Dow Futures Anjlok, Wall Street Cemas Eskalasi Tarif AS–Eropa
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka saham AS mengindikasikan sesi perdagangan yang suram di Wall Street. Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan retorikanya terkait Greenland dan mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap negara-negara yang menentang penjualan wilayah Denmark tersebut kepada AS.
Kontrak berjangka yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average mengindikasikan penurunan sekitar 378 poin pada pembukaan perdagangan Selasa (20/1/2026). Kontrak berjangka S&P 500 diperkirakan turun 0,9%, sementara kontrak berjangka Nasdaq 100 berpotensi merosot sekitar 1,1%.
Baca Juga
Krisis Greenland Memanas, Eropa Siapkan ‘Bazooka’ Dagang ke AS
Trump mengumumkan dalam unggahan di Truth Social pada Sabtu bahwa impor ke AS dari delapan anggota NATO akan dikenakan tarif yang meningkat “hingga tercapai kesepakatan untuk pembelian Greenland secara lengkap dan total.” Tarif tersebut akan dimulai dari 10% pada 1 Februari dan naik menjadi 25% pada 1 Juni, kata Trump. Para pemimpin Eropa menyebut sanksi tersebut sebagai “tidak dapat diterima.” Saham produsen mobil dan perusahaan barang mewah Eropa turun pada Senin, sementara sebagian saham sektor pertahanan di benua itu justru menguat.
Senin malam menjadi momen pertama bagi investor AS untuk bereaksi penuh terhadap eskalasi perdagangan tersebut, karena pasar sebelumnya tutup untuk libur Martin Luther King.
Meski demikian, Jeff Kilburg, CEO KKM Financial, menilai investor sebaiknya memanfaatkan penurunan harga saham jika ekuitas melemah akibat kekhawatiran tarif.
“Reaksi awal pasar terhadap potensi tarif justru menghadirkan peluang beli, karena fokus akan bergeser dari Davos kembali ke musim laporan keuangan kuartal keempat pada pertengahan pekan,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Pungutan tarif pemerintahan Trump juga menjadi sorotan menjelang keputusan penting pengadilan.
Mahkamah Agung AS dapat memutuskan secepat pekan depan apakah akan membatalkan tarif Trump, yang diberlakukan presiden berdasarkan International Emergency Economic Powers Act. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Minggu bahwa ia percaya “sangat kecil kemungkinan Mahkamah Agung akan membatalkan kebijakan ekonomi andalan seorang presiden.”
“Secara umum, kami memperkirakan sebagian besar ketidakpastian kebijakan, khususnya yang terkait tarif, seharusnya sudah berada di belakang kita. Namun demikian, volatilitas terkait kebijakan—seperti munculnya berita utama di akhir pekan—masih akan terus terjadi,” tulis Scott Chronert, kepala strategi ekuitas AS di Citi, kepada klien.
Kerusuhan sipil di Iran juga membuat investor global waspada. Seorang pejabat Iran di kawasan tersebut mengatakan pada Minggu bahwa sedikitnya 5.000 orang telah tewas dalam aksi protes nasional, yang dimulai pada 28 Desember akibat kesulitan ekonomi dan sejak itu berkembang menjadi seruan luas untuk mengakhiri pemerintahan ulama.
Indeks-indeks utama AS baru saja menutup pekan dengan pelemahan.
Baca Juga
Bursa AS Melemah, Investor Soroti Risiko Geopolitik dan Independensi The Fed
S&P 500 turun 0,4%, sementara Dow Jones Industrial Average yang beranggotakan 30 saham melemah 0,3% sepanjang pekan. Nasdaq Composite mencatat penurunan 0,7%, meskipun saham-saham produsen chip yang terkait dengan perdagangan kecerdasan buatan sempat mendapat dorongan singkat pada Kamis setelah laporan kinerja kuartal keempat Taiwan Semiconductor yang sangat kuat.
Pekan ini, laporan keuangan kuartalan diharapkan datang dari sejumlah perusahaan, termasuk Netflix, Charles Schwab, Johnson & Johnson, dan Intel. Panduan kinerja dari perusahaan-perusahaan tahun ini menjadi krusial untuk menjaga sentimen bullish pasar saham AS. S&P 500 sendiri sudah diperkirakan membukukan pertumbuhan laba sebesar 12% hingga 15%.

