Bursa AS Melemah, Investor Soroti Risiko Geopolitik dan Independensi The Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham AS melemah pada Jumat waktu AS atau Sabtu (17/1/2026). Pelaku pasar mencermati pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Federal Reserve dan geopolitik.
Indeks S&P 500 turun 0,06% dan ditutup di level 6.940,01. Nasdaq Composite melemah tipis 0,06% dan berakhir di 23.515,39. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 83,11 poin atau 0,17% menjadi 49.359,33.
Baca Juga
Bursa Eropa Tertekan, Ketegangan Greenland dan Iran Bayangi Pasar
Ketiga indeks utama sempat menyentuh level terendah sesi setelah Trump menyampaikan pernyataan di Gedung Putih pada Jumat. Dalam kesempatan tersebut, presiden mengatakan ia lebih memilih Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett tetap berada di posisinya saat ini dan bahwa Hassett mungkin tidak akan dipilih sebagai ketua Federal Reserve berikutnya.
“Sebenarnya saya ingin Anda tetap berada di posisi sekarang, jika Anda ingin tahu sejujurnya,” ujar Trump.
Hassett sebelumnya dipandang sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan Ketua The Fed Jerome Powell, yang masa jabatannya berakhir pada Mei. Namun pasar prediksi menunjukkan mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh melampaui Hassett dalam persaingan tersebut setelah komentar presiden. Para pelaku pasar menilai Hassett sebagai opsi yang lebih ramah terhadap pasar dibanding Warsh, dengan Wall Street memperkirakan ia akan lebih bersedia menjaga suku bunga tetap rendah.
“Entah itu Hassett atau orang lain, saya pikir asumsi yang kami miliki — setidaknya sebagian besar dari kami — adalah siapa pun orangnya nanti, dia pasti akan memiliki motif politik dan bukan pendekatan tradisional yang berupaya sepenuhnya objektif dalam memimpin The Fed,” kata David Krakauer, wakil presiden manajemen portofolio di Mercer Advisors, seperti dikutip CNBC. “Ancaman terhadap independensi The Fed itu jelas menjadi kekhawatiran bagi kami dan semua orang,” tambahnya.
Indeks-indeks utama pada sesi sebelumnya menguat berkat kenaikan saham chip. Taiwan Semiconductor memimpin penguatan setelah membukukan laporan kinerja kuartal keempat yang sangat kuat. Selain itu, AS dan Taiwan mencapai kesepakatan dagang di mana perusahaan chip dan teknologi Taiwan akan menginvestasikan sedikitnya US$250 miliar untuk kapasitas produksi di Amerika Serikat.
Taiwan Semiconductor dan saham chip lainnya seperti Broadcom dan Advanced Micro Devices juga menguat pada Jumat.
Baca Juga
Saham perbankan justru melemah secara mingguan meskipun mencatatkan laba yang solid, seiring kekhawatiran atas seruan Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit. JPMorgan Chase dan Bank of America termasuk yang tertinggal, masing-masing turun 5% sepanjang pekan.
Pekan ini menjadi periode yang sibuk bagi investor. Mereka bergulat dengan berbagai tajuk utama dari Washington, mulai dari kekhawatiran terhadap ancaman atas independensi The Fed hingga meningkatnya risiko geopolitik di Iran dan Greenland. Risiko geopolitik semakin meningkat pada Jumat setelah Trump mengatakan ia mungkin akan mengenakan tarif pada negara-negara yang “tidak mau mengikuti keinginan terkait Greenland.”
Sepanjang pekan, S&P 500 turun 0,4%, sementara Dow Jones yang beranggotakan 30 saham melemah 0,3%. Nasdaq mencatat penurunan 0,7% dalam sepekan.

