Trump: Carney Tidak Tahu Berterima Kasih
Poin Penting
|
DAVOS, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan, Perdana Menteri (PM) Kanada, Mark Carney tidak tahu berterima kasih. Padahal, Kanada mendapat banyak keuntungan secara gratis dari AS.
Dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Rabu (21/1/2026), Trump mengaku mendengar pidato Carney dalam forum tersebut, Selasa (20/1/2026), yang dipuji secara luas di seluruh dunia.
"Kanada mendapatkan banyak keuntungan cuma-cuma dari AS, seharusnya mereka berterima kasih. Saya menonton perdana menteri Anda kemarin. Dia tidak tahu berterima kasih," tegas Trump.
Baca Juga
Seharusnya, menurut Trump, Mark Carney berterima kasih kepada AS atas apa yang diperolehnya selama ini. “Kanada hidup karena AS. Ingat itu, Mark, jika Anda lain kali membuat pernyataan,” tandas dia.
Dalam pidatonya yang bertele-tele, Trump menyerang Eropa dan mengulangi klaimnya bahwa AS butuh Greenland. Meski menginginkan Greenland, AS tidak akan menggunakan kekerasan untuk mengambil wilayah otonom Kerajaan Denmark tersebut.
Komentar Donald Trump tentang Greenland mengguncang sekutu AS. Alih-alih meredam polemik, pidato Trump kemungkinan besar tidak akan meredakan kekhawatiran tentang masa depan AS di Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Trump memperingatkan anggota NATO bahwa mereka dapat menyetujui AS merebut Greenland. “Jika NATO dapat menyetujui AS merebut Greenland, kami akan sangat menghargainya. Jika Anda mengatakan, 'Tidak,' kami akan mengingatnya,” ujar dia.
PM Kanada, Mark Carney menyampaikan pidato yang amat tajam dan mengejutkan di WEF ke-56 bertajuk Spirit of Dialogue (Semangat Dialog) tersebut. Ia mendesak negara-negara di dunia untuk bersatu dan bersuara melawan para “penindas” dan "hegemon". Meski tidak menyebutkan nama secara spesifik, Carney diduga menunjuk AS dan China.
“Hari ini saya akan berbicara tentang runtuhnya tatanan dunia, tentang berakhirnya fiksi yang menyenangkan dan dimulainya realitas brutal di mana geopolitik negara-negara adidaya tidak tunduk pada batasan apa pun,” kata Mark Carney yang memulai pidatonya dalam bahasa Prancis.
Baca Juga
Trump Ngotot Ambil Alih Greenland, Sebut ‘Tak Ada Jalan Kembali’
Carney berbicara di depan para politisi, pemimpin bisnis, dan jurnalis selama sesi pleno pada hari pertama pertemuan tahunan WEF. Pidatonya mendapatkan tepuk tangan meriah dari hadirin, peristiwa yang jarang terjadi.
Mark Carney mengingatkan tentang bahaya yang dihadapi negara-negara kekuatan menengah seperti Kanada yang tetap diam, sementara hegemon dan negara-negara adidaya sedang merusak tatanan internasional berbasis aturan.
“Baru-baru ini, negara-negara besar mulai menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata. Tarif sebagai pengaruh, infrastruktur keuangan sebagai paksaan, rantai pasok sebagai kerentanan yang harus dieksploitasi,” ujar dia.
Menurut Carney, negara-negara kekuatan menengah harus bertindak bersama agar tidak terus dizalimi. “Jika Anda tidak berada di meja perundingan, Anda akan menjadi santapan,” tegas Carney yang disambut seruan “oh” oleh hadirin.
Baca Juga
Trump Tambahkan Tarif 10% untuk Kanada Gara-gara ‘Iklan Ontario’
Mark Carney menggaungkan pesan utama bahwa dunia lama di mana kepatuhan negara-negara adidaya terhadap hukum internasional dan perdagangan telah mati. Negara-negara adidaya menggunakan kekuatannya untuk memaksa negara-negara kecil menuruti keinginan mereka.
“Berhentilah menyebut ‘tatanan internasional berbasis aturan’ seolah-olah masih berfungsi seperti yang diiklankan. Sebut sistem itu apa adanya: suatu periode di mana yang paling kuat mengejar kepentingan mereka menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata paksaan,” tandas dia.
Mark Carney menyerukan negara-negara lain untuk mengecam negara-negara kuat yang terlibat dalam intimidasi atau pemaksaan. Ia merujuk pada metafora sebelumnya tentang seorang pemilik toko yang memasang tanda pro-Komunis di jendela tokonya meskipun tidak percaya pada pesan tersebut.
“Terapkan standar yang sama kepada sekutu dan saingan. Ketika negara-negara kekuatan menengah mengkritik intimidasi ekonomi dari satu arah tetapi tetap diam, ketika itu datang dari arah lain, kita tetap memasang tanda di jendela,” tutur dia.

