Didorong Permintaan Otomotif, Penjualan Ritel AS Meningkat pada Juli
Poin Penting
• Penjualan ritel naik 0,5% pada Juli, data Juni direvisi naik
• Penjualan ritel inti tumbuh 0,5% di tengah promosi dan diskon
• Harga impor naik 0,4%; kenaikan dipicu barang konsumsi
• Sentimen konsumen melemah pada Agustus; ekspektasi inflasi meningkat
WASHINGTON, investortrust.id – Penjualan ritel AS meningkat solid pada Juli, didukung permintaan kuat untuk kendaraan bermotor serta promosi dari Amazon.com dan Walmart, meskipun pasar tenaga kerja yang melemah dan kenaikan harga barang dapat membatasi pertumbuhan belanja konsumen pada kuartal ketiga.
Baca Juga
Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan, Trump Pecat Pejabat Biro Statistik
Kenaikan bulan Juli, bersama revisi naik data penjualan Juni, meredakan sebagian kekhawatiran bahwa aktivitas ekonomi melambat setelah pertumbuhan lapangan kerja yang lemah dalam tiga bulan terakhir.
Laporan dari Departemen Perdagangan serta survei Universitas Michigan pada Jumat (15/8/2025), yang menunjukkan ekspektasi inflasi konsumen meningkat pada Agustus, semakin mengurangi prospek pemangkasan suku bunga besar oleh Federal Reserve bulan depan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis mengatakan, pemangkasan suku bunga setengah poin persentase oleh bank sentral AS masih mungkin dilakukan mengingat lemahnya data ketenagakerjaan. Namun, sebagian ekonom meragukan The Fed akan melanjutkan siklus pelonggaran kebijakan pada September di tengah tanda-tanda inflasi siap meningkat karena perusahaan meneruskan kenaikan biaya dari bea impor ke konsumen.
“Tidak ada dukungan berbasis data untuk pemangkasan suku bunga pada September,” ujar Conrad DeQuadros, penasihat ekonomi senior di Brean Capital, seperti dikutip Reuters.
Departemen Perdagangan melalui Biro Sensus melaporkan penjualan ritel naik 0,5% bulan lalu setelah revisi naik menjadi 0,9% pada Juni. Survei Reuters sebelumnya memperkirakan kenaikan 0,5% setelah laporan awal kenaikan 0,6% pada Juni. Secara tahunan, penjualan naik 3,9%.
Kendaraan bermotor memimpin hampir seluruh kenaikan penjualan, dengan penerimaan di dealer mobil naik 1,6% setelah kenaikan 1,4% pada Juni. Menurut analis J.P. Morgan, lonjakan pembelian kendaraan listrik bertenaga baterai menjelang berakhirnya kredit pajak federal pada 30 September ikut mendorong penjualan otomotif di Juli.
Penjualan daring naik 0,8% setelah meningkat 0,9% di Juni. Amazon dan Walmart menggelar promosi bulan lalu untuk menarik konsumen yang lelah menghadapi inflasi dengan diskon besar, termasuk pada perlengkapan sekolah. Amazon memperpanjang periode promo menjadi 96 jam dari biasanya 48 jam, dengan potongan harga agresif di kategori mulai dari pakaian hingga elektronik.
Penjualan toko pakaian naik 0,7%, toko furnitur melonjak 1,4%, sementara penjualan perlengkapan olahraga, hobi, instrumen musik, dan buku rebound 0,8% — keduanya diduga lebih mencerminkan kenaikan harga akibat tarif daripada volume penjualan.
Namun, penjualan di pengecer bahan bangunan dan perlengkapan taman turun 1,0%, sedangkan toko elektronik dan peralatan rumah tangga melemah 0,6%. Rumah tangga juga mengurangi pengeluaran di restoran dan bar; penjualan di sektor jasa ini turun 0,4% setelah naik 0,6% pada Juni. Ekonom memandang aktivitas makan di luar sebagai indikator kunci kesehatan keuangan rumah tangga.
Pasar keuangan saat ini memperkirakan pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed 16–17 September. Bank sentral mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%–4,50% bulan lalu untuk kelima kalinya sejak Desember.
Saham di Wall Street diperdagangkan melemah, dolar AS turun terhadap sekeranjang mata uang, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS naik.
Konsumen Masih Tangguh
Penjualan ritel inti — tidak termasuk otomotif, bensin, bahan bangunan, dan jasa makanan — naik 0,5% setelah revisi naik menjadi 0,8% di Juni. Data ini berkorelasi erat dengan komponen belanja konsumen dalam PDB. Sebelumnya, pertumbuhan penjualan inti Juni dilaporkan 0,5%.
Disesuaikan dengan inflasi, ekonom memperkirakan penjualan ritel inti naik 0,3% pada Juli, menandai awal kuartal ketiga yang cukup baik. Namun, risiko penurunan belanja konsumen meningkat di tengah pelemahan pasar tenaga kerja dan kenaikan harga barang serta jasa.
Survei Konsumen Universitas Michigan menunjukkan sentimen konsumen melemah pada Agustus, dengan indeks kondisi pembelian barang tahan lama jatuh ke titik terendah dalam setahun akibat meningkatnya kekhawatiran daya beli.
Baca Juga
Survei Michigan Ungkap Sentimen Konsumen AS, Ekspektasi Inflasi Meningkat
“Fundamental yang mendasari jelas melemah,” kata Lydia Boussour, ekonom senior di EY-Parthenon. “Dalam beberapa bulan ke depan, hambatan terhadap permintaan konsumen diperkirakan meningkat, dengan dampak negatif dari tarif yang lebih tinggi kemungkinan akan makin terasa karena konsumen mengurangi pembelian non-esensial untuk mengimbangi kenaikan biaya.”
Ekspektasi inflasi 12 bulan ke depan naik menjadi 4,9% bulan ini dari 4,5% pada Juli. Kenaikan ini terjadi di semua spektrum afiliasi politik.
Ekspektasi inflasi juga dikuatkan oleh laporan terpisah dari Biro Statistik Tenaga Kerja yang menunjukkan harga impor naik 0,4% pada Juli, didorong kenaikan kuat harga barang konsumsi. Kenaikan ini mengikuti penurunan 0,1% pada Juni. Harga impor tidak termasuk tarif.
Harga barang konsumsi impor, tidak termasuk kendaraan bermotor, naik 0,4%. Data ini mengindikasikan negara pengekspor tidak menurunkan harga untuk mengimbangi kenaikan biaya dari tarif terhadap perusahaan dan konsumen AS, seperti yang diprediksi Gedung Putih.
“Pendukung tarif di pemerintahan Trump memperkirakan harga impor akan turun setelah tarif diberlakukan karena eksportir akan memangkas harga demi mempertahankan penjualan dan pangsa pasar,” kata Carl Weinberg, kepala ekonom di High Frequency Economics. “Kita tidak melihat hal itu terjadi.”
Tarif membatasi aktivitas manufaktur. Laporan Fed menunjukkan output pabrik stagnan pada Juli.
“Kami memperkirakan tren ini berlanjut dalam beberapa bulan ke depan dengan risiko melemahnya secara tajam,” beber Veronica Clark, ekonom di Citigroup. “Tarif, gangguan rantai pasok, dan keterlambatan pengiriman akan membebani aktivitas sektor manufaktur secara luas. Tentu saja, beberapa segmen manufaktur mungkin mendapat manfaat dari tarif,” urainya.

