Israel-Iran Saling Serang, Harga Minyak Meroket di Atas 7%
HOUSTON, investortrust.id – Harga minyak mentah global melonjak tajam pada perdagangan Jumat (13/6/2025), menyusul saling serang antara Israel dan Iran. Konflik langsung dua negara ini meningkatkan kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, pusat produksi dan ekspor energi dunia.
Baca Juga
Israel Lancarkan Serangan Udara ke Iran, Picu Ketegangan Regional
Harga Brent kontrak Agustus ditutup melonjak 7,02% ke level US$74,23 per barel, setelah sempat menyentuh intraday high US$78,50 — posisi tertingginya sejak 27 Januari. Dalam sepekan, Brent telah menguat 12,5%.
Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 7,62% ke US$72,98 per barel, sempat menembus level US$77,62 pada sesi perdagangan. Secara mingguan, WTI naik 13%, mencatatkan lonjakan harian terbesar sejak tahun 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi global.
Lonjakan harga terjadi seiring pengumuman militer Israel bahwa mereka telah menyerang fasilitas nuklir, pabrik rudal balistik, dan pusat komando militer Iran dalam operasi yang disebut sebagai langkah pencegahan jangka panjang terhadap pengembangan senjata atom oleh Teheran. Iran berjanji akan membalas dengan keras.
Tak lama setelah penutupan perdagangan Jumat malam, sejumlah rudal Iran dilaporkan menghantam bangunan di Tel Aviv, sementara suara ledakan terdengar hingga wilayah selatan Israel, menurut laporan berbagai media.
Baca Juga
Presiden AS Donald Trump mendesak Teheran untuk segera membuat kesepakatan atas program nuklirnya demi mencegah “serangan yang lebih brutal berikutnya yang sudah direncanakan.”
Meski demikian, National Iranian Oil Refining and Distribution Company menyatakan bahwa fasilitas penyimpanan dan penyulingan minyak Iran tetap beroperasi normal dan tidak mengalami kerusakan akibat serangan.
Sebagai anggota OPEC, Iran saat ini memproduksi sekitar 3,3 juta barel per hari (bph), dengan ekspor minyak dan bahan bakar mencapai lebih dari 2 juta bph. Menurut para analis, kapasitas cadangan produksi dari OPEC dan sekutunya — termasuk Rusia — untuk menggantikan pasokan yang terganggu saat ini kurang lebih setara dengan volume produksi Iran.
Namun, kekhawatiran pasar kini beralih ke potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang menjadi titik ekspor vital bagi negara-negara seperti Iran, Irak, Kuwait, dan Arab Saudi.
“Empat negara tersebut sangat bergantung pada satu jalur ekspor sempit ini,” tulis Rabobank dalam catatannya, dikutip dari Reuters. Sekitar 20% konsumsi minyak global atau 18-19 juta bph melewati selat ini setiap hari.
Ben Hoff, Kepala Riset Komoditas Societe Generale, mengatakan bahwa hingga saat ini Israel masih menghindari infrastruktur energi utama Iran, termasuk Pulau Kharg — titik ekspor 90% minyak mentah Iran. Namun, ia menekankan bahwa potensi eskalasi konflik bisa mengarah pada skenario “energi dibalas dengan energi”.
“Serangan terhadap infrastruktur minyak salah satu pihak bisa dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi pihak lain,” kata Hoff.
Para analis JP Morgan memperingatkan bahwa jika Iran memilih untuk memblokade Selat Hormuz, maka tindakan tersebut akan berdampak langsung pada perekonomian mereka sendiri.
“Iran sangat bergantung pada kebebasan pelayaran di wilayah tersebut, dan memblokade selat akan merusak hubungannya dengan pelanggan utama, yaitu Tiongkok,” tulis analis JP Morgan.
Sementara itu, data CFTC menunjukkan bahwa spekulan meningkatkan posisi beli bersih mereka di kontrak minyak berjangka dan opsi AS sebanyak 15.157 kontrak menjadi 121.911 hingga 10 Juni.
Namun, prospek produksi dalam negeri AS menunjukkan penurunan. Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak dan gas AS turun untuk minggu ketujuh berturut-turut, dengan total rig turun 35 unit dibandingkan tahun lalu. Rig minyak turun tiga ke level 439, posisi terendah sejak Oktober 2021, sementara rig gas berkurang satu menjadi 113.
Aksi jual juga terjadi di pasar saham, sementara investor beralih ke aset lindung nilai seperti emas, dolar AS, dan franc Swiss. Lonjakan harga minyak kini menjadi salah satu variabel utama yang dapat memperumit proyeksi inflasi dan kebijakan moneter global dalam beberapa bulan ke depan.

