi banyak kesempatan kepada Iran, pernyataan sang presiden di media sosial justru menghidupkan kembali wacana “regime change” yang selama ini menjadi istilah sensitif dalam geopolitik kawasan.

