AS Serang Venezuela dan Tangkap Maduro, Ini Reaksi Sejumlah Negara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro menandai eskalasi paling serius dalam hubungan Washington–Caracas selama lebih dari satu dekade. Operasi yang oleh Presiden Donald Trump dibenarkan atas nama perang melawan narkoba itu, dengan cepat membuka tabir kepentingan yang lebih luas: minyak, pengaruh geopolitik, dan pesan keras AS kepada rival globalnya.
Baca Juga
Trump Terus Terang Selain Narkoba, Minyak Jadi Alasan AS Serang Venezuela
Serangan itu langsung mendapat reaksi dari sejumlah negara dan lembaga internasional. Rusia, China, dan Iran—sekutu lama Venezuela—mengecam keras langkah AS sebagai agresi bersenjata dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara. Negara-negara Amerika Latin seperti Brasil, Kolombia, dan Kuba menyebut serangan itu sebagai preseden berbahaya bagi kawasan.
Di sisi lain, Inggris dan sebagian pemimpin Eropa secara terbuka tidak menyatakan simpati terhadap kejatuhan rezim Maduro, meski tetap mengingatkan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional.
Bagi Trump, narasi yang dibangun bersifat hitam-putih. Venezuela digambarkan sebagai “negara narkoterorisme” dengan Maduro sebagai aktor utama kartel internasional. Klaim bahwa sebagian besar narkoba yang masuk ke AS berasal dari Venezuela menjadi pembenaran moral dan politik bagi operasi militer.
Dalam pernyataannya, Trump mengeklaim hampir seluruh narkoba yang masuk ke AS melalui jalur laut berasal dari Venezuela. “Kami telah menghentikan 97% obat-obatan ilegal yang masuk lewat laut, dan sebagian besar datang dari Venezuela,” ujar Trump di Palm Beach, Florida, Minggu (4/1/2026).
Tak hanya itu, Trump turut menuduh Maduro sebagai dalang jaringan kriminal internasional. Ia menyebut Maduro memimpin kartel narkoba yang bertanggung jawab atas kematian ratusan ribu warga Amerika akibat obat-obatan ilegal.
“Maduro adalah gembong utama narkoterorisme yang membunuh banyak warga negara kita,” jelasnya.
Selain narkoba, Trump menyoroti sektor energi Venezuela yang disebutnya hancur akibat salah kelola rezim Maduro. Menurutnya, Amerika Serikat akan melibatkan perusahaan minyak besar untuk memulihkan industri energi Venezuela.
“Kami akan membawa perusahaan minyak besar Amerika untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” katanya.
Baca Juga
Inggris dan Sejumlah Negara Latin Angkat Bicara soal Serangan AS ke Venezuela
Lebih lanjut, Trump menyatakan militer AS akan tetap berada di Venezuela hingga terjadi transisi kekuasaan yang aman. “Kami akan menjalankan negara ini sampai transisi yang tepat, aman, dan bijaksana dapat dilakukan,” tegas Trump.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi industrinya runtuh akibat sanksi, salah kelola, dan isolasi internasional. Trump melihat kekosongan itu sebagai peluang. Janji untuk mengerahkan perusahaan minyak besar AS ke Venezuela menegaskan bahwa operasi militer ini bukan semata misi keamanan, melainkan juga langkah ekonomi dan energi.
Preseden Berbahaya
Dalam konteks global yang masih rapuh oleh konflik Timur Tengah dan perang Rusia–Ukraina, kendali atas sumber pasokan energi menjadi kartu strategis bernilai tinggi.
Tapi, di sinilah persoalan hukum internasional mengemuka. Piagam PBB secara tegas melarang penggunaan kekuatan terhadap kedaulatan negara lain, kecuali untuk pertahanan diri atau mandat Dewan Keamanan. Hingga kini, tidak ada legitimasi PBB atas serangan AS ke Venezuela. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut langkah tersebut sebagai preseden berbahaya yang berpotensi merusak tatanan global berbasis hukum.
Implikasinya melampaui Amerika Latin. Bagi Rusia dan China, intervensi ini memperkuat narasi bahwa AS menerapkan standar ganda—mengutuk agresi di satu tempat, namun melakukannya di tempat lain. Bagi negara-negara berkembang, kasus Venezuela memperbesar kekhawatiran bahwa kedaulatan dapat dikompromikan atas nama keamanan atau stabilitas ekonomi.
Pasar energi global juga mulai mencium risiko. Ketidakpastian politik di Venezuela, potensi sabotase infrastruktur, serta kemungkinan konflik berkepanjangan berisiko memicu volatilitas harga minyak. Jika produksi dan ekspor Venezuela terganggu dalam jangka menengah, tekanan ke harga energi global hampir tak terelakkan—terutama jika ketegangan ini berkelindan dengan konflik geopolitik lain.
Venezuela kini berada di persimpangan sejarah: antara janji transisi yang diklaim AS dan kekhawatiran dunia terhadap normalisasi intervensi militer. Bagi komunitas internasional, krisis ini bukan sekadar soal Maduro, melainkan ujian besar bagi kredibilitas hukum internasional dan arah geopolitik global ke depan.

