Dipicu Sentimen Geopolitik dan Tekanan Saham Teknologi, Wall Street Mayoritas Melemah
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS ditutup bervariasi pada Senin waktu AS atau Selasa (31/3/2026) WIB. Wall Street mengalami tekanan dari lonjakan harga energi dan pelemahan sektor teknologi di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat.
Indeks acuan S&P 500 turun 0,39% ke level 6.343,72, menandai penurunan tiga hari berturut-turut dan kini berada lebih dari 9% di bawah rekor penutupan tertingginya. Pelemahan dipimpin oleh sektor teknologi yang turun lebih dari 1%.
Indeks Nasdaq Composite merosot 0,73% menjadi 20.794,64, sementara Dow Jones Industrial Average justru naik tipis 0,11% ke 45.216,14, ditopang sektor keuangan dan utilitas.
Baca Juga
Lonjakan volatilitas juga terlihat, dengan CBOE Volatility Index—yang dikenal sebagai “indeks ketakutan” Wall Street—menembus level 30 dalam sesi perdagangan.
Tekanan pasar tak lepas dari kenaikan harga minyak. West Texas Intermediate (WTI) melonjak 3,25% ke $102,88 per barel—level tertinggi sejak Juli 2022. Sementara Brent crude naik tipis ke $112,78 dan mencatat lonjakan bulanan sekitar 55%.
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyatakan bahwa ekspektasi inflasi masih “terjaga dengan baik dalam jangka panjang” meskipun harga energi meningkat. Namun ia mengakui bank sentral bisa menghadapi dilema kebijakan ke depan, tergantung dampak ekonomi yang muncul.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun sekitar 9 basis poin ke 4,35% setelah pernyataan tersebut, mencerminkan sikap pasar yang masih berhati-hati.
Di sisi geopolitik, Presiden Donald Trump memberikan sinyal beragam. Ia menyebut adanya “kemajuan besar” dalam pembicaraan dengan rezim baru Iran untuk mengakhiri konflik. Namun, ia juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika kesepakatan damai tidak segera tercapai dan jalur Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Baca Juga
AS Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran, Termasuk Kharg Island Jika Hormuz Tak Dibuka
Trump pada Minggu mengatakan bahwa Teheran telah menerima sebagian besar dari rencana 15 poin AS untuk mengakhiri perang dan bahwa Iran telah menyetujui untuk mengizinkan tambahan 20 kapal minyak melintasi Selat tersebut.
“Investor tampaknya sudah terbiasa dengan anomali baru bahwa pasar cenderung melemah pada Kamis dan Jumat, serta menguat pada Senin dan Selasa,” ujar David Wagner, kepala ekuitas di Aptus Capital Advisors, seperti dikutip CNBC.
Wagner mencatat bahwa dalam 90 hari perdagangan terakhir, imbal hasil kumulatif pasar antara Kamis dan Jumat tertinggal sekitar 7% dibandingkan periode Senin hingga Rabu, dengan hampir seluruh perbedaan tersebut terjadi sejak 28 Februari, saat perang pecah.
“Ini seperti persiapan menghadapi berita buruk menjelang akhir pekan untuk melakukan lindung nilai, sehingga mereka mengambil risiko lebih awal, lalu di awal pekan kembali masuk. Tampaknya pengurangan risiko ini terjadi sedikit lebih cepat dibanding beberapa minggu terakhir,” bebernya.
Wall Street baru saja melalui pekan negatif, dengan Dow dan Nasdaq masuk ke wilayah koreksi di tengah kekhawatiran bahwa harga energi yang lebih tinggi dapat merugikan perekonomian. Dow, Nasdaq, dan S&P 500 semuanya mencatat penurunan mingguan kelima berturut-turut.
Pasar akan tutup pada Jumat untuk memperingati Good Friday, meskipun laporan tenaga kerja bulan Maret tetap dijadwalkan rilis pada pagi hari tersebut.

