Warning! CEO Goldman Sachs dan Morgan Stanley Peringatkan Risiko Koreksi di Pasar Saham AS
Poin Penting
• CEO Morgan Stanley dan Goldman Sachs menilai pasar saham AS berisiko alami koreksi 10–15% akibat valuasi tinggi.
• S&P 500 terus mencetak rekor baru, memicu kekhawatiran akan gelembung serupa era dot-com.
• Jamie Dimon dari JPMorgan dan Bridgewater Associates juga memperingatkan meningkatnya risiko koreksi.
• Lonjakan investasi AI senilai triliunan dolar menambah kekhawatiran bahwa euforia teknologi terlalu berlebihan.
JAKARTA, investortrust.id — CEO dari lembaga keuangan terkemuka, seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs, memperingatkan bahwa pasar saham kemungkinan menuju periode penurunan (drawdown), di tengah kekhawatiran meningkatnya valuasi saham yang dianggap terlalu tinggi.
Kekhawatiran akan terulangnya gelembung pasar muncul setelah indeks acuan S&P 500 terus mencetak rekor baru, sehingga mengingatkan tentang ledakan dot-com yang terjadi pada akhir 1990-an.
Baca Juga
Wall Street Terus Melaju dan Pecah Rekor, S&P 500 Sempat Tembus 6.900
“Kita seharusnya menyambut kemungkinan penurunan 10% hingga 15% yang tidak dipicu oleh faktor makro besar,” kata CEO Morgan Stanley, Ted Pick, dalam Global Financial Leaders’ Investment Summit di Hong Kong.
Sementara itu, CEO Goldman Sachs, David Solomon, mengatakan siklus pasar yang terlalu panjang dapat berubah secara mendadak. “Hal-hal yang mengubah sentimen dan menciptakan koreksi sering kali baru terlihat setelah terjadi,” ujarnya, dikutip dari Reuters.
Pada Selasa waktu AS atau Rabu (5/11/2025) WIB, indeks utama Wall Street dibuka melemah. S&P 500 turun 1,1%, Nasdaq merosot 1,5%, dan Dow Jones terkoreksi 0,7%. Indeks volatilitas VIX—dikenal sebagai fear gauge—berada di dekat level tertinggi dua minggu.
Solomon menilai valuasi saham teknologi sudah “penuh”, meski sektor lainnya belum terlalu berlebihan. Pernyataannya sejalan dengan pandangan Jamie Dimon dari JPMorgan, yang bulan lalu memperingatkan risiko koreksi signifikan dalam enam bulan hingga dua tahun ke depan.
“Banyak faktor ketidakpastian di luar sana,” kata Dimon, menyinggung risiko geopolitik, belanja fiskal, dan remiliterisasi global.
Para manajer investasi dari Bridgewater Associates juga menilai investor mulai mengabaikan risiko yang terus meningkat.
Lonjakan minat terhadap generative AI turut dibandingkan dengan gelembung dot-com, karena miliaran dolar terus mengalir ke perusahaan teknologi. “Kadang, kita memang sedang menyaksikan gelembung,” tulis Michael Burry, manajer hedge fund yang terkenal karena memprediksi krisis 2008, di platform X pekan lalu.
Baca Juga
Sektor IT Dongkrak Wall Street, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Baru
Citigroup memperkirakan pengeluaran infrastruktur terkait AI oleh raksasa teknologi bisa mencapai lebih dari USD 2,8 triliun hingga 2029, naik dari perkiraan sebelumnya USD 2,3 triliun. Salah satu contohnya, OpenAI baru saja menandatangani perjanjian senilai USD 38 miliar dengan Amazon untuk layanan komputasi awan selama tujuh tahun.
Meski demikian, sebagian analis menilai lonjakan AI berbeda dari gelembung dot-com karena perusahaan-perusahaan terdepan saat ini memiliki kinerja dan pendapatan yang nyata. Nvidia, misalnya, baru mencatatkan rekor sebagai perusahaan pertama yang menembus valuasi USD 5 triliun.

