Iran Tegaskan Kendali atas Selat Hormuz, Kapal dari China dan Hongkong Pun Diusir
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Iran semakin menegaskan kontrolnya atas Selat Hormuz dengan mengusir tiga kapal dari jalur pelayaran strategis tersebut, di tengah eskalasi konflik dengan Israel dan Amerika Serikat yang terus berlanjut. Langkah ini dilakukan sehari setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang tenggat bagi Teheran untuk membuka kembali jalur vital energi global tersebut.
Berdasarkan laporan The New York Times yang diperbarui pada Jumat (27/3/2026) pukul 12.19 waktu AS Timur, otoritas Iran menyatakan telah memperingatkan tiga kapal agar tidak melintas di Selat Hormuz. Data pelacakan kapal dari MarineTraffic menunjukkan bahwa dua kapal yang dipaksa berbalik arah merupakan milik perusahaan pelayaran China, COSCO, yang memiliki keterkaitan dengan pemerintah China. Kapal ketiga, Lotus Rising, dimiliki oleh perusahaan Hong Kong, Lotus Ocean Shipping.
Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui media pemerintah mengonfirmasi tindakan tersebut sebagai bagian dari upaya menegakkan kontrol atas jalur strategis tersebut. Meski sebelumnya Iran menyatakan bahwa kapal dari negara “non-hostile” masih dapat melintas dengan aman, insiden ini menunjukkan bahwa situasi di lapangan sangat dinamis dan penuh ketidakpastian.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Berlanjut, Minyak Sentuh Level Tertinggi sejak 2022
Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Pengetatan kontrol oleh Iran telah mengganggu aliran energi global dan memicu gejolak ekonomi di berbagai negara.
Di saat yang sama, pertempuran terus berlangsung. Media Iran melaporkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis, termasuk pabrik pengolahan uranium, fasilitas riset nuklir, dua pabrik baja, serta kompleks industri lainnya. Belum dapat dipastikan apakah serangan tersebut dilakukan oleh Israel, Amerika Serikat, atau gabungan keduanya.
Ketegangan juga meluas ke Lebanon. Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi baru di wilayah selatan Beirut yang padat penduduk—basis kelompok Hezbollah yang didukung Iran—menandakan kemungkinan serangan udara lanjutan.
Tekanan global kian meningkat. Negara-negara G7 menggelar pertemuan tingkat tinggi di Prancis pada Jumat (27/3/2026) untuk membahas upaya menghentikan perang dan memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya juga menyerukan agar negara-negara sekutu mengirim kapal perang guna melindungi jalur tersebut dari ancaman Iran.
Baca Juga
Presiden Donald Trump di sisi lain menyatakan bahwa pembicaraan damai dengan Iran “berjalan sangat baik”, meskipun Teheran secara terbuka membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington. Trump juga menegaskan bahwa militer AS terus menyerang target-target Iran secara intensif, sembari mengancam akan menyerang fasilitas listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya. Tenggat tersebut kini diperpanjang hingga 6 April 2026.
Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi. Laporan Reuters yang diterbitkan pada 27 Maret 2026 menyebutkan bahwa gangguan pasokan melalui Selat Hormuz telah mendorong lonjakan harga minyak global serta meningkatkan risiko inflasi di berbagai negara. Sementara itu, Al Jazeera pada tanggal yang sama melaporkan bahwa ketegangan di jalur pelayaran tersebut menjadi salah satu titik paling kritis dalam konflik, dengan potensi meluas menjadi krisis global jika tidak segera diredakan.
Selain energi, sektor pangan juga mulai terdampak. Gangguan pasokan pupuk akibat konflik berpotensi meningkatkan harga pangan dan memicu kerawanan pangan di sejumlah wilayah. Di Lebanon, lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi akibat konflik antara Israel dan Hezbollah, dengan lebih dari 100.000 orang bergantung pada tempat penampungan darurat, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Baca Juga
Israel Gempur Situs Rudal Iran, Trump Tunda Serangan 10 Hari
Dari sisi korban jiwa, lembaga Human Rights Activists News Agency melaporkan lebih dari 1.492 warga sipil tewas di Iran dari total korban lebih dari 3.300 orang. Di Lebanon, korban tewas telah melampaui 1.110 orang, sementara puluhan korban juga dilaporkan di negara-negara Teluk dan Israel. Amerika Serikat sendiri melaporkan 13 personel militernya tewas dalam konflik ini.
Dengan eskalasi militer yang terus berlangsung dan tekanan terhadap jalur energi global yang semakin intens, konflik Iran–Israel–AS kini memasuki fase yang tidak hanya menentukan stabilitas kawasan, tetapi juga masa depan ekonomi global.

