Sempat Sentuh Rekor Tertinggi, Harga Emas Turun setelah Pasar Cermati Sinyal Powell
Poin Penting
- Emas spot turun 0,9% ke US$3.658,25, setelah rekor US$3.707,40.
- The Fed pangkas suku bunga pertama kali tahun ini, Powell sebut “risk management cut”.
- Reli emas ditopang pembelian bank sentral, pelemahan dolar, dan tensi geopolitik.
- Deutsche Bank naikkan target harga emas 2026 ke rata-rata US$4.000.
NEW YORK, investortrust.id - Harga emas terkoreksi hampir 1% pada Rabu (17/9/2025) setelah sempat menembus rekor tertinggi baru, dipicu aksi ambil untung investor menyusul komentar Ketua The Fed Jerome Powell yang menyebut pemangkasan suku bunga sebagai langkah "manajemen risiko".
Baca Juga
Emas Tembus Rekor Baru di Atas $3.700, Sentimen Fed Jadi Pemicu Utama
Data Refinitiv mencatat emas spot turun 0,9% ke level US$3.658,25 per troy ons pada pukul 3 sore waktu New York, setelah sempat menembus rekor US$3.707,40. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga melemah tipis 0,2% ke US$3.717,8.
Ini adalah pemangkasan suku bunga pertama The Fed sejak Desember, setelah sebelumnya menurunkan suku bunga tiga kali sepanjang 2024. Powell menegaskan arah kebijakan masih bersifat pertemuan-ke-pertemuan, menandakan ketidakpastian ke depan.
“Koreksi sementara atau setidaknya konsolidasi adalah hal sehat. Selama emas bertahan di atas US$3.550, tren naik jangka pendek tetap utuh,” ujar Tai Wong, analis independen pasar logam, seperti dikutip Reuters.
Reli emas tahun ini ditopang pembelian masif bank sentral, pelemahan dolar, serta derasnya arus dana ke aset lindung nilai di tengah tensi geopolitik. Hingga kini, harga emas telah melesat 39% sepanjang tahun berjalan. Deutsche Bank bahkan menaikkan proyeksi harga emas tahun depan ke rata-rata US$4.000 per ounce dari sebelumnya US$3.700.
Baca Juga
Selain emas, perak spot turun 2,4% ke US$41,51 per ons, platinum terkoreksi 2,2% ke US$1.360, dan paladium jatuh 2,6% ke US$1.145,44.

