Israel Gempur Teheran, Kerusakan Meluas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi perang Iran–Israel memasuki babak yang semakin intens ketika Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran ke Teheran dan sejumlah wilayah lain di Iran, Minggu (29/3/2026). Serangan tersebut langsung dibalas Iran dengan rentetan rudal balistik ke wilayah Israel, di tengah upaya diplomasi regional yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Berdasarkan laporan The New York Times yang dipublikasikan pada Minggu (29/3/2026) oleh Aaron Boxerman dan Sanam Mahoozi, serangan udara Israel menargetkan infrastruktur strategis di ibu kota Iran. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa kantor pusat Al Araby TV di Teheran mengalami kerusakan, sementara serangan di pelabuhan selatan Bandar Khamir menewaskan sedikitnya lima orang.
Sebagai balasan, Iran menembakkan sejumlah rudal balistik ke Israel. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, serangan tersebut memicu kebakaran di kawasan industri besar di Israel selatan yang mencakup fasilitas limbah berbahaya.
Di saat yang sama, para diplomat dari Arab Saudi, Mesir, dan Turki berkumpul di Islamabad untuk mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan. Namun, pertemuan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda terobosan signifikan, terutama karena tidak adanya kehadiran langsung pejabat Amerika Serikat maupun Iran dalam forum tersebut.
Upaya diplomasi juga diwarnai ketegangan baru setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirimkan proposal damai berisi 15 poin kepada Iran melalui mediator Pakistan. Namun, Teheran menolak tawaran tersebut. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan menuduh Washington hanya “berpura-pura berdiplomasi” sambil diam-diam merencanakan invasi darat.
Konflik yang terus bereskalasi juga berdampak luas, termasuk terhadap kehidupan keagamaan. Masih menurut laporan The New York Times (29/3/2026), sebagian besar situs suci di Kota Tua Yerusalem ditutup untuk umum sejak perang dimulai. Bahkan, dua pemimpin Kristen senior dilaporkan dicegah memasuki Gereja Makam Kudus untuk merayakan misa Minggu Palma.
Baca Juga
Iran Siaga Invasi Darat, AS Tambah Pasukan, Houthi Terdepan dalam Konflik Multi-Front
Dari sisi militer, kampanye gabungan Israel dan Amerika Serikat sejauh ini belum mampu memaksa Iran memenuhi tuntutan Washington terkait program nuklir maupun membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Iran justru berhasil mempertahankan blokade di selat tersebut, yang mendorong lonjakan harga minyak global lebih dari 50%.
Laporan Reuters pada Minggu (29/3/2026) juga menegaskan bahwa ketegangan di Selat Hormuz dan meningkatnya risiko geopolitik telah memicu lonjakan tajam harga energi serta memperbesar kekhawatiran gangguan pasokan global. Sementara itu, Al Jazeera dalam pembaruan langsungnya pada hari yang sama mencatat bahwa konflik kini semakin meluas dengan keterlibatan kelompok Houthi di Yaman, yang meluncurkan serangan rudal ke Israel meski berhasil dicegat.
Di lapangan, dampak kemanusiaan terus meningkat. Kelompok pemantau HAM Iran, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan bahwa dalam 24 jam pada Sabtu (28/3/2026) terjadi sedikitnya 701 serangan udara di Iran—salah satu yang tertinggi sejak perang dimulai pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 24 warga sipil. Secara kumulatif, korban sipil sejak awal konflik mencapai sedikitnya 1.551 orang, termasuk 236 anak-anak.
Di Lebanon, ribuan pelayat menghadiri pemakaman tiga jurnalis yang tewas dalam serangan udara Israel di Beirut pada Minggu (29/3/2026). Ketiganya adalah Ali Choeib dari Al Manar, Fatima Ftouni dari Al-Mayadeen, dan Mohammad Ftouni. Militer Israel mengklaim Choeib memiliki afiliasi dengan sayap bersenjata Hizbullah, namun tidak memberikan komentar terkait dua korban lainnya.
Sementara itu, opsi eskalasi militer Amerika Serikat terus mengemuka. Menurut laporan The New York Times, Washington mempertimbangkan berbagai skenario, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi Iran atau bahkan operasi darat untuk mengamankan uranium yang diperkaya. Sebanyak 2.500 marinir AS dilaporkan telah tiba di kawasan Timur Tengah pada Sabtu (28/3/2026) sebagai bagian dari kesiapan operasi amfibi.
Dengan jalur diplomasi yang tersendat dan opsi militer yang semakin terbuka, konflik Iran–Israel kini memasuki fase kritis yang berpotensi memperluas instabilitas kawasan dan mengguncang ekonomi global, terutama melalui tekanan pada pasar energi dan jalur perdagangan strategis.
Kerusakan Meluas
Skala kerusakan di Teheran dan sejumlah wilayah Iran dilaporkan semakin meluas seiring intensitas serangan udara Israel yang meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Dalam 24 jam hingga Sabtu (28/3/2026), sedikitnya 701 serangan udara tercatat di berbagai wilayah Iran, salah satu tingkat serangan tertinggi sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026.
Berdasarkan laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang dikutip The New York Times pada Minggu (29/3/2026), sebagian besar serangan tersebut menghantam ibu kota Teheran. Sedikitnya 24 warga sipil dilaporkan tewas dalam periode tersebut, sementara total korban sipil sejak awal konflik telah mencapai sedikitnya 1.551 orang, termasuk 236 anak-anak.
Baca Juga
Di Teheran, kerusakan tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga merambah fasilitas sipil. Media pemerintah Iran melaporkan kantor pusat jaringan televisi Al Araby mengalami kerusakan akibat serangan udara. Selain itu, sejumlah fasilitas publik seperti bangunan layanan darurat dan infrastruktur perkotaan turut terdampak, memperlihatkan meluasnya dampak perang ke pusat kehidupan sipil.
Di luar ibu kota, serangan juga menghantam berbagai wilayah strategis. Di pelabuhan selatan Bandar Khamir, sedikitnya lima orang dilaporkan tewas akibat serangan udara, sebagaimana dilaporkan The New York Times pada Minggu (29/3/2026). Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa kampanye militer Israel tidak lagi terbatas pada fasilitas nuklir atau militer, tetapi telah menjangkau jaringan logistik dan ekonomi Iran.
Sementara itu, laporan Reuters pada Minggu (29/3/2026) menyebutkan bahwa meluasnya serangan di berbagai provinsi Iran meningkatkan risiko gangguan terhadap stabilitas domestik dan aktivitas ekonomi, terutama di kota-kota besar. Infrastruktur vital, termasuk fasilitas energi dan transportasi, menjadi bagian dari target strategis yang berpotensi memperdalam tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Di sisi lain, eskalasi serangan ini terjadi di tengah kebuntuan diplomasi. Pertemuan para menteri luar negeri Arab Saudi, Mesir, dan Turki di Islamabad, Pakistan, belum menghasilkan langkah konkret untuk menghentikan konflik. Tidak adanya partisipasi langsung dari Amerika Serikat dan Iran dalam forum tersebut dinilai sebagai salah satu faktor yang menghambat tercapainya terobosan.
Perang yang telah berlangsung lebih dari satu bulan ini juga memperlihatkan dampak sistemik terhadap Iran. Selain korban jiwa dan kerusakan fisik, tekanan terhadap infrastruktur sipil dan ekonomi semakin nyata. Gangguan terhadap fasilitas publik, meningkatnya jumlah pengungsi internal, serta terganggunya aktivitas ekonomi menjadi indikasi bahwa konflik telah memasuki fase yang lebih luas dan kompleks.
Sejumlah analis yang dikutip Al Jazeera pada Minggu (29/3/2026) menilai bahwa intensitas serangan yang tinggi, terutama di wilayah perkotaan seperti Teheran, menandakan perubahan strategi militer yang tidak lagi terbatas pada target taktis, tetapi juga bertujuan menekan kapasitas negara secara keseluruhan.
Dengan intensitas serangan yang terus meningkat dan jalur diplomasi yang masih tersendat, kerusakan di Teheran dan wilayah Iran lainnya diperkirakan akan terus bertambah, memperbesar risiko krisis kemanusiaan dan ketidakstabilan kawasan dalam jangka menengah.

