Untuk Pertama Kali, Houthi-Yaman, Kirim Rudal ke Israel
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki fase baru yang lebih luas setelah kelompok Houthi di Yaman—yang didukung Iran—melancarkan serangan pertamanya terhadap Israel sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Perkembangan ini menandai perluasan medan konflik ke kawasan yang lebih luas di Timur Tengah.
Berdasarkan laporan Al Jazeera yang diterbitkan pada Sabtu (28/3/2026), kelompok Houthi mengonfirmasi telah meluncurkan rudal balistik yang menargetkan fasilitas militer Israel di wilayah selatan Tepi Barat. Militer Israel menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mendeteksi dan mencegat rudal tersebut sebelum mencapai sasaran.
Serangan ini menjadi yang pertama dari Yaman sejak konflik Iran–Israel–AS pecah, sekaligus mengindikasikan keterlibatan lebih luas dari aktor-aktor regional yang berafiliasi dengan Teheran.
Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kekecewaannya terhadap respons NATO dalam menghadapi perang Iran. Dalam sebuah konferensi bisnis, Trump menyebut aliansi tersebut sebagai “macan kertas” dan menilai NATO tidak memberikan dukungan yang memadai kepada Amerika Serikat.
Baca Juga
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa negaranya akan menuntut “harga yang mahal” setelah serangan Israel terhadap dua fasilitas nuklir sipil dan pabrik baja di Iran. Militer Iran juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan Israel “sedang bermain api” dengan menargetkan infrastruktur energi Iran—langkah yang dinilai dapat memicu eskalasi lebih luas.
Organisasi Energi Atom Iran menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas produksi yellowcake di Ardakan dan fasilitas air berat di Khondab tidak menyebabkan kebocoran material radioaktif. Namun demikian, serangan terhadap infrastruktur nuklir sipil tetap meningkatkan kekhawatiran global terkait keselamatan dan stabilitas kawasan.
Konflik ini juga terus menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa sejak 2 Maret 2026, sedikitnya 1.142 orang tewas dan 3.315 lainnya luka-luka akibat serangan Israel di negara tersebut.
Laporan tambahan dari Reuters pada 28 Maret 2026 mengonfirmasi bahwa keterlibatan kelompok Houthi memperluas dimensi konflik menjadi multi-front, meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur perdagangan dan energi global. Sementara itu, CNN pada tanggal yang sama melaporkan bahwa serangan rudal Iran ke wilayah Israel terus berlanjut, memicu sistem pertahanan udara dan sirene peringatan di sejumlah kota, termasuk Tel Aviv.
Baca Juga
Iran Tegaskan Kendali atas Selat Hormuz, Kapal dari China dan Hongkong Pun Diusir
Dalam perkembangan lain, militer Israel juga melaporkan adanya peluncuran rudal dari wilayah Yaman menuju wilayahnya pada Sabtu dini hari (28/3/2026), yang berhasil direspons oleh sistem pertahanan udara. Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah kelompok Houthi menyatakan kesiapan mereka untuk terlibat dalam konflik.
Selain itu, laporan lapangan menyebutkan adanya ledakan di Damaskus, Suriah, serta serangan terhadap pangkalan militer AS di Arab Saudi yang menyebabkan sedikitnya 12 tentara Amerika mengalami luka-luka.
Dengan masuknya Yaman ke dalam pusaran konflik, perang Iran kini tidak lagi terbatas pada tiga aktor utama, tetapi telah berkembang menjadi konflik regional yang melibatkan berbagai kelompok dan negara. Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat semakin meluas dan berdampak lebih besar terhadap stabilitas geopolitik serta perekonomian global, terutama terkait pasokan energi dan keamanan jalur perdagangan internasional.

