Risalah FOMC: Pejabat The Fed Terpecah soal Pemangkasan FFR Desember
Poin Penting
- Risalah menunjukkan perpecahan tajam di internal The Fed terkait kebutuhan pemangkasan suku bunga Desember.
- Pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan Desember, kini hanya sekitar 33%, sementara peluang Januari mencapai 66%.
- Perdebatan berkisar antara risiko pasar tenaga kerja yang melemah vs inflasi yang masih tinggi.
- FOMC setuju menghentikan pengetatan neraca (QT) pada Desember, menandai perubahan penting dalam arah kebijakan.
WASHINGTON, investortrust.id - Para pejabat Federal Reserve saling berbeda pandangan dalam rapat Oktober terkait pemangkasan suku bunga FFR (Fed Fund Rate), terbelah antara risiko pasar tenaga kerja yang melemah atau inflasi yang masih membandel. Hal itu terungkap dalam risalah FOMC (Federal Open Market Committee), yang dirilis Rabu (19/11/2025).
Meski Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyetujui pemangkasan pada rapat tersebut, arah kebijakan ke depan terlihat semakin tidak pasti. Perbedaan pandangan meluas hingga ke prospek Desember, dengan sejumlah pejabat skeptis atas perlunya pemangkasan tambahan yang sebelumnya sangat diantisipasi pasar, dan “banyak” di antaranya menyatakan bahwa tidak ada lagi pemotongan yang diperlukan setidaknya pada 2025.
Baca Juga
The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, tapi Powell Ragukan Kemungkinan Pemotongan Lanjutan Akhir Tahun
“Beberapa peserta menilai bahwa penurunan lebih lanjut atas target suku bunga kemungkinan tepat pada Desember jika ekonomi bergerak sesuai ekspektasi. Banyak peserta menyarankan bahwa dalam skenario perkiraan mereka, target suku bunga sebaiknya dipertahankan hingga akhir tahun,” tulis risalah tersebut, dikutip dari CNBC.
Dalam terminologi The Fed, “banyak” lebih besar daripada “beberapa”, menandakan kecenderungan penolakan terhadap pemangkasan Desember. Namun, istilah “peserta” tidak merujuk pada pemilih. Dari 19 peserta rapat, hanya 12 yang memiliki hak suara, sehingga sikap mereka dalam pemungutan suara tidak sepenuhnya jelas.
Pernyataan ini sejalan dengan komentar Ketua The Fed Jerome Powell pada konferensi pers setelah rapat, ketika ia menegaskan bahwa pemangkasan Desember bukanlah sesuatu yang “pasti.”
“Dalam membahas arah kebijakan dalam waktu dekat, para peserta menyampaikan pandangan yang sangat berbeda mengenai keputusan apa yang paling tepat pada rapat Desember,” lanjut risalah tersebut.
Sebelum pernyataan Powell, pelaku pasar memperkirakan hampir pasti ada pemangkasan pada sesi 9–10 Desember. Namun hingga Rabu sore, probabilitas itu tinggal sekitar 1 dari 3, berdasarkan pengukuran FedWatch. Probabilitas pemangkasan Januari berada di sekitar 66%.
Risalah mencatat bahwa “sebagian besar peserta” melihat pemangkasan lebih lanjut mungkin terjadi di masa depan, meski tidak harus dalam waktu dekat.
Akhirnya, FOMC menyetujui pemangkasan seperempat poin menjadi kisaran 3,75%-4%. Tetapi keputusan suara 10 berbanding 2 menyembunyikan perpecahan mendalam di dalam lembaga yang biasanya jarang berbeda pendapat.
Para pejabat menyatakan kekhawatiran atas pasar tenaga kerja yang melemah dan inflasi yang menunjukkan “sedikit tanda” menuju 2%. Risalah itu mengungkapkan adanya beberapa kubu.
“Melihat kondisi tersebut, banyak peserta mendukung pemangkasan suku bunga pada rapat ini. Beberapa mendukung tetapi juga dapat menerima jika suku bunga dipertahankan, dan beberapa lainnya menolak pemangkasan,” demikian tertulis dalam risalah.
Inti perdebatan adalah seberapa “restriktif” kebijakan saat ini bagi ekonomi. Sejumlah peserta melihat bahwa meski dengan pemangkasan seperempat poin, kebijakan masih menahan pertumbuhan, sementara yang lain menilai “ketahanan aktivitas ekonomi” menunjukkan kebijakan tidak terlalu ketat.
Dari pernyataan publik, panel terbagi antara kelompok dovish — termasuk Gubernur Stephen Miran, Christopher Waller, dan Michelle Bowman — yang mendorong pemangkasan demi mencegah melemahnya pasar tenaga kerja. Di sisi lain, kubu hawkish seperti Presiden Kansas City Jeffrey Schmid, Boston Susan Collins, dan St. Louis Alberto Musalem khawatir bahwa pemangkasan lebih lanjut dapat menghambat pencapaian target inflasi 2%.
Di tengah kedua kubu terdapat kelompok moderat seperti Powell, Wakil Ketua Philip Jefferson, dan Presiden Fed New York John Williams yang memilih pendekatan lebih sabar.
Risalah juga mencatat adanya “satu peserta,” merujuk pada Miran, yang menginginkan pemangkasan lebih agresif sebesar setengah poin. Schmid juga memberikan suara menolak, karena lebih memilih tidak ada pemangkasan sama sekali.
Rapat Oktober juga diperumit oleh tidak tersedianya sejumlah data pemerintah selama shutdown 44 hari. Laporan mengenai pasar tenaga kerja, inflasi, dan banyak indikator lain tidak disusun atau dirilis selama kebuntuan tersebut. BLS dan BEA telah mengumumkan jadwal rilis untuk sebagian laporan, namun belum semuanya.
Baca Juga
Kepercayaan Konsumen AS Merosot, ‘Shutdown’ Ancam ‘Blackout’ Data Ekonomi
Powell membandingkan situasi ini seperti “mengemudi dalam kabut,” meskipun Waller pada Senin menolak perbandingan tersebut dan mengatakan The Fed memiliki cukup data untuk merumuskan kebijakan.
Risalah juga membahas aspek neraca. FOMC sepakat untuk menghentikan pengurangan aset Treasury dan MBS pada Desember, proses yang telah memangkas lebih dari US$2,5 triliun dari neraca — yang masih sekitar US$6,6 triliun. Ada persetujuan luas untuk menghentikan proses yang dikenal sebagai pengetatan kuantitatif (quantitative tightening).

