Dilanda 'Panic Selling' dan Isu Komputasi Kuantum, Harga Bitcoin Anjlok ke US$ 85.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin kembali kembali jatuh ke level US$ 85.792,72 pada pukul 10.12 WIB, dilansir dari CoinMarketCap, Jumat (21/11/2025), bahkan yang terdalam di kurun waktu enam bulan belakangan.
Koreksi tajam ini dipicu aksi jual besar-besaran investor besar (whale) senilai US$ 1,3 miliar, yang diperparah oleh kenaikan pasar akibat isu keamanan komputasi kuantum yang kembali memanas.
Gelombang panic selling tersebut memicu likuidasi lebih dari US$ 220 juta posisi long dalam 24 jam, mendorong volatilitas yang telah meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Pemicunya bermula dari komentar miliarder Ray Dalio yang menyinggung potensi kerentanan kriptografi Bitcoin terhadap kemajuan komputasi kuantum. Komentar itu langsung memicu kecemasan lama komunitas kripto global mengenai kemungkinan penembusan sistem keamanan Bitcoin.
Baca Juga
Bitcoin Anjlok ke Level Terendah 6 Bulan di US$ 86.000-an, Pasar Kripto Rungkad
Namun, analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai, narasi ‘quantum panic’ lebih bersifat psikologis. Risiko komputasi kuantum terhadap Bitcoin masih berada pada level teoritis dan belum mendesak.
“Justru, jika benar-benar ada terobosan yang mampu mendeskripsi Bitcoin, maka sistem perbankan global yang menggunakan RSA akan jauh lebih rentan. Jadi, kepanikan ini lebih dipicu persepsi, bukan realita teknologinya,” ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (21/11/2025).
Situasi pasar makin rapuh seusai Arkham Intelligence mengungkap bahwa Owen Gunden, salah satu early adopter Bitcoin sejak 2011, menjual seluruh 11.000 BTC miliknya. Penjualan masif ini memperlebar tekanan jual dan menyeret harga Bitcoin menjauh dari area US$ 90.000.
Fyqieh menilai, aksi jual itu tidak sepenuhnya mencerminkan sentimen jangka panjang. Keputusan satu entitas tidak bisa menjadi indikator arah pasar. Banyak investor jangka panjang mengambil keputusan berdasarkan portofolio individual, bukan kondisi fundamental Bitcoin.
“Namun benar bahwa suplai tambahan dalam kondisi pasar rapuh dapat mempercepat koreksi,” katanya.
Baca Juga
Michael Saylor Tetap Percaya pada Bitcoin Meski Rugi US$ 20 Miliar, Ini Alasannya
Siklus Bull Belum Tuntas
Ketidakpastian suku bunga The Fed pada Desember turut memberi tekanan. Ekspektasi pemotongan suku bunga yang kian kecil meningkatkan risiko pengetatan likuiditas, yang secara historis berdampak negatif pada aset kripto.
CryptoQuant melaporkan, indeks Bull Score Bitcoin turun ke level 20/100, serta harga kini berada di bawah MA 365 hari yang mengindikasikan fase paling bearish dalam siklus bull 2023-2025.
Kendati begitu, Fyqieh menilai kondisi ini tidak otomatis menandakan akhir siklus bullish. Penurunan hingga 25%-30% adalah hal yang wajar dalam market bullish, bahkan dalam bearish sekalipun Bitcoin sering membantu rebound kuat.
“Level teknikal seperti area US$ 84.000 hingga US$ 90.000 menjadi penting untuk memantau potensi pembalikan,” ucapnya.
Fyqieh menyatakan, benturan antara panic selling, kekhawatiran komputasi kuantum, aksi jual whale, dan dinamika dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund (ETF) menciptakan badai volatilitas yang belum mereda.
“Volatilitas seperti ini adalah bagian dari karakter Bitcoin. Investor jangka panjang tidak fokus pada gejolak harian, tapi pada struktur jangka panjang yang masih solid. Yang penting adalah manajemen risiko, bukan mengejar harga,” ujar Fyqieh.

