Trump: AS Segera Mundur dari Iran, Beban Hormuz Dilemparkan ke Sekutu
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi militer negaranya terhadap Iran akan segera diakhiri dalam waktu dua hingga tiga pekan, di tengah eskalasi konflik yang terus memicu gejolak geopolitik dan pasar energi global.
Dalam pernyataannya kepada wartawan di Oval Office pada Selasa (31/3/2026) waktu setempat, Trump menegaskan, “Kami akan segera pergi,” merujuk pada rencana penghentian keterlibatan militer AS di Iran. Beberapa jam kemudian, Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt mengumumkan bahwa Trump akan menyampaikan pidato kenegaraan pada Rabu malam (1/4/2026 waktu AS) untuk memberikan “pembaruan penting tentang Iran”. Informasi ini dikutip dari laporan The New York Times yang diperbarui pada 31 Maret 2026 pukul 20.55 ET.
Namun, di balik sinyal de-eskalasi tersebut, Trump juga meningkatkan tekanan terhadap sekutu Barat. Dalam pernyataan sebelumnya di hari yang sama, ia mengkritik negara-negara Eropa —khususnya Inggris— yang dinilai tidak cukup berkontribusi dalam menjaga keamanan pasokan energi global. Ia bahkan menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan lagi menjamin keamanan jalur energi strategis seperti Selat Hormuz, seraya menyatakan, “Belajarlah berperang sendiri” dan “Ambil saja minyak kalian sendiri.”
Sikap ini mempertegas perubahan pendekatan Washington dari peran sebagai “penjamin keamanan global” menjadi lebih transaksional, sekaligus menambah ketidakpastian bagi pasar energi dunia.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Selasa (31/3/2026) menegaskan bahwa Teheran belum memberikan respons atas proposal damai 15 poin dari Amerika Serikat, maupun mengajukan tawaran balasan. Ia juga membantah klaim Trump bahwa negosiasi berjalan positif. Pernyataan ini sejalan dengan laporan BBC dan Al Jazeera dalam liputan terpisah pada tanggal yang sama, yang menyebutkan bahwa Iran tetap bersikap keras dan menolak tekanan diplomatik Washington.
Serangan Berlanjut
Meski ada sinyal penarikan pasukan AS, konflik di lapangan justru terus meningkat. Serangan udara besar dilaporkan menghantam kota Isfahan di Iran, memicu ledakan besar. Pada hari yang sama, sebuah kapal tanker minyak Kuwait terbakar di pelabuhan Dubai setelah serangan drone yang oleh otoritas Kuwait dikaitkan dengan Iran. Informasi ini juga diperkuat oleh laporan Al Jazeera (31 Maret 2026) yang menyebut insiden tersebut sebagai bagian dari eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi kawasan Teluk.
Baca Juga
Trump Klaim Ada Kemajuan Diplomasi, Namun Ancam Hancurkan Energi Iran
Di Washington, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengungkapkan bahwa pembom strategis B-52 kini telah mulai diterbangkan di atas wilayah Iran untuk pertama kalinya sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Langkah ini mengindikasikan bahwa sistem pertahanan udara Iran telah mengalami pelemahan signifikan.
Meski demikian, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengakui bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balasan. “Mereka akan menembakkan rudal, dan kami akan mencegatnya,” ujarnya dalam pengarahan resmi.
Dampak Regional Membesar
Dampak kemanusiaan konflik terus memburuk. Menurut Human Rights Activists News Agency, hingga 31 Maret 2026, sedikitnya 1.574 warga sipil tewas di Iran, termasuk 236 anak-anak. Di Lebanon, lebih dari 1.260 orang dilaporkan tewas dan 3.750 lainnya luka-luka akibat pertempuran antara Israel dan Hizbullah, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Sementara itu, serangan Iran di negara-negara Teluk dilaporkan menewaskan sedikitnya 50 orang. Di Israel, korban jiwa mencapai sedikitnya 17 orang, sedangkan Amerika Serikat mencatat 13 personel militernya tewas dengan ratusan lainnya luka-luka.
Ketegangan juga meluas ke Irak, di mana seorang jurnalis Amerika, Shelly Kittleson, dilaporkan diculik di Baghdad pada Selasa malam (31/3/2026). Kementerian Dalam Negeri Irak menyebut satu tersangka telah ditangkap dan terkait dengan kelompok paramiliter pro-Iran, Kataib Hezbollah.
Guncangan Energi Global
Perang ini terus mengguncang pasar energi global. Rata-rata harga bensin di Amerika Serikat menembus US$4 per galon—level tertinggi sejak Agustus 2022—dan telah naik sekitar 35% sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026, menurut data AAA. Harga minyak mentah global juga mengalami kenaikan tajam di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
Di pasar keuangan, indeks S&P 500 justru melonjak hampir 3% pada Selasa (31/3/2026), didorong harapan bahwa konflik akan segera mereda seiring rencana penarikan militer AS.
Namun demikian, laporan dari Reuters dan Bloomberg pada periode yang sama menegaskan bahwa risiko gangguan Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia—masih menjadi faktor utama yang membayangi stabilitas energi global.
De-eskalasi di Atas Kertas
Pernyataan Trump tentang rencana penghentian operasi militer mencerminkan upaya Washington untuk keluar dari konflik yang semakin kompleks dan mahal secara politik maupun ekonomi. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perang masih jauh dari selesai.
Serangan terhadap infrastruktur energi, meningkatnya korban sipil, serta meluasnya konflik ke berbagai negara di kawasan menegaskan bahwa risiko geopolitik tetap tinggi. Bagi pasar global—termasuk Indonesia—ketidakpastian ini berpotensi terus menekan stabilitas harga energi, nilai tukar, dan ketahanan fiskal dalam jangka menengah.

