Sektor Jasa AS Mandek, Tarif Trump Picu Kekhawatiran Stagflasi
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Aktivitas sektor jasa AS nyaris stagnan pada Juli, seiring tekanan berlapis dari ketidakpastian kebijakan tarif Presiden Donald Trump dan lemahnya pasar kerja. Lonjakan biaya input serta stagnasi pesanan baru menghidupkan kembali kekhawatiran stagflasi di tengah melambatnya momentum ekonomi.
Baca Juga
Wall Street Ambles Dipicu Data Tenaga Kerja AS dan Tarif Trump, Dow Anjlok Hampir 550 Poin
Institute for Supply Management (ISM) pada Selasa (5/8/2025) menyatakan bahwa indeks manajer pembelian (PMI) nonmanufaktur turun menjadi 50,1 bulan Juli dari 50,8 pada Juni. Para ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan PMI sektor jasa akan naik menjadi 51,5. Angka PMI di atas 50 menandakan ekspansi di sektor jasa, yang mencakup lebih dari dua pertiga perekonomian AS.
Para ekonom menyatakan dunia usaha masih kesulitan mencerna kebijakan tarif agresif Presiden Donald Trump terhadap barang-barang impor. Pekan lalu, Trump, menjelang tenggat 1 Agustus yang ditetapkannya sendiri, mengeluarkan serangkaian pemberitahuan kepada banyak mitra dagang terkait kenaikan tarif impor atas ekspor mereka ke AS.
Dengan tarif berkisar antara 10% hingga 41% yang akan diberlakukan pada 7 Agustus, Laboratorium Anggaran Universitas Yale kini memperkirakan tarif rata-rata keseluruhan AS telah melonjak ke 18,3% — level tertinggi sejak 1934 — dari sebelumnya 2% hingga 3% sebelum Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari.
Dalam survei ISM, sub-indeks pesanan baru turun ke 50,3 dari 51,3 pada Juni, sementara pesanan ekspor kembali terkontraksi untuk keempat kalinya dalam lima bulan terakhir.
Indikator ketenagakerjaan sektor jasa turun ke 46,4 — terendah sejak Maret — dari 47,2 pada Juni. Sub-indeks ini telah mengalami kontraksi dalam empat dari lima bulan terakhir, dan angka ini muncul setelah laporan ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan hasil yang mengecewakan. Tidak hanya penciptaan lapangan kerja di Juli lebih lemah dari perkiraan, revisi atas data Mei dan Juni menunjukkan pengurangan 258.000 posisi — penurunan bersih terbesar di luar masa pandemi Covid-19. Revisi besar ini memicu pemecatan Komisaris Biro Statistik Tenaga Kerja oleh Trump pada Jumat lalu.
Baca Juga
Pasar Tenaga Kerja AS Memburuk, Nonfarm Payroll Juli Hanya Tambah 73.000
Sementara itu, tekanan harga terus meningkat. Indeks harga yang dibayarkan dalam survei ISM melonjak ke 69,9 — tertinggi sejak Oktober 2022 — dari 67,5 pada Juni.
Selama ini, inflasi tetap moderat karena perusahaan masih menjual barang yang diimpor sebelum tarif diberlakukan. Namun data pekan lalu menunjukkan harga barang tertentu seperti furnitur rumah tangga dan perlengkapan rekreasi mulai naik tajam. Inflasi yang lebih jinak dari sektor jasa telah membantu menahan inflasi secara keseluruhan, tetapi data ISM kali ini menimbulkan pertanyaan apakah tren tersebut akan berlanjut, atau justru memperkuat kekhawatiran atas munculnya stagflasi.
Pekan lalu, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 4,25%–4,50% karena mayoritas pengambil kebijakan masih melihat inflasi sebagai risiko utama.
Baca Juga
Tak Terpengaruh Tekanan Trump, The Fed Kembali Pertahankan Suku Bunga
Namun, dua gubernur The Fed — Christopher Waller dan Michelle Bowman — berbeda pendapat. Mereka menilai pasar tenaga kerja menghadapi risiko yang lebih besar — sebuah posisi yang tampaknya diperkuat oleh data ketenagakerjaan Jumat lalu. Mereka berpendapat bahwa persaingan dan pelemahan permintaan akan menekan sebagian kenaikan harga akibat tarif, dan mendesak agar The Fed mulai menurunkan suku bunga guna mengurangi hambatan terhadap aktivitas ekonomi.

