Bursa Eropa Anjlok Dilanda ‘Panic Selling’, Investor Khawatir Eskalasi Perang Iran dan Krisis Minyak
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id — Saham-saham Eropa turun tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026). Para pelaku pasar memantau perkembangan di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak.
Baca Juga
Harga Minyak Tembus US$ 100, Produsen Timur Tengah Pangkas Produksi Imbas Perang Iran
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 turun sekitar 0,7%, dengan bursa-bursa utama dan seluruh sektor kecuali minyak dan gas mengalami aksi jual.
Investor Eropa memantau gejolak lebih lanjut di pasar global setelah harga minyak pada Minggu naik ke atas US$110 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022, ketika Rusia menginvasi Ukraina.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate terakhir naik 5% menjadi US$95,81 per barel, sementara patokan global Brent diperdagangkan hampir 8% lebih tinggi di US$100 per barel.
Imbal hasil obligasi pemerintah Eropa sempat naik tajam sebelumnya karena perang di Iran dan lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.
Di Inggris, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun — acuan biaya pinjaman pemerintah Inggris — naik 3 basis poin menjadi 4,664%. Imbal hasil obligasi 2 tahun naik 13 basis poin menjadi 4%, sementara obligasi 5 tahun naik 5 basis poin menjadi 4,175%. Di Jerman, imbal hasil obligasi Bund 2 tahun naik 1 basis poin setelah memangkas kenaikan sebelumnya, mendorong biaya pinjaman jangka pendek menjadi 2,333%.
Baca Juga
Bursa Eropa Tertekan Harga Minyak, Stoxx 600 Tergerus Hampir 5% dalam Sepekan
Lonjakan harga energi terjadi setelah produsen minyak besar Timur Tengah seperti Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab memangkas produksi minyak setelah penutupan Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menulis di Truth Social pada Minggu bahwa kenaikan “harga minyak jangka pendek” merupakan “harga yang sangat kecil untuk dibayar” demi menghancurkan ancaman nuklir Iran. “Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!” tulis Trump.
Di tengah aksi jual besar-besaran tersebut, perusahaan tambang multinasional Inggris Anglo-American turun 3,4% dan menjadi saham dengan kinerja terburuk di FTSE 100, sementara Rolls-Royce, raksasa kedirgantaraan dan pertahanan yang tercatat di London, turun 2%.

