Studio Ghibli Dkk Tuntut OpenAI Tak Gunakan Karya Mereka untuk Latih AI
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id - Organisasi perdagangan Jepang Content Overseas Distribution Association (CODA) mendesak OpenAI menghentikan penggunaan karya berhak cipta dalam pelatihan model kecerdasan buatan (AI) tanpa izin. Permintaan ini disampaikan dalam surat resmi pekan lalu, menyusul kekhawatiran meningkatnya pelanggaran hak cipta oleh produk AI generatif seperti ChatGPT dan Sora.
CODA mewakili puluhan penerbit dan studio besar Jepang, termasuk Studio Ghibli. Mereka menilai OpenAI telah menggunakan karya seni dan animasi tanpa izin, terutama setelah munculnya tren “Ghiblified selfies” yang mengubah foto pengguna menjadi bergaya Ghibli melalui generator gambar bawaan ChatGPT.
Tren tersebut bahkan sempat menarik perhatian CEO OpenAI Sam Altman, yang mengganti foto profilnya di X (Twitter) dengan gambar bergaya Ghibli. CODA menilai fenomena itu menjadi bukti kuat bahwa karya Ghibli telah dimanfaatkan untuk melatih model AI tanpa persetujuan resmi.
Kini, kekhawatiran serupa muncul setelah OpenAI memperkenalkan aplikasi video generatif Sora. CODA memperingatkan, teknologi ini berpotensi menghasilkan video dengan kemiripan tinggi terhadap karya berhak cipta, sehingga pelanggaran bisa terjadi lebih luas.
Baca Juga
“Dalam kasus seperti Sora, di mana karya berhak cipta direproduksi atau dihasilkan dengan kemiripan yang jelas, proses pelatihan AI itu sendiri dapat dianggap sebagai pelanggaran,” tulis CODA dikutip dari TechCrunch, Rabu (5/11/2025).
Menurut CODA, hukum Jepang tidak mengenal sistem “pakai dulu, izin belakangan” seperti di AS. Setiap pemakaian karya berhak cipta harus mendapat izin eksplisit, dan tidak ada mekanisme hukum yang memungkinkan pelanggaran diabaikan dengan alasan keberatan setelahnya.
Belum ada kejelasan hukum di AS soal legalitas penggunaan materi berhak cipta untuk pelatihan AI. Namun, hakim federal William Alsup baru-baru ini memutuskan bahwa Anthropic tidak melanggar hukum saat melatih AI-nya dengan buku berhak cipta, meski perusahaan tetap didenda karena mengunduh data bajakan.
CODA menegaskan bahwa pendekatan tersebut tidak bisa diterapkan di Jepang, yang memiliki perlindungan hak cipta lebih ketat. Mereka juga membuka kemungkinan menempuh jalur hukum jika OpenAI tidak menunjukkan itikad baik.
Sementara itu, sutradara legendaris Hayao Miyazaki belum menanggapi langsung isu ini. Namun, pada 2016 ia pernah mengecam animasi hasil AI.

