Sektor IT Dongkrak Wall Street, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Baru
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS menguat pada Rabu waktu AS atau Kamis (9/10/2025) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatat rekor tertinggi baru, baik secara intraday maupun penutupan.
Baca Juga
Wall Street Longsor Seiring Meningkatnya Kekhawatiran Dampak ‘Shutdown’
Indeks acuan S&P 500 naik 0,58% dan ditutup di 6.753,72, didorong oleh kenaikan di sektor teknologi informasi (IT/information technology), utilitas, dan industri. Ketiga sektor tersebut mencatat rekor penutupan tertinggi baru. Nasdaq Composite naik 1,12% dan berakhir di 23.043,38. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 1,20 poin menjadi 46.601,78.
Saham-saham nyaris tidak bereaksi terhadap rilis risalah pertemuan Federal Reserve bulan September, ketika bank sentral memangkas suku bunga untuk pertama kalinya pada 2025. Risalah tersebut menunjukkan bahwa para pejabat The Fed terpecah mengenai seberapa jauh lagi suku bunga perlu dipangkas.
Saham Nvidia naik 2%. CEO Jensen Huang mengatakan permintaan meningkat dalam beberapa bulan terakhir. “Tahun ini, terutama enam bulan terakhir, permintaan komputasi meningkat secara signifikan,” katanya kepada CNBC.
Huang juga mengonfirmasi keterlibatan perusahaannya dalam pendanaan startup kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI, dan mengatakan bahwa ia “sangat antusias dengan peluang pendanaan yang sedang mereka lakukan.”
“Kita tahu beberapa hal yang bisa dilakukan AI. Kita semua bisa terkesan dengan sebagian kemampuannya, tetapi pada akhirnya harus ada permintaan terhadap chip, permintaan terhadap apa pun bentuk lapisan perangkat lunak yang dibangun di atas semua sistem komputasi itu,” beber Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, kepada CNBC. Menurut dia, fakta bahwa permintaan itu masih ada – dan Nvidia berada dalam posisi terbaik di dunia untuk menilai itu – cukup meyakinkan bahwa tingkat belanja modal (capex) tidak sepenuhnya berputar di lingkaran yang sama.
Pergerakan ini terjadi hanya sehari setelah saham produsen chip AI itu melemah, mengikuti pergerakan saham Oracle, setelah muncul laporan bahwa Oracle mengalami margin keuntungan yang lebih tipis di bisnis cloud-nya dibandingkan perkiraan analis. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa perusahaan itu merugi pada beberapa kesepakatan penyewaan chip Nvidia.
Hal ini menambah kekhawatiran bahwa pasar saham tengah terjebak dalam gelembung AI yang mengingatkan pada akhir 1990-an, ketika euforia terhadap perusahaan internet awal akhirnya berujung pada pecahnya gelembung dot-com. Banyak pengamat pasar kini mendesak investor untuk menyeimbangkan kembali portofolio mereka, meski mengakui masih ada potensi kenaikan sebelum reli AI berakhir.
“Bahkan jika kita melihat kembali akhir tahun 1990-an, saat itu ada koreksi besar di Nasdaq setiap tahun, jadi saya pikir antusiasme terhadap aksi jual saham teknologi akan terus berlanjut. Bisa jadi akan ada beberapa koreksi besar di saham teknologi — momen seperti DeepSeek — sebelum akhirnya kita mencapai puncak pasar bullish berikutnya. Saya hanya merasa kita belum sampai ke sana,” urai Mayfield.
Sementara itu, penutupan pemerintahan AS berlanjut ke hari kedelapan pada hari Rabu, dengan Senat sekali lagi menolak dua rancangan undang-undang pendanaan sementara yang saling bersaing. Pemungutan suara itu menandai kegagalan keenam bagi lembaga tersebut untuk meloloskan undang-undang guna membuka kembali pemerintahan.
Baca Juga
Tak Terpengaruh ‘Shutdown’ Pemerintah AS, Wall Street Terbang Tembus Rekor Baru
Penutupan sejauh ini belum banyak memengaruhi pasar saham, namun semakin lama berlangsung, risikonya terhadap sentimen pasar semakin besar karena potensi dampaknya terhadap ekonomi AS. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa tidak semua pegawai federal yang dirumahkan akan menerima gaji tertunda, dengan mengatakan pada Selasa bahwa “itu tergantung siapa yang kita bicarakan.” Anggota militer aktif juga mungkin tidak menerima gaji yang dijadwalkan pada 15 Oktober.

