AS Sebut Pemimpin Baru Iran Mojtaba Khamenei Terluka dan Bersembunyi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Amerika Serikat mengklaim bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, berada dalam kondisi terluka serius dan tengah bersembunyi.
Pernyataan ini muncul di tengah gelombang serangan udara besar-besaran yang dilancarkan oleh aliansi Amerika Serikat dan Israel ke berbagai wilayah strategis di Iran.
Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, dalam konferensi pers di Pentagon pada Jumat (13/3/2026), mengungkapkan bahwa Mojtaba Khamenei kemungkinan mengalami luka yang bisa berujung pada cacat permanen.
Melansir laporan dari Al Jazeera dan BBC.com, Hegseth menyebutkan bahwa serangan militer tersebut telah melumpuhkan infrastruktur militer serta menargetkan para pimpinan tinggi Teheran sejak operasi dimulai pada akhir Februari lalu.
Meskipun Pentagon belum memberikan bukti fisik atas klaim tersebut, pernyataan ini dikeluarkan tepat sehari setelah Mojtaba Khamenei merilis pesan tertulis di televisi pemerintah Iran.
Dalam pesan tersebut, ia menegaskan bahwa Iran akan terus melakukan perlawanan dan mengancam akan menyerang seluruh pangkalan militer AS di kawasan itu jika tidak segera ditutup. Mojtaba, yang menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, setelah tewas pada serangan 28 Februari lalu, hingga kini belum terlihat tampil di depan publik.
Baca Juga
Netanyahu Klaim Serangan Israel Tewaskan Ilmuwan Nuklir Iran
Di sisi lain, situasi di lapangan terus memanas dengan serangan yang meluas hingga ke negara-negara tetangga. Berdasarkan rekaman video yang dianalisis oleh BBC Verify, ledakan terjadi di dekat aksi unjuk rasa Hari Al-Quds di Teheran tak lama setelah Israel melancarkan serangan udara terbaru ke ibu kota Iran. Menurut data Kementerian Kesehatan Iran, setidaknya 1.444 orang telah tewas dan lebih dari 18.000 lainnya terluka akibat serangan AS dan Israel yang menyasar sekitar 15.000 target, mencakup fasilitas produksi rudal hingga pusat inovasi pertahanan.
Konflik ini juga mulai menyeret stabilitas regional di kawasan Teluk. Militer Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan telah menangkis puluhan rudal dan drone yang diluncurkan dari Iran. Di Irak, sebuah insiden tragis menimpa militer AS setelah pesawat tanker KC-135 Stratotanker jatuh di wilayah barat negara tersebut dan menewaskan seluruh enam awaknya. Komando Pusat AS (US Central Command) menegaskan bahwa insiden itu murni kecelakaan dan bukan disebabkan oleh serangan musuh.
Untuk meredam gejolak ekonomi akibat terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz, Washington mengambil langkah darurat dengan melonggarkan sementara sanksi terhadap pembelian minyak Rusia. Langkah ini bertujuan menahan lonjakan harga energi global yang kian tak terkendali seiring berlangsungnya perang.
Di Lebanon, Israel turut meningkatkan tekanan psikologis dengan menyebarkan selebaran kode QR yang berisi pesan untuk melucuti Hezbollah, meskipun tentara Lebanon memperingatkan adanya risiko peretasan data dari kode tersebut.
Baca Juga
Trump Klaim Perang Iran “Berjalan Baik”, Serangan Meluas ke Negara-Negara Teluk
Analisis dari Mohamad Elmasry, profesor di Doha Institute for Graduate Studies melalui Al Jazeera, menilai bahwa klaim Pentagon mengenai kondisi pemimpin Iran kemungkinan bertujuan untuk meyakinkan publik Amerika Serikat di tengah meningkatnya penolakan domestik terhadap perang yang memicu kenaikan harga bensin dan korban jiwa di pihak militer AS.
Hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan keterangan resmi untuk menanggapi klaim mengenai kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei.

