Iran Targetkan Nyawa Benyamin Netanyahu
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan dalam perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus meningkat dan mulai berdampak luas terhadap stabilitas keamanan serta pasokan energi di kawasan Teluk. Iran bahkan mengancam akan membunuh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah eskalasi konflik yang terus meluas.
Mengutip laporan CNBC yang dipublikasikan 15 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) menyatakan akan memburu dan membunuh Netanyahu. Kantor berita resmi Iran IRNA menyebut Netanyahu sebagai “pembunuh anak-anak” dan menegaskan bahwa IRGC akan mengejar pemimpin Israel tersebut jika masih hidup.
Ancaman tersebut muncul setelah Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah tokoh penting Iran. Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan telah “melenyapkan” dua pejabat senior intelijen Iran dari Komando Darurat Khatam al-Anbiya.
Baca Juga
Netanyahu Klaim Serangan Israel Tewaskan Ilmuwan Nuklir Iran
IDF juga melaporkan telah menyerang pusat riset utama Badan Antariksa Iran serta pabrik produksi sistem pertahanan udara Iran pada Sabtu malam waktu setempat. Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer Israel yang terus berlangsung sejak perang dengan Iran meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Iran pada saat yang sama terus melancarkan serangan balasan. Layanan darurat Israel melaporkan adanya rentetan rudal yang ditembakkan ke wilayah Israel bagian tengah, meskipun sejauh ini tidak ada korban luka yang dilaporkan.
Dampak konflik juga mulai terasa di kawasan Teluk. Menurut laporan media regional, aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, kembali beroperasi pada Minggu setelah sempat terhenti sehari sebelumnya akibat kebakaran yang dipicu serpihan drone yang berhasil dicegat.
Perang yang terus berlangsung juga mengganggu arus energi global. Jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, yang memisahkan Iran dan Uni Emirat Arab, dilaporkan mengalami gangguan serius sehingga menekan pasokan energi global.
Baca Juga
Harga Minyak Bertahan di Atas $100, Krisis Energi Global Mengintai
Akibat ketegangan tersebut, harga minyak Brent ditutup di atas US$100 per barel selama dua hari berturut-turut, dan telah melonjak lebih dari 40% sejak perang Iran dimulai, menurut laporan CNBC, 15 Maret 2026.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan telah memerintahkan US Central Command untuk melancarkan serangan udara terhadap target militer di Pulau Kharg pada Jumat (13/3/2026). Pulau ini merupakan terminal ekspor minyak paling strategis Iran yang menyumbang sekitar 90% ekspor minyak mentah negara tersebut dengan kapasitas pemuatan sekitar 7 juta barel per hari.
Trump juga memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan terhadap fasilitas ekspor minyak Iran, sembari mendesak negara-negara sekutu untuk mengirim kapal perang guna membantu Amerika Serikat mengamankan Selat Hormuz.
Di tengah meningkatnya eskalasi militer, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya siap bekerja sama dengan negara-negara kawasan untuk menyelidiki target serangan yang terjadi. Dalam pernyataan di Telegram pada Minggu (15/3/2026), Araghchi menegaskan bahwa Iran hanya menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dan kepentingannya di kawasan.
“Sejauh ini kami tidak menargetkan wilayah sipil atau kawasan permukiman di negara-negara kawasan,” ujar Araghchi. Ia juga memperingatkan bahwa upaya menduduki Pulau Kharg akan menjadi kesalahan yang lebih besar daripada sekadar menyerangnya.
Eskalasi konflik juga mulai memengaruhi sektor olahraga global. Formula 1 mengumumkan pembatalan balapan Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada April 2026 karena situasi keamanan di kawasan Teluk.
Sementara itu, menurut laporan BBC News dan Al Jazeera pada 15 Maret 2026, Israel melancarkan serangan berskala luas ke sejumlah target di Iran, termasuk wilayah Provinsi Isfahan. Iran juga menembakkan gelombang rudal ke Israel serta mengklaim menyerang pangkalan militer AS di Irak dan Kuwait.
Pemimpin Gereja Katolik Paus Leo XIV turut menyerukan penghentian perang dan mendesak dibukanya kembali dialog untuk mencegah korban sipil yang lebih besar di Timur Tengah. Menurutnya, ribuan warga sipil telah tewas dan banyak lainnya terpaksa mengungsi akibat konflik yang terus memburuk.
Dengan meningkatnya serangan militer di berbagai titik kawasan, konflik AS-Israel melawan Iran kini tidak hanya menjadi krisis keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas energi dan ekonomi global.

