Trump Klaim Serius Ingin Capai Kesepakatan dengan Iran, Teheran Bantah Negosiasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan komitmennya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran guna mengakhiri konflik yang tengah berlangsung. Namun, klaim tersebut kembali dibantah oleh pihak Teheran, mempertegas jurang perbedaan narasi di tengah eskalasi perang yang belum menunjukkan tanda mereda.
Dalam wawancara dengan CNBC yang dipublikasikan pada Senin, 23 Maret 2026 pukul 07.32 waktu New York (EDT), Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat “sangat berniat untuk membuat kesepakatan” dengan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan kepada jurnalis Joe Kernen melalui sambungan telepon, hanya beberapa saat setelah Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada hari yang sama, Trump menyebut bahwa Washington dan Teheran telah melakukan “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” yang mengarah pada kemungkinan “penyelesaian total permusuhan di Timur Tengah”. Sebagai bagian dari proses tersebut, ia memerintahkan penundaan serangan terhadap pembangkit listrik dan fasilitas energi Iran selama lima hari.
Namun, media pemerintah Iran membantah klaim tersebut. Mengutip seorang pejabat senior keamanan, media Iran melalui kanal Telegram menyatakan bahwa tidak ada negosiasi, baik langsung maupun tidak langsung, antara Washington dan Teheran. Pernyataan itu juga menegaskan bahwa “perang psikologis” semacam ini tidak akan mengembalikan Selat Hormuz ke kondisi normal maupun menciptakan stabilitas di pasar energi.
Baca Juga
Balas Serangan di Natanz, Rudal Iran Hantam Fasilitas Nuklir Dimona Israel
Perbedaan klaim ini memperlihatkan ketegangan komunikasi di antara kedua negara. Trump, dalam keterangan lanjutan yang dikutip media AS, bahkan menyebut pembicaraan terbaru berlangsung pada Minggu malam (22/3/2026), dengan keterlibatan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner. Ia juga mengklaim bahwa Iran “sangat ingin membuat kesepakatan”.
Laporan CNBC tersebut juga mencatat bahwa Gedung Putih belum memberikan rincian lebih lanjut terkait pihak yang terlibat dalam pembicaraan maupun lokasi pertemuan. Sementara itu, Iran tetap pada posisinya bahwa tidak ada proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Informasi senada juga dilaporkan Al Jazeera dan The New York Times pada 23 Maret 2026, yang menyebut bahwa pemerintah Iran menilai pernyataan Trump sebagai upaya meredakan tekanan pasar energi global sekaligus memberi waktu bagi langkah militer lanjutan. Kedua media tersebut menyoroti bahwa hingga kini belum ada jalur diplomasi yang jelas untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar global merespons cepat. Harga minyak dunia turun setelah pernyataan Trump terkait potensi negosiasi, sementara dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya. Namun, analis menilai sentimen positif ini masih sangat rapuh tanpa adanya kemajuan konkret di meja perundingan.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga minggu ini juga berdampak signifikan terhadap jalur perdagangan energi global. Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia—praktis lumpuh setelah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas sebagai respons atas serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut gangguan pasokan energi akibat konflik ini sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak modern, memicu kekhawatiran inflasi global dan ketidakstabilan ekonomi.
Dengan pernyataan yang saling bertentangan antara Washington dan Teheran, serta eskalasi militer yang terus berlangsung, prospek perdamaian masih diliputi ketidakpastian. Penundaan serangan oleh AS dinilai hanya memberikan ruang jeda sementara, sementara dunia menanti apakah diplomasi benar-benar akan terwujud atau sekadar menjadi bagian dari strategi perang yang lebih besar.

