Data Ritel AS Mengecewakan, Sinyal Pelemahan Daya Beli
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Aktivitas konsumen melambat tajam selama musim belanja liburan Desember di tengah cuaca buruk, dampak tarif, dan inflasi yang tetap tinggi. Hal itu terungkap dari laporan Departemen Perdagangan AS pada Selasa (10/2/2026).
Baca Juga
Didorong Permintaan Otomotif, Penjualan Ritel AS Meningkat pada Juli
Penjualan ritel tercatat stagnan secara bulanan setelah naik 0,6% pada November, berdasarkan data yang disesuaikan secara musiman namun belum memperhitungkan inflasi. Ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan kenaikan 0,4%. Jika tidak termasuk penjualan mobil, angka penjualan juga tidak berubah, jauh di bawah estimasi kenaikan 0,3%.
Secara tahunan, penjualan ritel naik 2,4%, melambat signifikan dibandingkan laju 3,3% pada November. Penjualan tanpa mobil naik 3,3% secara tahunan pada Desember. Sementara itu, ukuran yang dikenal sebagai “control group”—yang mengecualikan sejumlah komponen dan digunakan langsung dalam perhitungan produk domestik bruto (PDB)—mencatat penurunan 0,1% pada bulan tersebut.
Laporan ini menutup tahun belanja yang secara umum solid dengan nada suram. Konsumen kelas atas masih membelanjakan uangnya dengan agresif sepanjang sebagian besar 2025, namun kelompok berpendapatan menengah dan bawah cenderung lebih berhati-hati.
Laju belanja juga gagal mengimbangi inflasi, dengan indeks harga konsumen (CPI) Desember mencatat kenaikan 2,7%.
Pada Desember, sejumlah kategori mengalami penurunan, sementara hanya sedikit yang mencatat kenaikan signifikan. Penjualan di peritel barang campuran dan toko furnitur turun 0,9%, toko pakaian dan aksesori melemah 0,7%, sementara elektronik dan peralatan rumah tangga turun 0,4%. Penjualan daring hanya naik 0,1%, sedangkan bahan bangunan dan pusat perlengkapan taman mencatat kenaikan terkuat sebesar 1,2%.
“Ini adalah ekonomi berbentuk K, dengan belanja kuat dari kelompok atas dan belanja yang jauh lebih berhati-hati dari konsumen berpendapatan menengah dan bawah,” beber Heather Long, kepala ekonom Navy Federal Credit Union, seperti dikutip CNBC. Penjualan ritel stagnan pada Desember, menurut dia, dipicu lemahnya belanja mobil, furnitur rumah, peralatan, dan pakaian. “Barang-barang ini sangat terdampak tarif pada 2025 dan konsumen mengalihkan belanjanya ke sektor lain,” tambahnya.
Aktivitas ekonomi kuartal keempat secara keseluruhan masih kuat, dengan pelacak data Federal Reserve Atlanta menunjukkan PDB tumbuh pada laju tahunan 4,2%. Namun, angka tersebut berpotensi direvisi turun setelah rilis data ritel ini. Belanja konsumen menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS.
Baca Juga
Didukung Musim Belanja Liburan, Bessent Optimistis PDB AS Tumbuh 3%
Laporan ini dirilis sehari sebelum data ketenagakerjaan nonfarm payrolls Januari yang sangat dinantikan. Ekonom memperkirakan penambahan hanya 55.000 pekerjaan, setelah kenaikan 50.000 pada Desember. Namun, sejumlah perusahaan Wall Street besar memperkirakan angka yang lebih rendah, terutama karena revisi tahunan yang diperkirakan akan memangkas pertumbuhan lapangan kerja sebelumnya.
Dalam data ekonomi lain pada Selasa, indeks biaya tenaga kerja (employment cost index) naik 0,7% secara musiman pada kuartal keempat 2025, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), di bawah perkiraan 0,8%. Sepanjang tahun, total biaya kompensasi naik 3,4%, sedikit di atas inflasi. Kenaikan kuartalan ini merupakan yang paling lambat sejak kuartal ketiga 2020.
BLS juga melaporkan harga impor naik 0,1% pada Desember, berlawanan dengan perkiraan penurunan 0,1%, dan tidak berubah dibandingkan setahun sebelumnya. Harga ekspor naik 0,3% dan meningkat 3,1% secara tahunan.

