Bahas Ukraina dan Pertahanan Kawasan, Eropa Gelar KTT Darurat di Prancis
PARIS, investortrust.id - Prancis mengingatkan negara-negara Eropa harus berbuat lebih banyak untuk keamanan kolektif mereka, menjelang pertemuan tingkat tinggi di Paris. Pertemuan darurat ini bertujuan untuk mengatasi kekhawatiran yang meningkat terhadap upaya AS dalam mengakhiri perang di Ukraina.
Baca Juga
Pertemuan NATO di Brussels, Tantangan Keamanan Eropa Jadi Sorotan
"Karena percepatan isu Ukraina, dan sebagai akibat dari apa yang dikatakan para pemimpin AS, ada kebutuhan bagi Eropa untuk berbuat lebih banyak, lebih baik, dan dengan cara yang lebih koheren demi keamanan kolektif kita," beber seorang penasihat dari kantor Presiden Emmanuel Macron.
Para pemimpin utama Eropa akan bertemu di Paris pada Senin untuk membahas "situasi di Ukraina" dan "keamanan di Eropa," menurut kepresidenan Prancis, dikutip dari France 24, Senin (17/02/2025).
Kepala pemerintahan dari Jerman, Inggris, Italia, Polandia, Spanyol, Belanda, dan Denmark diharapkan hadir dalam pertemuan tersebut, yang berlangsung menjelang peringatan tiga tahun invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari.
Antonio Costa, yang memimpin Dewan Eropa yang mewakili 27 negara Uni Eropa, Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte juga akan hadir.
Presiden AS Donald Trump mengejutkan Ukraina dan pendukungnya di Eropa pekan lalu dengan memulai diskusi tentang invasi Rusia dalam panggilan telepon dengan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin.
Baca Juga
Langkah Mengejutkan Trump Soal Rusia-Ukraina dan NATO Bikin Uni Eropa Ketar-ketir
Pemerintahan AS yang baru juga telah memperingatkan sekutu-sekutunya di NATO bahwa Eropa tidak lagi menjadi prioritas utama keamanannya dan bahwa mereka mungkin akan mengalihkan pasukan karena fokusnya bergeser ke China.
Kremlin telah mendorong agar negosiasi, yang akan dimulai di Arab Saudi dalam beberapa hari mendatang,tidak hanya membahas perang di Ukraina yang hampir mencapai tahun ketiga, tetapi juga keamanan Eropa secara lebih luas.
Hal ini memicu kekhawatiran di antara negara-negara Eropa bahwa Putin dapat menghidupkan kembali tuntutan yang ia ajukan sebelum invasi 2022, yang bertujuan membatasi kehadiran pasukan NATO di Eropa Timur serta keterlibatan AS di benua tersebut.
Rusia Kembali ke G7?
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Minggu meredam harapan akan terobosan dalam pembicaraan mendatang dengan pejabat Rusia mengenai upaya mengakhiri perang di Ukraina.
"Proses menuju perdamaian bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dalam satu pertemuan," katanya kepada jaringan CBS saat Konferensi Keamanan Munich berakhir.
"Belum ada yang difinalisasi," tambahnya, seraya menjelaskan bahwa tujuan pembicaraan adalah membuka jalan untuk dialog yang lebih luas "yang akan melibatkan Ukraina dan berujung pada berakhirnya perang."
Rubio akan berangkat ke Arab Saudi pada Senin, sebagai bagian dari tur Timur Tengah yang ia mulai akhir pekan ini di Israel.
Pekan lalu, Trump juga mengatakan bahwa ia "sangat ingin" Rusia kembali ke G7, setelah negara itu dikeluarkan pada 2014 menyusul aneksasi Krimea oleh Moskow.
Baca Juga
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel, mengatakan bahwa kembalinya Rusia ke G7 adalah sesuatu yang "tidak terbayangkan."
"G7 adalah kelompok demokrasi besar paling maju," katanya. Namun, Rusia "semakin tidak berperilaku seperti demokrasi dan secara terang-terangan menyerang anggota G7 lainnya."
'Peran' Eropa
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Sabtu menyerukan pembentukan tentara Eropa, dengan alasan bahwa benua tersebut tidak lagi dapat bergantung pada Washington.
Zelensky menegaskan bahwa tidak boleh ada keputusan tentang Ukraina tanpa Ukraina, atau tentang Eropa tanpa Eropa.
Utusan khusus Trump untuk Ukraina, Keith Kellogg, pada Sabtu mengatakan bahwa Eropa tidak akan secara langsung terlibat dalam pembicaraan tentang Ukraina, meskipun tetap memiliki "peran" dalam proses tersebut.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth tampaknya telah mengesampingkan kemungkinan Ukraina bergabung dengan NATO atau merebut kembali seluruh wilayah yang hilang sejak 2014.
Baca Juga
Zelensky Minta Trump Berpihak pada Ukraina karena Putin Berani Abaikan Eropa
Presiden Finlandia Alexander Stubb, yang negaranya berbatasan dengan Rusia sepanjang 1.300 kilometer (800 mil), mengatakan pada Minggu bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Rusia mengenai perang di Ukraina tidak boleh mengubah tatanan keamanan Eropa.
"Tidak ada alasan bagi kita untuk membuka pintu bagi fantasi Rusia tentang tatanan keamanan baru yang tak terpisahkan," katanya.

