Abaikan Ancaman ‘Shutdown’, Wall Street Menguat, Dow Cetak Rekor Tertinggi Baru
Poin Penting
- Dow Jones ditutup rekor tertinggi 46.397,89.
- S&P 500 dan Nasdaq juga catat kenaikan signifikan pada September.
- Kekhawatiran shutdown masih ada, tapi pasar relatif tenang.
- Nvidia menguat, saham teknologi lain terkoreksi.
NEW YORK, investortrust.id - Indeks saham utama Wall Street ditutup menguat pada Selasa waktu AS atau Rabu (01/10/2025) WIB. Indeks S&P 500 naik 0,41% menjadi 6.688,46, sementara Nasdaq Composite bertambah 0,31% ke 22.660,01. Dow Jones Industrial Average menguat 81,82 poin atau 0,18% ke 46.397,89, menandai rekor penutupan baru.
Baca Juga
Vance Sebut AS Terancam ‘Shut Down’ Setelah Bertemu Kubu Demokrat
Investor memilih mengesampingkan kekhawatiran potensi ‘shutdown’ pemerintah AS, sehingga September ditutup performa kuat. Padahal, biasanya bursa mencatat kinerja lemah pada September.
Pemerintah federal diperkirakan kehabisan dana pada tengah malam penutupan. Presiden Donald Trump mengatakan pada Selasa terkait shutdown bahwa “tidak ada yang tak terelakkan, tetapi saya kira ini mungkin terjadi.”
Ketua DPR Mike Johnson, R-La., kepada CNBC juga menyatakan skeptis bahwa kekosongan pendanaan bisa dihindari sebelum tenggat, menyebut hasilnya ada di tangan Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer, dan Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries. Sebaliknya, Jeffries menegaskan bahwa jika shutdown terjadi, itu keputusan Partai Republik.
Sejauh ini, pasar saham relatif tenang menghadapi prospek penutupan pemerintah. Secara historis, penghentian biasanya berdampak kecil pada pasar karena jarang berlangsung lebih dari dua minggu. Namun, beberapa investor khawatir dampaknya terhadap ekonomi AS kali ini bisa lebih serius, terutama jika pemerintahan Trump melaksanakan ancaman PHK massal pekerja federal atau shutdown berlangsung lebih lama dari perkiraan.
“Pasar sudah mengantisipasi shutdown di Washington, jadi investor untuk sementara tetap tenang. Namun, jika berlangsung lebih dari dua minggu, kekhawatiran akan mulai meningkat,” beber Adam Crisafulli dari Vital Knowledge, seperti dikutip CNBC.
Investor juga waspada terhadap pelemahan pasar tenaga kerja, risiko stagflasi, dan valuasi saham yang tinggi. Jika pemerintah menangguhkan operasi, Departemen Tenaga Kerja mengatakan tidak akan merilis laporan payroll non-pertanian September yang dijadwalkan Jumat. Shutdown juga bisa mendorong lembaga pemeringkat meninjau ulang kekuatan kredit AS, yang sebelumnya diturunkan Moody’s pada Mei.
Laporan pekerjaan menjadi salah satu rilis data penting yang ditunggu untuk memberikan petunjuk arah ekonomi menjelang pertemuan kebijakan The Fed Oktober. Tanda terbaru tekanan ekonomi terlihat Selasa, ketika laporan kepercayaan konsumen September keluar lebih rendah dari perkiraan.
Namun, penundaan rilis data mungkin justru menguntungkan pasar, menurut Peter Corey, co-founder dan chief market strategist di Pave Finance.
“Ini bisa menyelamatkan pasar dari potensi melihat angka payroll Agustus sebesar 22.000 turun di bawah nol, yang kemungkinan terjadi mengingat datanya sudah berada di titik rawan. Penundaan akan menunda kekecewaan investor dan memberi waktu bagi data positif lain muncul untuk meredam dampaknya,” ujar Corey.
Saham teknologi melemah pada Selasa, dengan Paychex turun lebih dari 1% setelah laporan kuartalan, sementara Salesforce turun 3,3%. Nvidia menjadi sorotan positif setelah CoreWeave, yang didukung Nvidia, mengumumkan kesepakatan infrastruktur cloud AI senilai $14,2 miliar dengan Meta Platforms.
Pergerakan Selasa menambah kinerja bulanan kuat indeks saham utama AS pada September. S&P 500, yang rata-rata turun 4,2% di bulan September dalam lima tahun terakhir, justru naik lebih dari 3% bulan ini. Dow bertambah hampir 2%, sementara Nasdaq melesat 5,6% sepanjang bulan.
Baca Juga
Selasa juga menandai akhir kuartal ketiga. S&P 500 naik hampir 8% sepanjang kuartal, Nasdaq mencatat kenaikan lebih dari 11%, dan Dow naik lebih dari 5% sejak akhir Juni, menjadi kenaikan kuartalan kelima berturut-turut.

