Iran Tetap Mampu Serang Israel Meski Digempur, Ini Strategi “Perang Daya Tahan” Teheran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Meski menjadi sasaran ribuan serangan udara Amerika Serikat dan Israel sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, Iran masih menunjukkan kemampuan untuk melancarkan serangan balasan ke Israel dan negara-negara sekutunya. Fenomena ini menegaskan bahwa konflik tidak hanya ditentukan oleh kekuatan teknologi, tetapi juga oleh strategi daya tahan dan volume persenjataan.
Laporan Reuters menyebut Iran memiliki salah satu persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah, dengan estimasi awal mencapai 2.500 hingga 6.000 unit sebelum perang dimulai. Bahkan setelah mengalami kerusakan signifikan akibat serangan udara, Iran masih memiliki stok yang cukup untuk melanjutkan serangan secara berkala.
Selain rudal, kekuatan utama Iran terletak pada produksi drone dalam skala besar. Iran diperkirakan mampu memproduksi hingga 10.000 drone per bulan, yang digunakan untuk menyerang target militer dan infrastruktur energi di kawasan. Strategi ini memungkinkan Iran mempertahankan tekanan militer dengan biaya relatif rendah dibandingkan sistem pertahanan udara lawan yang jauh lebih mahal.
Baca Juga
Iran-Israel Tetap Saling Serang di Tengah Ketidakpastian, Harga Minyak Tembus US$100
Menurut analisis Council on Foreign Relations, penggunaan drone murah dan rudal jarak jauh menjadi bagian dari strategi perang asimetris Iran, yakni menghadapi lawan yang lebih unggul secara teknologi dengan pendekatan kuantitas dan keberlanjutan serangan.
Pendekatan ini terlihat di lapangan. Meski Israel mengklaim telah menghancurkan sebagian besar peluncur rudal Iran, serangan tetap terjadi. Bahkan, laporan The Guardian pada 23 Maret 2026 mencatat penggunaan rudal dengan hulu ledak klaster yang lebih sulit dicegat, sehingga mampu menembus sistem pertahanan udara Israel.
Tidak hanya itu, Iran juga mengandalkan infrastruktur militer bawah tanah dan sistem peluncur yang tersebar. Hal ini membuat kemampuan militernya tidak mudah dilumpuhkan sekaligus.
Konflik ini bahkan mulai bergeser menjadi apa yang disebut sebagai “perang stok” (war of stockpiles), di mana kedua pihak saling menguras amunisi. Laporan media Prancis Le Monde menyebut Iran telah meluncurkan lebih dari 1.100 serangan dalam tiga pekan pertama perang, sementara sistem pertahanan lawan harus menghabiskan rudal intersepsi mahal untuk menahannya.
Dalam konteks ini, Iran tampaknya tidak berupaya memenangkan perang secara cepat, melainkan memperpanjang konflik. Strateginya adalah mengganggu jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz, serta menekan ekonomi lawan melalui lonjakan harga energi.
Sejumlah analis menilai pendekatan ini efektif. Meski intensitas serangan Iran menurun dibanding fase awal, kemampuan untuk terus meluncurkan serangan menunjukkan bahwa struktur militernya belum lumpuh sepenuhnya. Bahkan dengan sisa sekitar 1.000 rudal, Iran masih mampu mempertahankan ancaman signifikan terhadap kawasan.
Di sisi lain, sistem pertahanan udara negara-negara Barat dan sekutunya mulai menghadapi tekanan. Penggunaan drone murah dalam jumlah besar dinilai mampu menguras stok interceptor mahal milik Amerika Serikat dan Israel, menciptakan ketidakseimbangan biaya dalam perang.
Dengan demikian, kemampuan Iran untuk terus menyerang bukan semata karena kekuatan yang tidak terpengaruh, melainkan karena desain strategi militernya yang memang mengandalkan daya tahan, produksi massal, dan perang jangka panjang.
Konflik ini kini memasuki fase di mana kemenangan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat di awal, melainkan siapa yang paling mampu bertahan paling lama, sebuah realitas baru dalam perang modern yang juga berdampak langsung pada stabilitas energi dan ekonomi global.

