Tertekan Tarif AS, Ekspor Non-Migas Singapura Turun Tajam
Poin Penting
- Ekspor non-migas Singapura turun 11,3% yoy pada Agustus.
- Ekspor ke AS anjlok 28,8%, melanjutkan kontraksi besar dari bulan sebelumnya.
- Tarif 10% dari AS tetap berlaku meski ada perjanjian perdagangan bebas.
- Enterprise Singapore proyeksikan pertumbuhan ekspor hanya 1–3% pada 2025 dengan risiko melemah di paruh kedua.
SINGAPURA, investortrust.id – Ekspor non-migas Singapura kembali tertekan pada Agustus 2025, turun 11,3% yoy, jauh di bawah ekspektasi kenaikan 1% menurut jajak pendapat Reuters. Angka ini melanjutkan penurunan setelah revisi kontraksi 4,7% pada Juli.
Baca Juga
Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Singapura Q2-2025 Tumbuh 4,3% YoY
Enterprise Singapore melaporkan ekspor ke Indonesia, AS, dan Tiongkok melemah, sementara pengiriman ke Uni Eropa, Taiwan, dan Korea Selatan mencatat kenaikan.
Tekanan terbesar datang dari pasar AS, dengan ekspor Singapura jatuh 28,8% yoy pada Agustus, setelah anjlok 42,8% bulan sebelumnya.
Baca Juga
Perang Dagang Memanas, Trump Tandatangani Rencana Tarif Resiprokal Besar-Besaran
Pelemahan terjadi meskipun Singapura memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Washington. Negeri itu tetap dikenai tarif 10% oleh AS, memukul kinerja ekspor.
Otoritas memperingatkan perlambatan pada paruh kedua tahun ini setelah pertumbuhan lebih baik dari perkiraan di paruh pertama akibat percepatan produksi dan ekspor untuk mengantisipasi tarif.
“Ekspor kami ke negara lain yang kemudian diproses menjadi produk untuk pasar AS juga akan terkena dampak tarif lebih tinggi. Itu akan memperlambat permintaan dan menekan kinerja ekspor,” urai Menteri Perdagangan Gan Kim Yong, dikutip dari Reuters, Rabu (17/9/2025).
Enterprise Singapore menargetkan pertumbuhan ekspor non-migas 1–3% sepanjang 2025, namun mengakui adanya risiko penurunan.

