Ancaman ‘Shutdown’ Pemerintah AS Dorong Emas Dekati Level Rekor Tertinggi
Poin Penting
- Emas spot mendekati rekor USD3.871,45 per ons.
- Ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed di Oktober mencapai 97%.
- Shutdown AS berpotensi hentikan rilis data ekonomi penting.
- Harga emas naik 11,5% di September, tertinggi sejak 2011.
NEW YORK, investortrust.id — Harga emas global kembali melesat, Selasa (30/9), mendekati rekor tertinggi seiring meningkatnya kekhawatiran atas potensi penutupan pemerintahan Amerika Serikat (shutdown) dan melemahnya data tenaga kerja yang memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve bulan depan.
Baca Juga
Emas Tembus Rekor Tertinggi di Atas US$3.800, Dipicu Tiga Sentimen Ini
Emas spot naik 0,3% menjadi USD3.843,43 per ons, setelah sempat menyentuh level rekor USD3.871,45 saat sesi Asia. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga ditutup naik 0,5% ke USD3.873,20 per ons.
“Emas kembali menunjukkan ketahanan luar biasa, dengan mudah menutup kerugian awal setelah data JOLTS yang lemah. Data ini tidak akan menghalangi langkah pemangkasan suku bunga bulan depan,” ujar Tai Wong, trader logam independen, seperti dikutip Reuters. Menurutnya, potensi shutdown parsial pemerintah AS semakin mendorong investor untuk mengoleksi logam mulia.
Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS naik tipis pada Agustus, sementara perekrutan menurun — sinyal pelemahan pasar tenaga kerja yang dapat membuka ruang bagi The Fed memangkas suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga pada pertemuan Oktober kini mencapai 97%.
Baca Juga
The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Indikasikan Pemotongan Lanjutan
Sepanjang September, harga emas melambung 11,5%, kenaikan bulanan terbesar sejak Agustus 2011, sekaligus melejit 16,4% sepanjang kuartal ketiga. Kondisi ini menegaskan emas sebagai aset lindung nilai unggulan di tengah ketidakpastian dan ekspektasi suku bunga rendah.
Sementara itu, Washington masih terjebak kebuntuan anggaran. Jika tidak ada kesepakatan, pemerintah federal berisiko lumpuh mulai Rabu dini hari, memaksa Departemen Tenaga Kerja AS menangguhkan rilis data ekonomi, termasuk laporan ketenagakerjaan bulanan.
Di sisi lain, logam mulia lainnya justru terkoreksi. Perak spot turun 1,1% ke USD46,42 per ons meski masih naik 17% sepanjang September. Platinum ambles 2,7% ke USD1.576,75, sementara paladium melemah 1,5% ke USD1.249,37.

