Klaim Pengangguran Meningkat, Pasar Tenaga Kerja AS Kian Rapuh
Poin Penting
• Klaim pengangguran mingguan naik 8.000 menjadi 237.000
• Klaim lanjutan turun 4.000 menjadi 1,940 juta
• Payroll swasta hanya naik 54.000 pada Agustus
• Defisit perdagangan melebar 32,5% menjadi $78,3 miliar pada Juli
WASHINGTON, 4 Sept (Reuters) – Pasar tenaga kerja Amerika Serikat kembali menunjukkan tanda pelemahan. Klaim tunjangan pengangguran mingguan naik 8.000 menjadi 237.000, sementara laporan ADP (Automatic Data Processing) mencatat pertumbuhan payroll swasta hanya 54.000 pada Agustus, turun tajam dari 106.000 bulan sebelumnya.
Laporan klaim tunjangan pengangguran ini muncul sehari setelah data pemerintah menunjukkan jumlah pengangguran pada Juli untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 melebihi lowongan kerja yang tersedia. Pertumbuhan pekerjaan kini melambat drastis, dengan ekonom menyalahkan tarif impor besar-besaran Presiden Donald Trump serta pembatasan imigrasi yang menghambat perekrutan di sektor konstruksi dan restoran.
Baca Juga
Perlambatan pasar tenaga kerja kemungkinan membuka jalan bagi Federal Reserve untuk kembali memangkas suku bunga akhir bulan ini, meski keputusan sangat bergantung pada laporan ketenagakerjaan Agustus yang akan dirilis Jumat dan data inflasi konsumen pekan depan.
“Kami terus melihat pelemahan di pasar tenaga kerja seiring ketidakpastian kebijakan tarif yang berlanjut, perubahan imigrasi berlaku, dan adopsi AI meningkat,” kata Eric Teal, chief investment officer di Comerica Wealth Management, seperti dikutip Reuters. Sisi positifnya, menurut dia, semakin lemah data pekerjaan, semakin besar alasan untuk pemangkasan suku bunga yang bersifat stimulatif.
Perusahaan Menahan Diri
Klaim awal tunjangan pengangguran naik 8.000 menjadi 237.000 yang disesuaikan musiman untuk pekan yang berakhir 30 Agustus, menurut Departemen Tenaga Kerja. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan 230.000 klaim.
Meski begitu, PHK masih relatif rendah karena perusahaan cenderung menahan tenaga kerja setelah kesulitan merekrut saat pandemi, sehingga pasar tenaga kerja tetap terjaga. Namun, lingkungan ekonomi yang tidak pasti akibat kebijakan proteksionis membuat perusahaan enggan menambah pegawai.
Keraguan untuk merekrut membuat pekerja yang terkena PHK sulit menemukan peluang baru. Jumlah penerima tunjangan setelah pekan pertama turun 4.000 menjadi 1,940 juta pada pekan yang berakhir 23 Agustus, menurut laporan klaim tersebut.
Laporan “Beige Book” The Fed pada Rabu mencatat bahwa “perusahaan ragu merekrut pekerja karena permintaan yang melemah atau ketidakpastian.” Sinyal pelemahan ini diperkuat rilis laporan ketenagakerjaan ADP, Kamis (4/9/2025), yang menunjukkan perekrutan swasta hanya bertambah 54.000 pada Agustus, setelah 106.000 pada Juli.
Gambaran suram pasar tenaga kerja juga terlihat pada survei Institute for Supply Management, yang menunjukkan indeks ketenagakerjaan sektor jasa berkontraksi tiga bulan berturut-turut pada Agustus.
Ekonom memperkirakan pertumbuhan lapangan kerja tetap lesu ketika Biro Statistik Tenaga Kerja merilis laporan resmi Jumat. Survei Reuters memperkirakan payroll non-pertanian bertambah 75.000 bulan lalu setelah naik 73.000 pada Juli.
Pertumbuhan pekerjaan rata-rata 35.000 per bulan selama tiga bulan hingga Juli, jauh lebih rendah dibandingkan 123.000 pada periode sama 2024, menurut laporan pemerintah pada Agustus. Tingkat pengangguran diperkirakan naik menjadi 4,3% dari 4,2% pada Juli.
Ketua Fed Jerome Powell bulan lalu mengisyaratkan kemungkinan pemangkasan suku bunga pada pertemuan kebijakan 16-17 September, mengakui risiko meningkat di pasar tenaga kerja, namun juga menegaskan inflasi masih menjadi ancaman. The Fed telah menahan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50% sejak Desember.
Baca Juga
Powell Indikasikan Kemungkinan Pemangkasan Suku Bunga, tapi Tetap ‘Hati-hati’
Defisit Perdagangan Melebar
Tarif masih memengaruhi data perdagangan. Laporan terpisah dari Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan menunjukkan defisit perdagangan melebar 32,5% menjadi $78,3 miliar pada Juli, di tengah arus masuk modal dan barang lainnya yang mencapai rekor.
Bea masuk memicu gejolak impor dan pada akhirnya defisit perdagangan, mendistorsi gambaran ekonomi keseluruhan. Pengadilan banding AS pekan lalu memutuskan sebagian besar bea Trump – yang mendorong tarif rata-rata AS ke level tertinggi sejak 1934 – ilegal, menambah ketidakpastian bagi bisnis.
Impor melonjak 5,9% menjadi $358,8 miliar. Impor barang naik 6,9% menjadi $283,3 miliar, didorong lonjakan $12,5 miliar pada impor bahan industri dan material, termasuk kenaikan $9,6 miliar pada impor emas non-moneter. Namun impor minyak turun ke level terendah sejak April 2021.
Impor barang modal naik $4,7 miliar menjadi rekor $96,2 miliar, dipimpin komputer, perangkat telekomunikasi, dan mesin industri lainnya. Impor semikonduktor turun $0,8 miliar. Impor barang konsumsi naik $1,3 miliar, sementara impor obat-obatan turun $1,1 miliar.
Impor kendaraan bermotor, suku cadang, dan mesin turun $1,4 miliar. Ekspor naik 0,3% menjadi $280,5 miliar. Ekspor barang naik tipis 0,1% menjadi $179,4 miliar. Ekspor barang modal bertambah $0,6 miliar menjadi rekor $59,9 miliar, didorong pengiriman aksesori komputer dan pesawat sipil. Ekspor mesin penggali turun $1,5 miliar.
Ekspor kendaraan bermotor, suku cadang, dan mesin naik $0,3 miliar. Ekspor bahan industri dan material turun $0,2 miliar seiring penurunan $2,5 miliar pada ekspor logam jadi. Ekspor emas non-moneter naik $2,9 miliar.
Defisit perdagangan barang melebar 21,2% menjadi $103,9 miliar. Defisit perdagangan barang dengan Tiongkok meningkat $5,3 miliar menjadi $14,7 miliar. Impor jasa naik $1,7 miliar menjadi rekor $75,5 miliar pada Juli, didorong transportasi, perjalanan, dan layanan bisnis lainnya.
Ekspor jasa naik $0,6 miliar menjadi rekor $101,0 miliar, dipimpin transportasi, hak kekayaan intelektual, serta barang dan jasa pemerintah. Namun, ekspor jasa perjalanan turun $0,3 miliar di tengah kebijakan imigrasi ketat Gedung Putih.
Perdagangan mengurangi PDB sebesar rekor 4,61 poin persentase pada kuartal pertama sebelum berbalik tajam menambah 4,95 poin persentase pada kuartal kedua, juga kontribusi terbesar dalam catatan.
Ekonomi tumbuh 3,3% (tahunan) pada kuartal lalu setelah kontraksi 0,5% pada tiga bulan pertama tahun ini. Goldman Sachs menurunkan proyeksi pertumbuhan PDB kuartal ketiga menjadi 1,6% dari 1,7%.
“Gangguan dari tarif masih berdampak di seluruh ekonomi dan ketidakpastian yang meningkat terus memengaruhi proses pengambilan keputusan perusahaan,” beber Eugenio Aleman, chief economist di Raymond James.

