Trump Ancam “Hancurkan Iran” Jika Gagal Deal, Negosiasi Mandek
Trump Ancam “Hancurkan Iran”
Jika Gagal Deal, Negosiasi Mandek
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas meski jalur diplomasi masih terbuka. Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras bahwa Washington akan “menghancurkan seluruh negara” Iran jika kesepakatan damai gagal dicapai, menandai eskalasi retorika di tengah gencatan senjata yang rapuh.
Mengutip laporan Al Jazeera Live yang dipublikasikan pada Minggu (19/04/2026), Trump menuduh Iran telah melakukan “pelanggaran serius” terhadap kesepakatan gencatan senjata. Meski demikian, ia tetap menyatakan optimisme bahwa kesepakatan damai akan tercapai “dengan cara baik atau cara keras”.
Pernyataan ini muncul menjelang berakhirnya gencatan senjata sementara yang selama ini menjadi satu-satunya penahan eskalasi konflik terbuka antara kedua negara. Namun, sinyal dari kedua pihak menunjukkan bahwa jarak menuju kesepakatan masih jauh. Gencatan senjata sementara antara AS dan Iran dijadwalkan berakhir pada Rabu, 22 April 2026, sesuai kesepakatan dua pekan yang mulai berlaku sejak 8 April 2026, di tengah meningkatnya ketegangan dan belum tercapainya kesepakatan damai final.
Sejumlah laporan media internasional seperti Al Jazeera (19/4/2026) dan The Guardian (15/4/2026) menegaskan bahwa batas waktu tersebut menjadi penentu apakah konflik akan mereda atau kembali memanas, mengingat perundingan lanjutan yang dimediasi Pakistan masih berlangsung tanpa kepastian hasil. Situasi di lapangan juga tetap rapuh, dengan insiden militer di Selat Hormuz dan kawasan Lebanon yang terus terjadi, sementara kedua pihak —baik Washington maupun Teheran— masih mempertahankan posisi keras dalam isu strategis seperti blokade maritim dan program nuklir. Tanpa terobosan diplomatik sebelum tenggat waktu tersebut, berakhirnya gencatan senjata berisiko membuka kembali eskalasi konflik yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.
Baca Juga
Kepala negosiator Iran menyatakan bahwa memang terdapat kemajuan dalam pembicaraan dengan AS, tetapi kesepakatan final masih belum dekat. Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali meletus setelah masa gencatan senjata berakhir.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menegaskan bahwa belum ada jadwal baru untuk perundingan tatap muka lanjutan dengan AS. Ia juga mengkritik keras sikap Washington yang dinilai masih mempertahankan tuntutan “maksimalis” dalam negosiasi.
Pernyataan tersebut sejalan dengan laporan Reuters (19/4/2026) yang menyebut Iran meminta AS untuk menyesuaikan tuntutan dengan “realitas di lapangan” sebelum pembicaraan dapat dilanjutkan. Sumber yang sama juga mencatat bahwa Iran menolak sejumlah proposal kunci, termasuk isu nuklir dan pengawasan internasional.
Sementara itu, di lapangan, eskalasi militer masih terus berlangsung. BBC dan Al Jazeera melaporkan bahwa Israel kembali melancarkan serangan ke wilayah Lebanon selatan meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata. Militer Israel bahkan menyebut telah menetapkan “yellow line”, konsep pembatasan militer yang sebelumnya diterapkan di Gaza.
Di kawasan Teluk, situasi Selat Hormuz juga tetap tegang. Kapal tanker dilaporkan masih banyak yang memilih berlabuh dan menunda pelayaran akibat ketidakpastian keamanan, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera dan diperkuat oleh data pelayaran internasional.
Laporan sebelumnya dari Reuters dan CNBC pada 18–19 April 2026 juga menunjukkan bahwa insiden penembakan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz serta ancaman pembatasan jalur oleh Iran telah membuat operator pelayaran global berada dalam posisi siaga tinggi. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada stabilitas energi global.
Dengan diplomasi yang tersendat, tekanan militer yang meningkat, dan batas waktu gencatan senjata yang semakin dekat, dunia kini menghadapi risiko nyata kembalinya konflik terbuka. Ancaman Trump dan sikap keras Iran menjadi sinyal bahwa perundingan bukan lagi sekadar upaya damai, tetapi juga bagian dari strategi tekanan yang bisa menentukan arah perang ke depan.

