Kehilangan Momentum, Bursa Eropa Melemah meski Shutdown AS Berakhir
LONDON, investortrust.id - Bursa saham Eropa berbalik melemah pada perdagangan Kamis (13/11/2025), menghapus penguatan awal setelah pemerintah Amerika Serikat resmi mengakhiri penutupan (shutdown) terpanjang dalam sejarahnya.
Baca Juga
Indeks Stoxx 600 turun 0,6%, dengan sebagian besar sektor dan bursa regional berada di zona merah. FTSE 100 Inggris merosot 1,05%, DAX Jerman turun 1,39%, sementara CAC 40 Prancis melemah 0,11%. Indeks FTSE MIB Italia dan Ibex 35 Spanyol masing-masing terkoreksi hampir 0,1% dan 0,23%.
Di antara saham individual, sektor farmasi menunjukkan penguatan signifikan. Saham Denmark ALK dan Zealand Pharma melesat masing-masing 11,5% dan 5,2%. ALK menaikkan proyeksi pertumbuhan menjadi 13–15% dalam mata uang lokal, sedikit lebih tinggi dari 12–14% sebelumnya, berkat pertumbuhan penjualan di seluruh wilayah.
Sementara itu, saham Burberry sempat melonjak hingga 7% setelah melaporkan pertumbuhan penjualan toko sebanding untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Namun penguatan itu cepat menguap, dan sahamnya justru ditutup turun lebih dari 2%. Penjualan kuartal II perusahaan tumbuh 2%, mengalahkan ekspektasi analis sebesar 1%, didorong kenaikan 3% di Amerika dan China.
Saham Siemens Healthineers anjlok 3,4% setelah laporan yang menyebut Siemens akan mendistribusikan kepemilikan 30% sahamnya di perusahaan tersebut kepada para investornya.
Baca Juga
Harga saham energi bergerak fluktuatif mengikuti laporan terbaru International Energy Agency (IEA) yang menaikkan proyeksi suplai minyak global dan menunda prediksi “peak oil”. Shell turun 0,5%, BP terkoreksi 1,7%, sementara ENI naik hampir 0,2% dan TotalEnergies melesat 1,6%.
Investor Eropa juga mencerna laporan pendapatan dari Siemens, Deutsche Telekom, Enel, Merck, Aviva, dan Alstom.
Di Inggris, ekonomi tumbuh 0,1% pada kuartal ketiga, menurut perkiraan awal ONS—salah satu data penting terakhir sebelum pembacaan Anggaran Musim Gugur.
Sanjay Raja, Kepala Ekonom Inggris di Deutsche Bank, menilai tren pertumbuhan masih rapuh.
“Musim panas 2025 agak mengecewakan. Kami memperkirakan ketidakpastian anggaran akan menghambat belanja pada Oktober dan November,” ujarnya, seperti dikutip CNBC. Meski demikian, Deutsche Bank tetap memproyeksikan GDP Inggris tumbuh 1,4% pada 2025.
Di Asia Pasifik, bursa mayoritas menguat, sementara saham AS terkoreksi setelah Presiden Donald Trump menandatangani RUU pendanaan yang mengakhiri shutdown, yang akan membiayai pemerintah hingga akhir Januari.

