Wall Street Rontok Tertekan Saham Teknologi, Dow Anjlok Hampir 600 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham Amerika Serikat kembali melemah pada Kamis waktu AS atau Jumat (6/2/2026). Investor menjauh dari aset berisiko (risk-off). Hal ini menekan saham sektor teknologi dan bitcoin yang sebelumnya populer di pasar.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot sekitar 592,58 poin atau 1,20% dan ditutup di level 48.908,72. Sementara itu, S&P 500 turun 1,23% ke posisi 6.798,40, sekaligus masuk ke wilayah negatif untuk tahun berjalan. Nasdaq Composite melemah 1,59% dan berakhir di 22.540,59. Pada titik terendah sesi, Dow sempat jatuh hampir 700 poin atau sekitar 1,4%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun hingga 1,5% dan 1,9%.
Baca Juga
Wall Street Terpuruk Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi, Nasdaq Terimbas Paling Parah
Alphabet menjadi perusahaan terbaru dari kelompok “Magnificent Seven” yang melaporkan kinerja keuangan. Perusahaan tersebut memproyeksikan lonjakan tajam belanja kecerdasan buatan (AI) yang membuat sebagian investor cemas, dengan rencana belanja modal (capex) tahun 2026 yang dapat mencapai US$185 miliar. Saham Alphabet turun 0,5%. Namun, saham Broadcom justru naik hampir 1% setelah kabar rencana belanja Alphabet tersebut, memberikan secercah harapan bagi perdagangan saham AI saat pasar mulai memilah pemenang dan pecundang di sektor ini.
“Fakta bahwa beberapa perusahaan merilis laporan dan mengumumkan tambahan belanja capex — dan jumlahnya saat ini sangat besar — justru kami pandang sebagai sinyal positif bagi kesehatan pasar secara umum, karena pasar kini lebih bersifat selektif, bukan sekadar euforia irasional,” ujar Stephen Tuckwood, direktur investasi di Modern Wealth Management.
Selain Alphabet, Qualcomm juga berada di bawah tekanan, dengan sahamnya merosot lebih dari 8% setelah perusahaan membukukan proyeksi yang lebih lemah dari perkiraan akibat kelangkaan memori global.
Di sisi lain, aksi jual di pasar kripto terus berlanjut. Bitcoin jatuh ke bawah US$64.000 setelah sebelumnya menembus level US$70.000, yang selama ini dianggap sebagai level dukungan kunci. Di pasar logam mulia, tekanan kembali menghantam perak. Harga logam tersebut menghentikan reli dua hari dan anjlok hingga 16%, setelah sempat terperosok hampir 30% pada Jumat lalu.
Kabar Buruk Pasar Tenaga Kerja
Sentimen negatif kian bertambah setelah kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja meningkat. Perusahaan penempatan kerja Challenger, Gray & Christmas melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan AS mengumumkan 108.435 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Januari, jumlah tertinggi untuk bulan Januari sejak krisis keuangan global.
Selain itu, klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir pada 31 Januari naik lebih tinggi dari perkiraan, sementara jumlah lowongan kerja pada Desember turun ke level terendah sejak September 2020.
Situasi ini terjadi menjelang rilis laporan ketenagakerjaan Januari dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pekan depan, yang sempat ditunda akibat penutupan sebagian pemerintah yang berakhir pada Selasa.
Baca Juga
Bursa Eropa di Zona Merah, Investor Cermati Laba Emiten dan Kebijakan Bank Sentral
“Rasanya kita mulai keluar dari periode no-hire, no-fire yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir,” kata Tuckwood. Ia menambahkan bahwa laporan ketenagakerjaan BLS mendatang “kemungkinan besar akan mengonfirmasi apa yang sudah kita lihat, di mana sisi pemecatan dan PHK mulai bergerak ke arah negatif.”
Jika itu terjadi, Tuckwood meyakini Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada akhir setidaknya salah satu pertemuan bulan Maret atau April.
Wall Street mengalami sesi perdagangan bergejolak, yang diwarnai aksi jual saham perangkat lunak dan semikonduktor sehingga mendorong S&P 500 mencatatkan penurunan dua hari berturut-turut. Saham-saham tersebut tertekan karena kekhawatiran disrupsi AI di industri, yang membuat investor beramai-ramai keluar dari sektor teknologi dan beralih ke area pasar lain dengan valuasi yang lebih menarik.
Aksi jual di saham perangkat lunak, yang telah memasuki pasar bearish pekan lalu, kemungkinan sudah bergerak terlalu jauh, kata Tuckwood kepada CNBC. “Kita memang belum sepenuhnya berada di titik untuk menghindari risiko catching a falling knife, tetapi pada suatu titik, khususnya di subsektor tersebut, akan muncul peluang ketika tekanan jual sudah terlalu berlebihan,” ujarnya.

