Khawatir Dampak Tarif Trump, Perusahaan AS Bersiap Pangkas Karyawan pada 2026
Poin Penting
• Eksekutif perusahaan dan ekonom memperingatkan bahwa tarif Trump dapat menaikkan biaya dan mendorong pemangkasan tenaga kerja mulai 2026.
• Survei ISM menunjukkan kekhawatiran meningkat, dengan indeks manufaktur turun ke 48,2% dan komponen ketenagakerjaan anjlok ke level terendah sejak Agustus.
• Sejumlah perusahaan di sektor transportasi, energi, dan peralatan listrik mengaku mulai merencanakan pengurangan staf, relokasi produksi, dan pengetatan arus kas.
• OECD dan Federal Reserve menilai dampak penuh tarif belum sepenuhnya terasa dan dapat semakin menekan permintaan serta kondisi ketenagakerjaan.
NEW YORK, investortrust.id - Tarif impor yang diterapkan Presiden Donald Trump, yang dimaksudkan untuk memulihkan lapangan kerja manufaktur AS, dapat berbalik menekan jumlah tenaga kerja domestik. Hal itu terungkap dari pernyataan para eksekutif dan proyeksi ekonom terbaru.
Baca Juga
Klaim Pengangguran Meningkat, Pasar Tenaga Kerja AS Kian Rapuh
Dengan pasar tenaga kerja yang sudah berada dalam situasi “tidak mempekerjakan dan tidak memecat”, kekhawatiran meningkat bahwa kenaikan biaya akibat tarif akan memaksa perusahaan mengurangi pekerja.
Survei Institute for Supply Management (ISM) untuk November, Selasa (2/12/2025), menunjukkan meningkatnya kegelisahan pelaku industri. “Perusahaan mulai menerapkan perubahan permanen karena situasi tarif, termasuk pengurangan staf, penyesuaian panduan bagi pemegang saham, hingga pengembangan manufaktur luar negeri yang sebelumnya ditujukan untuk ekspor AS,” tulis seorang eksekutif peralatan transportasi.
Dilansir CNBC, indeks manufaktur ISM turun ke 48,2%, memperdalam posisi di wilayah kontraksi, sementara komponen ketenagakerjaan jatuh dua poin ke 44%.
Sinyal pelemahan juga muncul dari sektor energi. Perusahaan minyak dan batu bara melaporkan bahwa menjelang 2026 akan ada perubahan besar dalam arus kas dan jumlah pekerja, termasuk penjualan unit bisnis yang menghasilkan uang tunai dan pemberian paket pensiun dini. Di sektor peralatan listrik, tarif disebut menciptakan iklim usaha yang “lebih sulit dibanding masa pandemi Covid” karena ketidakpastian rantai pasok.
Baca Juga
Sektor Jasa AS Mandek, Tarif Trump Picu Kekhawatiran Stagflasi
Meski demikian, indikator makro secara luas masih stabil. Atlanta Fed memproyeksikan pertumbuhan PDB kuartal III sebesar 3,9% dan data nonfarm payrolls September menunjukkan kenaikan 119.000 pekerjaan. Namun pemangkasan besar oleh perusahaan seperti Amazon—yang mengumumkan pengurangan hingga 30.000 pekerjaan—menjadi tanda tekanan tambahan.
OECD memperingatkan bahwa dampak tarif terhadap ekonomi global belum sepenuhnya dirasakan, tetapi kemungkinan akan semakin kuat saat tarif baru berlaku penuh. Federal Reserve juga melaporkan bahwa ketenagakerjaan menurun sedikit dalam tujuh minggu terakhir dan tarif tetap menjadi hambatan.
Bank Sentral Cleveland mencatat perbedaan pengalaman perusahaan: satu peritel besar menanggung kenaikan biaya 20% akibat tarif, sementara yang lain menilai biaya sudah stabil.

